RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(RPP)
Nama Sekolah : SMK
Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia
Kelas / Semester : XI / 1
Alokasi Waktu : 6 x 40 menit
Standar Kompetensi : Berkomunikasi dengan Bahasa Indonesia setara tingkat Madia.
Kompetensi Dasar : Membaca untuk memahami makna kata, bentuk kata, ungkapan, dan kalimat dalam konteks bekerja
Indikator :
1. Mengelompokkan kata, bentuk kata, ungkapan, dan kalimat berdasar-kan kelas kata dan makna kata
2. Mendaftar kata-kata yang berpotensi memiliki sinonim dan antonim dalam teks bacaan
3. Mengidentifikasi kata (termasuk bentuk kata baru), frasa, kalimat yang dipersoalkan kebenaran/ketepatannya (diterima/ditolak) berdasarkan paradigma/analogi.
4. Mengidentifikasi kata (termasuk bentuk kata baru), frasa, kalimat yang dipersoalkan kebenaran/ketepatannya (diterima/ditolak) ber-dasarkan kaidah atau kelaziman
I. Tujuan Pembelajaran :
Setelah mengikuti proses pembelajaran siswa dapat:
1) mengelompokkan kata, bentuk kata, ungkapan, dan kalimat berdasarkan kelas kata dan makna kata
2) mendaftar kata-kata yang berpotensi memiliki sinonim dan antonim dalam teks bacaan
3) mengidentifikasi kata (termasuk bentuk kata baru), frasa, kalimat yang dipersoalkan kebenaran/ketepatannya (diterima/ditolak) berdasarkan paradigma/analogi.
4) mengidentifikasi kata (termasuk bentuk kata baru), frasa, kalimat yang dipersoalkan kebenaran/ketepatannya (diterima/ditolak) berdasarkan kaidah atau kelaziman
5) mengartikan makna kata sesuai dengan teks.
II. Meteri Pembelajaran:
1) infomasi mengenai hubungan antara makna kata, bentuk kata, dan pemakaian kata dalam konteks kerja
2) Peran dan maanfaat kamus dalam belajar bahasa dan dalam kehidupan berbahasa dan bernegara.
3) Proses pembentukan kata baru
4) Relasi makna (sinonim, dan antonim), ungkapan idiomatic dan bentuk kata
III. Metode Pembelajaran:
Metode Reseptif dan Produktif
Metode Komunikatif
IV. Langkah-langkah Pembelajaran:
A. Kegiatan Awal :
1) Salam, presensi
2) Siswa mendengarkan penjelasan guru mengulang pelajaran lalu dengan aktif menjawab pertanyaan yang disampaikan guru.
B. Kegiatan Inti :
1) Siswa disajikan aneka bentuk wacana untuk dipahami dan menindaklanjuti wacana tersebut.
2) Siswa mengidentifikasi kata, bentuk kata, ungkapan, dan kalimat berdasarkan kelas kata dan makna kata.
3) Siswa mendaftar kata-kata yang berpotensi memiliki sinonim dan antonim dalam teks bacaan
4) Siswa dapat mengartikan makna kata sesuai dengan teks.
5) Tanya jawab tentang kesulitan siswa
6) Siswa mengerjakan evaluasi.
C. Kegiatan Akhir :
1) Guru dan siswa menyimpulkan materi yang telah dipelajari.
2) Penegasan guru tentang pentingnya memahami kategori dan makna kata/ frasa/ungkapan dalam menghasilkan kalimat-kalimat yang berterima.
V. Alat / Bahan / Sumber Belajar:
- Alat : Chart, bagan
- Bahan : Contoh-contoh wacana
- Sumber Belajar : Modul Bahasa Indonesia Tk Madia, EYD, Tim Depdiknas,
Kamus Idiom, KBBI
VI. Penilaian:
Memberikan penguasaan materi yang diberikan dalam bentuk latihan individu dan resume pengamatan kelompok dengan proposi penilaian adalah :
• Latihan : 30 %
• Kerjasama : 25 %
• Keaktifan : 35 %
• Kehadiran : 10 %
Nama : Bryan Permana
No Reg : 1215106063
Senin, 03 Januari 2011
Resume Disnal
Pengertian Disain Pembelajaran
Raiser : bagi Raiser , disain pembelajaran berbentuk rangkaian prosedur sebagai suatu sistem untuk pengembangan progran pendidikan dan pelatihan dengan konsisten dan teruji. Disain pembelajaran juga sebagai proses yang rumit tetapi, kreatif dan berulang-ulang.
Dick,carey & carey 2005: Bahwa Penggunaan konsep pendekatan sistem sebagai landasan pemikiran suatu disain pembelajaran. Umumnya pendekatan sistem terdiri dari Analisis, Disain pengembangan,Implementasi, dan Evaluasi. Teori Belajar, Teori Evaluasi, dan Teori Pembelajaran merupakan teori yang melandasi disain pembelajaran.
Aliran Dalam Instructional
• Behaviorism – Konkrit: Tokoh, BF Skinner, Piaget. Ciri-ciri: perumusan belajar yang diwakili oleh “Sample”, perilaku tertentu, bersifat konkrit.
• Cognitivism – pola pemikiran terstruktur: Tokoh, Gagne, Reigulth. Teori belajar yang menekankan pola pikir terstruktur, beralur. Ada delapan tahap belajar. Contoh: angka 4 sering digambarkan sebagai kursi terbalik. Hal ini ditunjukan untuk mempermudah abstraksi.
• Constructivism – kemandirian pola (otak): kemampuan untuk berfikir, membangun konsep secara mandiri. Contoh: menemukan potensi diri dan mengembangkannya sendiri. Konstructivisme kembali muncul diera akhir 80-an.
• Sosial – Learning: belajar yang mengacu pada peningkatan potensi peserta didik berdasarkan adaptasi dengan lingkungan. Tokoh, Albert Bandura, Slavin. Contoh: Belajar bekerjasama dan mengatur dinamika dalam tim. Model: belajar kooperatif, leadership, Outbound program.
• Pembelajaran: faktor eksternal untuk mengembangkan proses belajar. Terkait dengan lingkungan fisik yang mengakomodasi proses belajar. Narasumber SDM yang berperan sebagai rujukan agar seseorang dapat belajar.
TEORI-TEORI PADA DISAIN PEMBELAJARAN
Teori yang paling menonjol pada disain pembelajaran :
Teori Belajar mengkaji kejadian belajar dalam diri seseorang.Bersifat Deskriptif lebih banyak membicarakan The Learner. Teori pembelajaran faktor eksternal yang memfasilitasi proses belajar. Bersifat Preskriptif. Lebih banyak membicarakan The Learning.
MODEL-MODEL DISAIN PEMBELAJARAN
beberapa diantaranya adalah : model dick and carey, model kemp,model assure, model addie,model hanfin and peck.
Ada satu model desain pembelajaran yang lebih sifatnya lebihgenerik yaitu model ADDIE (Analysis-Design-Develop-Implement-Evaluate). ADDIE muncul pada tahun 1990-an yang dikembangkan oleh Reiser dan Mollenda.Salah satu fungsinya ADIDE yaitu menjadi pedoman dalam membangun perangkat dan infrastrukturprogram pelatihan yang efektif, dinamis danmendukung kinerja pelatihan itu sendiri.
Model ini menggunakan 5 tahap pengembangan yakni :
1. Analysis (analisa)
2. Design (disain / perancangan)
3. Development (pengembangan)
4. Implementation (implementasi/eksekusi)
5. Evaluation (evaluasi/ umpan balik)
6. Ragam Pengetahuan
PARADIGMA PENDIDIKAN: Paradigma mengajar, paradigma belajar, paradigma pembelajaran, paradigma isi.
Nama : Bryan Permana
No Reg : 1215106063
Raiser : bagi Raiser , disain pembelajaran berbentuk rangkaian prosedur sebagai suatu sistem untuk pengembangan progran pendidikan dan pelatihan dengan konsisten dan teruji. Disain pembelajaran juga sebagai proses yang rumit tetapi, kreatif dan berulang-ulang.
Dick,carey & carey 2005: Bahwa Penggunaan konsep pendekatan sistem sebagai landasan pemikiran suatu disain pembelajaran. Umumnya pendekatan sistem terdiri dari Analisis, Disain pengembangan,Implementasi, dan Evaluasi. Teori Belajar, Teori Evaluasi, dan Teori Pembelajaran merupakan teori yang melandasi disain pembelajaran.
Aliran Dalam Instructional
• Behaviorism – Konkrit: Tokoh, BF Skinner, Piaget. Ciri-ciri: perumusan belajar yang diwakili oleh “Sample”, perilaku tertentu, bersifat konkrit.
• Cognitivism – pola pemikiran terstruktur: Tokoh, Gagne, Reigulth. Teori belajar yang menekankan pola pikir terstruktur, beralur. Ada delapan tahap belajar. Contoh: angka 4 sering digambarkan sebagai kursi terbalik. Hal ini ditunjukan untuk mempermudah abstraksi.
• Constructivism – kemandirian pola (otak): kemampuan untuk berfikir, membangun konsep secara mandiri. Contoh: menemukan potensi diri dan mengembangkannya sendiri. Konstructivisme kembali muncul diera akhir 80-an.
• Sosial – Learning: belajar yang mengacu pada peningkatan potensi peserta didik berdasarkan adaptasi dengan lingkungan. Tokoh, Albert Bandura, Slavin. Contoh: Belajar bekerjasama dan mengatur dinamika dalam tim. Model: belajar kooperatif, leadership, Outbound program.
• Pembelajaran: faktor eksternal untuk mengembangkan proses belajar. Terkait dengan lingkungan fisik yang mengakomodasi proses belajar. Narasumber SDM yang berperan sebagai rujukan agar seseorang dapat belajar.
TEORI-TEORI PADA DISAIN PEMBELAJARAN
Teori yang paling menonjol pada disain pembelajaran :
Teori Belajar mengkaji kejadian belajar dalam diri seseorang.Bersifat Deskriptif lebih banyak membicarakan The Learner. Teori pembelajaran faktor eksternal yang memfasilitasi proses belajar. Bersifat Preskriptif. Lebih banyak membicarakan The Learning.
MODEL-MODEL DISAIN PEMBELAJARAN
beberapa diantaranya adalah : model dick and carey, model kemp,model assure, model addie,model hanfin and peck.
Ada satu model desain pembelajaran yang lebih sifatnya lebihgenerik yaitu model ADDIE (Analysis-Design-Develop-Implement-Evaluate). ADDIE muncul pada tahun 1990-an yang dikembangkan oleh Reiser dan Mollenda.Salah satu fungsinya ADIDE yaitu menjadi pedoman dalam membangun perangkat dan infrastrukturprogram pelatihan yang efektif, dinamis danmendukung kinerja pelatihan itu sendiri.
Model ini menggunakan 5 tahap pengembangan yakni :
1. Analysis (analisa)
2. Design (disain / perancangan)
3. Development (pengembangan)
4. Implementation (implementasi/eksekusi)
5. Evaluation (evaluasi/ umpan balik)
6. Ragam Pengetahuan
PARADIGMA PENDIDIKAN: Paradigma mengajar, paradigma belajar, paradigma pembelajaran, paradigma isi.
Nama : Bryan Permana
No Reg : 1215106063
Minggu, 26 Desember 2010
PELATIHAN PENGEMBANGAN DAN PEMANFAATAN KONTEN JARDIKNAS Tingkat Nasional Tahun 2010
Modul 5 akan mengajak peserta pelatihan untuk memahami Strategi Pembelajaran Berbasis TIK. Setelah mengikuti pelatihan dengan menggunakan modul 5, diharapkan peserta pelatihan akan memahami tentang perbandingan model pembelajaran konvensional dan pembelajaran berbasis TIK, model pembelajaran berbasis TIK, langkah-langkah pengembangan pembelajaran berbasis TIK, serta kondisi prasarat untuk mengambangkan pembelajaran berbasis TIK.
Modul ini dirancang untuk disajikan dalam waktu 2 x 45 menit. Pada saat pelatihan, diupayakan semua peserta terlibat dalam membahas dan mendalami modul ini. Diskusi yang diselenggarakan bisa melalui eksplorasi pengalaman peserta, memberikan masukan, dan/atau menyajikan pengetahuan/teori/paktek dari berbagai sumber yang telah dimiliki peserta. Tutor lebih banyak bertindak sebagai fasilitator. Hargai setiap pendapat yang disampaikan peserta. Setiap sub topik yang dibahas, disimpulkan sehingga menjadi kesepakatan bersama.
KEGIATAN BELAJAR 1
PEMBELAJARAN YANG IDEAL
Berikut ini adalah beberapa kasus yang diangkat dari temuan di lapangan dalam proses pembelajaran di dalam kelas .
Kasus 1:
Seorang guru merenung. Dia merasa bahwa sudah segala daya, upaya, dan tenaga dikerahkan, tetapi siswanya masih belum nampak terlibat dalam proses pembelajaran yang sedang berlangsung. Guru sudah berapi-api mengajar, suara sudah sekeras mungkin dikeluarkan, tulisan di papan tulis pun selain sudah jelas juga besar. Dia merasa bahwa perjuangan tersebut sia-sia, karena beberapa siswa matanya lebih banyak melihat ke luar jendela kelas, siswa lain sibuk mengobrol dengan teman sebangkunya, yang lainnya nampak berulang-ulang melihat jam seperti ingin mempercepat berjalannya waktu. Secara umum, pembelajaran yang diselenggarakan guru tidak menarik bagi siswa.
Kasus 2:
Seorang siswa menyanggah teori yang baru saja disampaikan gurunya dalam pembelajaran dalam kelas. Guru dan siswa saling beradu argumentasi, kedua-duanya saling mempertahankan pemahaman yang mereka miliki. Masing-masing tidak dapat menjelaskan kebenaran dalam kekiniannya. Sampai dengan berakhirnya pembelajaran, tidak ada kesepakatan yang dapat diambil.
Kasus 3:
Sesaat akan dimulainya pembelajaran, siswa menampilkan mimik ketidaksabaran untuk segera mengikuti proses pembelajaran. Siswa menampilkan kesan seolah-olah menanti sebuah pertunjukkan spektakuler dari seseorang yang diidolakan. Kelas terasa hangat. Begitu pembelajaran dimulai, Guru tampil dengan senyum yang segar, mulai membuka pertunjukkan. Pada bagian pembukaan pembelajaran, Guru menyajikan stimulus yang dikemas sedimikian rupa sehingga memunculkan rangsangan response luar biasa pada diri siswa. Siswa aktif dan kreatif dalam mencari pengetahuan yang hanya diarahkan guru. Siswa seolah-olah yang memegang kendali pembelajaran. Siswa merasa bahwa dia sangat butuh dan ingin menuntaskan kepenasaran dari stimulus yang diberikan guru. Akibatnya, guru tidak perlu bersusah payah menghabiskan tenaga. Guru hanya mengarahkan, melayani pertanyaan, serta menjadi pemberi kemudahan bagi siswa (fasilitator). Pada saat terdengar bel tanda berakhirnya pembelajaran, terdengar suara siswa yang menyayangkan waktu terlalu cepat berlalu. Terasa aroma pembelajaran yang bermakna, dialogis, dinamis, serta bermuara pada pembelajaran yang menyenangkan.
Diskusikan antar peserta :
1. Apa pandangan peserta terhadap setiap kasus tersebut?
2. Manakah diantara kasus tersebut yang pernah dialami?
3. Kasus manakah yang paling ideal terjadi dalam pembelajaran?
4. Bagaimanakah upaya agar pembelajaran ideal tersebut dapat terjadi?
Diharapkan peserta tidak setuju dengan kasus 1 dan kasus 2, dengan pembelajaran yang satu arah, guru mendominasi pembelajaran, guru sebagai pusat pembelajaran, guru sebagai satu-satunya sumber ilmu, tidak ada media pedukung (hanya teori), siswa pasif, siswa bosan, pembelajaran tidak menyenangkan, pembelajaran tidak bermakna, hasil pembelajaran tidak membanggakan.
Diharapkan peserta setuju dan mengidam-idamkan kasus 3. Pembelajaran yang ideal. Guru tidak lagi mendominasi pembelajaran, siswa sebagai subjek pembelajaran, guru kreatif dan inovatif dalam merencanakan pembelajaran, pembeajaran berorientasi kepada kehidupan nyata tidak hanya kepada buku.
Jika dilihat dari perkembangan media yang digunakan dalam pembelajaran di dalam kelas, dapat diurutkan bahwa pembelajaran formal dimulai dari masa blackboard, whiteboard, keyboard, dan akhir-akhir ini telah banyak yang mengembangkan virtualboard. Hal ini dapat dilihat dalam cuplikan film (salah satu) yang dapat diunduh dari YouTube dengan judul MIT Sketching.
Dalam film tersebut Nampak seorang guru dapat mengajar dengan dinamika dan media yang mengarah kepada realistis. Guru menggambarkan objek dipapan tulis (whiteboard) tetapi objek yang digambarkan guru dapat dikendalikan (dihidupkan). Akibatnya, siswa tidak hanya mendapatkan cerita belaka tetapi dapat melihat secara nyata.
Cerita tentang perubahan media pembelajaran dari blackboard hingga virtualboard, dapat dipertegas dengan menampilkan video dari sebuah produsen handphone yang bercerita tentang dunia komunikasi digital yang semakin canggih. Seorang Ibu Guru menjelaskan materi di Jepang dengan menggunakan virtualboard, seorang siswi berkomunikasi dengan Ibunya menggunakan fasilitas ViCon dengan HandPhone.
Agar peserta lebih menyadari bahwa jika belum mulai menggunakan media sebagai alat bantu pembelajaran (sementara di dunia luar telah terjadi perkembangan digital yang semakin canggih), dapat pula disajikan film dari Microsoft tentang Surfacing Computer. Sebuah media computer yang tidak lagi menggunakan keyboard dan layar monitor, melainkan sebuah meja menjadi screentouch sekaligus monitor.
Pembelajaran tidak hanya diselenggarakan di dalam ruang kelas dan pada jam belajar formal. Tidak sedikit pula guru yang telah menyelenggarakan pembelajaran yang tidak hanya dibatasi ruang dan waktu (Modul 1). Sebelum atau setelah pembelajaran di dalam kelas diselenggarakan, guru telah/akan menugaskan kepada siswa untuk mencari berbagai sumber ilmu dengan berbagai cara/media sesuai dengan perkembangan teknologi digital.
Diskusikan antar peserta :
1. Seberapa pentingkah media pembelajaran dibutuhkan dalam menunjang pembelajaran?
2. Media seperti apakah yang paling ideal digunakan dalam pembelajaran?
3. Media apa yang dibutuhkan agar pembelajaran yang dilakukan siswa dapat berlangsung tanpa dibatasi ruang dan waktu?
4. Sesering apakah peserta menggunakan media pembelajaran berbasis TIK?
5. Pernahkan peserta menyelenggarakan pembelajaran tanpa dibatasi ruang dan waktu? Seperti apa yang sudah dilakukan peserta dalam menyelenggarakan pembelajaran yang tidak hanya diselenggarakan di dalam kelas saja?
Paltimer (1991) membandingkan pembelajaran kalkulus yang menggunakan computer dengan pembelajaran konvensional menujukkan bahwa hasil pembelajaran berbasis komputer lebih baik daripada pembelajaran konvensional. Tetapi, tidak setiap pembelajaran harus diselenggarakan melalui pembelajaran berbasis TIK. Beberapa kegiatan pembelajaran masih harus diselenggarakan dengan pembelajaran konvensional.
Diskusikan perbandingan kekuatan (strength) antara pembelajaran konvensional dengan pembelajaran berbasis TIK:
Pembelajaran konvensional Pembelajaran berbasis TIK
- Murah - Bisa menvisualisasikan peristiwa yang
berbahaya, sulit di praktekkan
- Mudah dilaksanakan - Fleksibel (tdk terbatas ruang dan waktu)
- Interaksi antara guru dan siswa lebih cepat
Diskusikan perbandingan kelemahan (weaknesses) antara pembelajaran konvensional dengan pembelajaran berbasis TIK:
Pembelajaran konvensional Pembelajaran berbasis TIK
Kurang bisa mengakomodasi kecepatan belajar siswa Mahal dalam penyiapan infra struktur
Koneksititas jaringan
Peserta menuliskan di kertas karton yang sudah ditempel dan memuat table tersebut. Peserta berdiskusi, mana yang disetujui sebagai hal benar tentang kekuatan dan kelemahan perbedaan antara pembelajaran konvensional dengan pembelajaran berbasis TIK. Jika ada isian yang sama pengertiannya, dirangkumkan menjadi satu pernyataan.
Model Pembelajaran Berbasis TIK:
Teori belajar behaviorisme berpandangan bahwa proses pembelajaran terjadi sebagai hasil pengajaran yang disampaikan guru melalui atau dengan bantuan media (alat). Sedangkan teori belajar konstruktivisme berpandangan bahwa media digunakan sebagai sesuatu yang memberikan kemungkinan siswa secara aktif mengkonstruksi pengetahuan. Kozma (1991) menyatakan bahwa media dapat dibedakan dari teknologi (mekanik, elektronik, bentk fisik), sistem simbolik (karakter alpha-numerik, objek, gambar, suara) serta sarana yang digunakan (radio, video, komputer, buku).
Peserta dibagi kertas yang berisi pertanyaan-perntanyaan di bawah ini. Peserta memberikan respon pada kertas yang dibagikan. Setelah selesai, peserta dapat membacakan respon masing-masing. Setelah selesai, seluruh peserta diajak untuk menarik kesimpulan atas pertanyaan-pertanyaan tersebut.
Diskusikan antar peserta:
1. Apa pengertian BELAJAR yang Anda ketahui?
2. Teori belajar apa yang pernah Anda ketahui dan pahami?
3. Sebutkan gaya belajar yang Anda ketahui.
4. Adakah hububungan antara kebutuhan media pembelajaran dengan proses pembelajaran dalam meningkatkan mutu hasil belajar?
5. Jika Anda mempunyai kemampuan dalam mengembangkan media pembelajaran berbasis komputer, aspek apa saja yang harus menjadi bahan pertimbangan (persyaratan) dalam pengembangan media pembelajaran yang baik?
6. Jelaskan model pembelajaran berbasis TIK yang Anda ketahui?
7. Pada saat Anda akan mengembangkan media pembelajaran, bagaimanakah urutan proses yang Anda tempuh dalam mengembangkan media pembelajaran hingga siap digunakan?
Kondisi Prasyarat
Banyak siswa merasa mudah memproses informasi yang berbentuk visual, sementara siswa lainnya merasa mudah bila ada suara, tetapi ada pula sebagian siswa yang merasa mudah apabila sumber informasi disajikan dalam bentuk teks (Anderson, 1981).
Pada dasarnya, pembelajaran diselenggarakan dengan harapan agar siswa mampu menangkap/menerima, memproses, menyimpan, serta mengeluarkan informasi yang telah diolahnya. Gardner (1983) mengemukakan bahwa kemampuan memproses informasi itu dalam bentuk tujuh kecerdasan, yaitu (1) logis-matematis, (2) spasial, (3) linguistik, (4) kinestetik-keperagaan, (5) musik, (6) interpersonal, dan (7) intrapersonal. Media yang dapat mengakomodir persyaratan-persyaratan tersebut adalah komputer. Komputer mampu menyajikan informasi yang dapat berbentuk video, audio, teks, grafik dan animasi (simulasi).
Disisi lain, guru memerlukan kemampuan khusus dalam menyelenggarakan pembelajaran berbasis TIK. Selain kemampuan, perlu pula disiapkan perangkat pendukung kegiatan pembelajaran berbasis TIK.
Diskusikan antar peserta :
Dipandang dari berbagai sisi, prasyarat apa saja yang diperlukan untuk penyelenggaraan pembelajaran berbasis TIK?
Diharapkan akan diperoleh kesepakatan tentang :
1. SDM (guru)
2. Perangkat (hardware/software/Silabus/RPP)
3. Kebijakan yang mendukung terselenggaranya kegiatan pembelajaran berbasis TIK
KEGIATAN BELAJAR 2
1. Eksplorasi pengalaman peserta yang telah menyelenggarakan pembelajaran berbasis TIK
2. Diskusi identifikasi berbagai strategi pembelajaran berbasis TIK
3. Pemodelan strategi pembelajaran berbasis TIK
4. Merancang strategi pembelajaran berbasis TIK
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penyusunan strategi Pembelajaran berbasis TIK
1. SDM
2. Infrastruktur
3. Kebijakan
Strategi pembelajaran meliputi :
• Tahap Persiapan ( Analisis kurikulum, Analisis kebutuhan, Desain )
• Tahap Pembelajaran ( Klasikal, Kelompok. Individual)
• Tahap Evaluasi
Diharapkan tersusun beberapa strategi pembelajaran berbasis TIK yang disesuaikan dengan kondisi sekolah
PENUTUP
Komputer sebagai sarana interaktif dapat digunakan sebagai alternative bentuk pembelajaran terprogram (Programmed Instruction) yang dilandasi hukum akibat (Law of Effect). Dalam hukum akibat, asumsi yang diyakini adalah tingkah laku yang didasari rasa senang akan merangsang untuk dilakukan serta dikerjakan secara berulang-ulang (S-R).
Sangat banyak pakar pendidikan yang melakukan penelitian dan berkesimpulan ke arah positifnya pemanfaatan komputer sebagai media bantu pembelajaran. Arnold (1992) menyatakan para guru masih dihadapkan pada suatu ironi bahwa meskipun komputer merupakan media sangat potensial pada proses pembelajaran, akan tetapi masih sedikit yang mau dan mampu menggunakannya. Ketidakmauan dan/atau ketidakmapuan tersebut disebabkan berbagai factor, baik internal (diri guru sendiri) maupun factor eksternal (fasilitas dan kebijakan).
Poin penting yang diharapkan muncul dalam kesimpulan yang ditarik oleh para peserta dan fasilitator adalah :
1. Pembelajaran berbasis TIK sudah saatnya mulai dikembangkan dan digunakan dalam proses pembelajaran.
2. Model pembelajaran yang mendukung kepada pelaksanaan pembelajaran berbasis TIK.
3. Langkah-langkah yang harus ditempuh dalam persiapan, pelaksanaan sampai dengan evaluasi pembelajaran berbasis TIK.
4. Kondisi prasayarat yang harus tersedia agar proses pembelajaran berbasis TIK dapat berjalan.
Modul ini dirancang untuk disajikan dalam waktu 2 x 45 menit. Pada saat pelatihan, diupayakan semua peserta terlibat dalam membahas dan mendalami modul ini. Diskusi yang diselenggarakan bisa melalui eksplorasi pengalaman peserta, memberikan masukan, dan/atau menyajikan pengetahuan/teori/paktek dari berbagai sumber yang telah dimiliki peserta. Tutor lebih banyak bertindak sebagai fasilitator. Hargai setiap pendapat yang disampaikan peserta. Setiap sub topik yang dibahas, disimpulkan sehingga menjadi kesepakatan bersama.
KEGIATAN BELAJAR 1
PEMBELAJARAN YANG IDEAL
Berikut ini adalah beberapa kasus yang diangkat dari temuan di lapangan dalam proses pembelajaran di dalam kelas .
Kasus 1:
Seorang guru merenung. Dia merasa bahwa sudah segala daya, upaya, dan tenaga dikerahkan, tetapi siswanya masih belum nampak terlibat dalam proses pembelajaran yang sedang berlangsung. Guru sudah berapi-api mengajar, suara sudah sekeras mungkin dikeluarkan, tulisan di papan tulis pun selain sudah jelas juga besar. Dia merasa bahwa perjuangan tersebut sia-sia, karena beberapa siswa matanya lebih banyak melihat ke luar jendela kelas, siswa lain sibuk mengobrol dengan teman sebangkunya, yang lainnya nampak berulang-ulang melihat jam seperti ingin mempercepat berjalannya waktu. Secara umum, pembelajaran yang diselenggarakan guru tidak menarik bagi siswa.
Kasus 2:
Seorang siswa menyanggah teori yang baru saja disampaikan gurunya dalam pembelajaran dalam kelas. Guru dan siswa saling beradu argumentasi, kedua-duanya saling mempertahankan pemahaman yang mereka miliki. Masing-masing tidak dapat menjelaskan kebenaran dalam kekiniannya. Sampai dengan berakhirnya pembelajaran, tidak ada kesepakatan yang dapat diambil.
Kasus 3:
Sesaat akan dimulainya pembelajaran, siswa menampilkan mimik ketidaksabaran untuk segera mengikuti proses pembelajaran. Siswa menampilkan kesan seolah-olah menanti sebuah pertunjukkan spektakuler dari seseorang yang diidolakan. Kelas terasa hangat. Begitu pembelajaran dimulai, Guru tampil dengan senyum yang segar, mulai membuka pertunjukkan. Pada bagian pembukaan pembelajaran, Guru menyajikan stimulus yang dikemas sedimikian rupa sehingga memunculkan rangsangan response luar biasa pada diri siswa. Siswa aktif dan kreatif dalam mencari pengetahuan yang hanya diarahkan guru. Siswa seolah-olah yang memegang kendali pembelajaran. Siswa merasa bahwa dia sangat butuh dan ingin menuntaskan kepenasaran dari stimulus yang diberikan guru. Akibatnya, guru tidak perlu bersusah payah menghabiskan tenaga. Guru hanya mengarahkan, melayani pertanyaan, serta menjadi pemberi kemudahan bagi siswa (fasilitator). Pada saat terdengar bel tanda berakhirnya pembelajaran, terdengar suara siswa yang menyayangkan waktu terlalu cepat berlalu. Terasa aroma pembelajaran yang bermakna, dialogis, dinamis, serta bermuara pada pembelajaran yang menyenangkan.
Diskusikan antar peserta :
1. Apa pandangan peserta terhadap setiap kasus tersebut?
2. Manakah diantara kasus tersebut yang pernah dialami?
3. Kasus manakah yang paling ideal terjadi dalam pembelajaran?
4. Bagaimanakah upaya agar pembelajaran ideal tersebut dapat terjadi?
Diharapkan peserta tidak setuju dengan kasus 1 dan kasus 2, dengan pembelajaran yang satu arah, guru mendominasi pembelajaran, guru sebagai pusat pembelajaran, guru sebagai satu-satunya sumber ilmu, tidak ada media pedukung (hanya teori), siswa pasif, siswa bosan, pembelajaran tidak menyenangkan, pembelajaran tidak bermakna, hasil pembelajaran tidak membanggakan.
Diharapkan peserta setuju dan mengidam-idamkan kasus 3. Pembelajaran yang ideal. Guru tidak lagi mendominasi pembelajaran, siswa sebagai subjek pembelajaran, guru kreatif dan inovatif dalam merencanakan pembelajaran, pembeajaran berorientasi kepada kehidupan nyata tidak hanya kepada buku.
Jika dilihat dari perkembangan media yang digunakan dalam pembelajaran di dalam kelas, dapat diurutkan bahwa pembelajaran formal dimulai dari masa blackboard, whiteboard, keyboard, dan akhir-akhir ini telah banyak yang mengembangkan virtualboard. Hal ini dapat dilihat dalam cuplikan film (salah satu) yang dapat diunduh dari YouTube dengan judul MIT Sketching.
Dalam film tersebut Nampak seorang guru dapat mengajar dengan dinamika dan media yang mengarah kepada realistis. Guru menggambarkan objek dipapan tulis (whiteboard) tetapi objek yang digambarkan guru dapat dikendalikan (dihidupkan). Akibatnya, siswa tidak hanya mendapatkan cerita belaka tetapi dapat melihat secara nyata.
Cerita tentang perubahan media pembelajaran dari blackboard hingga virtualboard, dapat dipertegas dengan menampilkan video dari sebuah produsen handphone yang bercerita tentang dunia komunikasi digital yang semakin canggih. Seorang Ibu Guru menjelaskan materi di Jepang dengan menggunakan virtualboard, seorang siswi berkomunikasi dengan Ibunya menggunakan fasilitas ViCon dengan HandPhone.
Agar peserta lebih menyadari bahwa jika belum mulai menggunakan media sebagai alat bantu pembelajaran (sementara di dunia luar telah terjadi perkembangan digital yang semakin canggih), dapat pula disajikan film dari Microsoft tentang Surfacing Computer. Sebuah media computer yang tidak lagi menggunakan keyboard dan layar monitor, melainkan sebuah meja menjadi screentouch sekaligus monitor.
Pembelajaran tidak hanya diselenggarakan di dalam ruang kelas dan pada jam belajar formal. Tidak sedikit pula guru yang telah menyelenggarakan pembelajaran yang tidak hanya dibatasi ruang dan waktu (Modul 1). Sebelum atau setelah pembelajaran di dalam kelas diselenggarakan, guru telah/akan menugaskan kepada siswa untuk mencari berbagai sumber ilmu dengan berbagai cara/media sesuai dengan perkembangan teknologi digital.
Diskusikan antar peserta :
1. Seberapa pentingkah media pembelajaran dibutuhkan dalam menunjang pembelajaran?
2. Media seperti apakah yang paling ideal digunakan dalam pembelajaran?
3. Media apa yang dibutuhkan agar pembelajaran yang dilakukan siswa dapat berlangsung tanpa dibatasi ruang dan waktu?
4. Sesering apakah peserta menggunakan media pembelajaran berbasis TIK?
5. Pernahkan peserta menyelenggarakan pembelajaran tanpa dibatasi ruang dan waktu? Seperti apa yang sudah dilakukan peserta dalam menyelenggarakan pembelajaran yang tidak hanya diselenggarakan di dalam kelas saja?
Paltimer (1991) membandingkan pembelajaran kalkulus yang menggunakan computer dengan pembelajaran konvensional menujukkan bahwa hasil pembelajaran berbasis komputer lebih baik daripada pembelajaran konvensional. Tetapi, tidak setiap pembelajaran harus diselenggarakan melalui pembelajaran berbasis TIK. Beberapa kegiatan pembelajaran masih harus diselenggarakan dengan pembelajaran konvensional.
Diskusikan perbandingan kekuatan (strength) antara pembelajaran konvensional dengan pembelajaran berbasis TIK:
Pembelajaran konvensional Pembelajaran berbasis TIK
- Murah - Bisa menvisualisasikan peristiwa yang
berbahaya, sulit di praktekkan
- Mudah dilaksanakan - Fleksibel (tdk terbatas ruang dan waktu)
- Interaksi antara guru dan siswa lebih cepat
Diskusikan perbandingan kelemahan (weaknesses) antara pembelajaran konvensional dengan pembelajaran berbasis TIK:
Pembelajaran konvensional Pembelajaran berbasis TIK
Kurang bisa mengakomodasi kecepatan belajar siswa Mahal dalam penyiapan infra struktur
Koneksititas jaringan
Peserta menuliskan di kertas karton yang sudah ditempel dan memuat table tersebut. Peserta berdiskusi, mana yang disetujui sebagai hal benar tentang kekuatan dan kelemahan perbedaan antara pembelajaran konvensional dengan pembelajaran berbasis TIK. Jika ada isian yang sama pengertiannya, dirangkumkan menjadi satu pernyataan.
Model Pembelajaran Berbasis TIK:
Teori belajar behaviorisme berpandangan bahwa proses pembelajaran terjadi sebagai hasil pengajaran yang disampaikan guru melalui atau dengan bantuan media (alat). Sedangkan teori belajar konstruktivisme berpandangan bahwa media digunakan sebagai sesuatu yang memberikan kemungkinan siswa secara aktif mengkonstruksi pengetahuan. Kozma (1991) menyatakan bahwa media dapat dibedakan dari teknologi (mekanik, elektronik, bentk fisik), sistem simbolik (karakter alpha-numerik, objek, gambar, suara) serta sarana yang digunakan (radio, video, komputer, buku).
Peserta dibagi kertas yang berisi pertanyaan-perntanyaan di bawah ini. Peserta memberikan respon pada kertas yang dibagikan. Setelah selesai, peserta dapat membacakan respon masing-masing. Setelah selesai, seluruh peserta diajak untuk menarik kesimpulan atas pertanyaan-pertanyaan tersebut.
Diskusikan antar peserta:
1. Apa pengertian BELAJAR yang Anda ketahui?
2. Teori belajar apa yang pernah Anda ketahui dan pahami?
3. Sebutkan gaya belajar yang Anda ketahui.
4. Adakah hububungan antara kebutuhan media pembelajaran dengan proses pembelajaran dalam meningkatkan mutu hasil belajar?
5. Jika Anda mempunyai kemampuan dalam mengembangkan media pembelajaran berbasis komputer, aspek apa saja yang harus menjadi bahan pertimbangan (persyaratan) dalam pengembangan media pembelajaran yang baik?
6. Jelaskan model pembelajaran berbasis TIK yang Anda ketahui?
7. Pada saat Anda akan mengembangkan media pembelajaran, bagaimanakah urutan proses yang Anda tempuh dalam mengembangkan media pembelajaran hingga siap digunakan?
Kondisi Prasyarat
Banyak siswa merasa mudah memproses informasi yang berbentuk visual, sementara siswa lainnya merasa mudah bila ada suara, tetapi ada pula sebagian siswa yang merasa mudah apabila sumber informasi disajikan dalam bentuk teks (Anderson, 1981).
Pada dasarnya, pembelajaran diselenggarakan dengan harapan agar siswa mampu menangkap/menerima, memproses, menyimpan, serta mengeluarkan informasi yang telah diolahnya. Gardner (1983) mengemukakan bahwa kemampuan memproses informasi itu dalam bentuk tujuh kecerdasan, yaitu (1) logis-matematis, (2) spasial, (3) linguistik, (4) kinestetik-keperagaan, (5) musik, (6) interpersonal, dan (7) intrapersonal. Media yang dapat mengakomodir persyaratan-persyaratan tersebut adalah komputer. Komputer mampu menyajikan informasi yang dapat berbentuk video, audio, teks, grafik dan animasi (simulasi).
Disisi lain, guru memerlukan kemampuan khusus dalam menyelenggarakan pembelajaran berbasis TIK. Selain kemampuan, perlu pula disiapkan perangkat pendukung kegiatan pembelajaran berbasis TIK.
Diskusikan antar peserta :
Dipandang dari berbagai sisi, prasyarat apa saja yang diperlukan untuk penyelenggaraan pembelajaran berbasis TIK?
Diharapkan akan diperoleh kesepakatan tentang :
1. SDM (guru)
2. Perangkat (hardware/software/Silabus/RPP)
3. Kebijakan yang mendukung terselenggaranya kegiatan pembelajaran berbasis TIK
KEGIATAN BELAJAR 2
1. Eksplorasi pengalaman peserta yang telah menyelenggarakan pembelajaran berbasis TIK
2. Diskusi identifikasi berbagai strategi pembelajaran berbasis TIK
3. Pemodelan strategi pembelajaran berbasis TIK
4. Merancang strategi pembelajaran berbasis TIK
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penyusunan strategi Pembelajaran berbasis TIK
1. SDM
2. Infrastruktur
3. Kebijakan
Strategi pembelajaran meliputi :
• Tahap Persiapan ( Analisis kurikulum, Analisis kebutuhan, Desain )
• Tahap Pembelajaran ( Klasikal, Kelompok. Individual)
• Tahap Evaluasi
Diharapkan tersusun beberapa strategi pembelajaran berbasis TIK yang disesuaikan dengan kondisi sekolah
PENUTUP
Komputer sebagai sarana interaktif dapat digunakan sebagai alternative bentuk pembelajaran terprogram (Programmed Instruction) yang dilandasi hukum akibat (Law of Effect). Dalam hukum akibat, asumsi yang diyakini adalah tingkah laku yang didasari rasa senang akan merangsang untuk dilakukan serta dikerjakan secara berulang-ulang (S-R).
Sangat banyak pakar pendidikan yang melakukan penelitian dan berkesimpulan ke arah positifnya pemanfaatan komputer sebagai media bantu pembelajaran. Arnold (1992) menyatakan para guru masih dihadapkan pada suatu ironi bahwa meskipun komputer merupakan media sangat potensial pada proses pembelajaran, akan tetapi masih sedikit yang mau dan mampu menggunakannya. Ketidakmauan dan/atau ketidakmapuan tersebut disebabkan berbagai factor, baik internal (diri guru sendiri) maupun factor eksternal (fasilitas dan kebijakan).
Poin penting yang diharapkan muncul dalam kesimpulan yang ditarik oleh para peserta dan fasilitator adalah :
1. Pembelajaran berbasis TIK sudah saatnya mulai dikembangkan dan digunakan dalam proses pembelajaran.
2. Model pembelajaran yang mendukung kepada pelaksanaan pembelajaran berbasis TIK.
3. Langkah-langkah yang harus ditempuh dalam persiapan, pelaksanaan sampai dengan evaluasi pembelajaran berbasis TIK.
4. Kondisi prasayarat yang harus tersedia agar proses pembelajaran berbasis TIK dapat berjalan.
PENDIDIKAN JARAK JAUH
LATAR BELAKANG MASALAH
UUD 1945 mengamanatkan pentingnya pendidikan bagi seluruh warga negara seperti tertuang di dalam pasal 28B ayat 1 bahwa setiap orang berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya, berhak mendapatkan pendidikan dan mendapatkan manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya demi meningkatkan kualitas hidupnya demi kesejahteraan umat manusia dan pasal 31 ayat 1 bahwa setiap warga negara berhak mendapat pendidikan.
Pendidikan merupakan kebutuhan sekaligus hak dasar bagi setiap warga negara, tanpa membedakan golongan, gender, usia, status sosial maupun tempat tinggal. Artinya setiap orang mempunyai hak untuk memperoleh layanan pendidikan. Kalau sampai tidak mendapatkan kesempatan karena berbagai kendala, adalah kewajiban pemerintah untuk mencari sistem pendidikan yang tepat yang dapat melayani mereka. Sistem pendidikan jarak jauh merupakan alternatif yang dapat memberikan layanan kepada setiap orang untuk mendapatkan pendidikan.
Selain itu kondisi geografis Indonesia yang memiliki luas wilayah sekitar 7 juta kilometer persegi, terdiri dari 17.459 pulau besar dan kecil serta kawasan laut yang luas ( lebih luas daripada wilayah daratan ). Sedangkan kondisi demografisnya penduduk Indonesia sekarang sekitar 220 juta jiwa terdiri atas beragam suku, agama, adat istiadat dan budaya yang 70% diantaranya menempati wilayah pedesaan dengan wilayah terpadat di pulau Jawa, Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, Bali, dan semakin ke timur semakin jarang penduduknya.
Mengingat tidak semua kebutuhan akan pendidikan dapat di penuhi dengan cara – cara yang konvensional. Di sisi yang lain adanya berbagai karakteristik sasaran didik, kondisi sosial-ekonomi-budaya dan geografis tidak mungkin pula memberikan pendidikan kepada seluruh orang dengan cara lama, maka perlu dikembangkan alternatif pendidikan yang dapat memberikan layanan pendidikan tersebut melalui Pendidikan Jarak Jauh (PJJ).
Ada beberapa pertimbangan yang melatarbelakangi penyelenggaraan PJJ, yaitu kondisi geografis, pertumbuhan dan persebaran penduduk, tantangan globalisasi, peningkatan kualitas sumber daya manusia, dan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. PJJ bertujuan untuk menyediakan akses pendidikan seluas – luasnya bagi peserta didik karena kendala ekonomi, faktor geografis, dan sosila budaya. Jadi PJJ mempunyai potensi yang besar sekali untuk mendukung upaya pendidikan berkelanjutan dan pendidikan sepanjang hayat. Sifatnya yang fleksibel memungkinkan peserta didik dapat mengikuti pendidikan kapan saja dan dimana saja.
PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN JARAK JAUH
1. Pengertian Pendidikan Jarak Jauh
Sistem Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) menurut sadirman, dkk (1996:13) memiliki berbagai macam bentuk dengan berbagai macam sebutan, seperti pendidikan terbuka, pendidikan mandiri, pendidikan bermedia, pendidikan terkemas, pendidikan arah diri (self directed education), pendidikan bebas (independent study), pendidikan laju diri (self paced education), pendidikan korespodensi, dan berbagai istilah lainnya. Sekarang kita mengenal istilah pembelajaran dengan luwes (flexible learning), pembelajaran elektronik, pembelajaran digital, pembelajaran digital, pembelajaran berjaringan, pembelajaran maya dan sebagainya.
Pengertian PJJ menurut Miarso (2003:304) adalah pendidikan terbuka dengan program belajar yang terstruktur relatif ketat dan pola pembelajaran yang berlangsung tanpa tatap muka atau keterpisahan antara guru dengan peserta didik.
Menurut Seijadi (2005:1) PJJ adalah jenis pendidikan di mana peserta didik berjarak jauh dengan pendidik, sehingga pendidikan tidak dapat di lakukan dengan cara tatap muka. Maka pennyajian materi pembelajaran kepada peserta didik harus melalui media.
Menurut UU nomor 20 Tahun 2003 tentang sistem Pendidikan Nasional, Pasal 1 ayat 15 dijelaskan bahwa PJJ adalah pendidikan yang peserta didiknya terpisah dari pendidik dan pembelajarannya menggunakan berbagai sumber belajar melalui tekologi informasi dan komunikasi dan media lainnya.
Menurut Keegan (1984) dalam A.P. Hardhono (2002) karakteristik PJJ adalah sebagai berikut :
1.) Ada keterpisahan yang mendekati permanen antara tenaga pengajar dari peserta didik selama program pendidikan.
2.) Ada keterpisahan yang mendekati permanen antara perseorangan peserta didik dari peserta didik lain selama program pendidikan.
3.) Ada suatu institusi yang mengelola program pendidikan.
4.) Pemanfaatan sarana komunikasi baik mekanis maupun elektronis untuk menyampaikan bahan ajar.
5.) Penyediaan sarana komunikasi dua arah sehingga peserta didik dapat mengambil inisiatif dialog dan mengambil manfaatnya.
Adapun ciri khas utama PJJ, yaitu :
1.) Adanya jarak yang jauh antara pendidik dengan peserta didik
2.) Individualisasi dan kemandirian dalam belajar.
3.) Adanya bahan belajar yang biasanya di kembangkan sendiri oleh lembaga penyelenggara PJJ.
4.) Penggunaan berbagai media pembelajaran.
5.) Adanya bantuan belajar yang berupa tutorial dan bantuan belajar lainnya yang terbatas.
6.) Adanya proses industrialisasi dalam pengembangan, pengadaan, dan distribusi bahan belajar. Dengan demikian dalam proses pendidikannya memiliki bentuk yang mirip dengan proses industri.
2. Pola, Modus dan Cakupan Pendidikan Jarak Jauh
Sesuai dengan UU nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 31 ayat 1 PJJ dapat diselenggarakan pada semua jalur, jenjang dan jenis pendidikan. Kemudian dalam ayat 3 disebutkan PJJ dapat diselenggarakan dalam berbagai bentuk atau Pola, modus dan cakupan yang berbeda sesuai dengan kondisi dan kebutuhan yang didukung oleh saran dan layanan belajar serta sistem penilaian yang menjamin mutu lulusan sesuai dengan standar nasional pendidikan.
PJJ di selenggarakan dalam berbagai pola pembelajaran yang pada dasarnya mengandalkan tersedianya berbagai sumber belajar. Pola pembelajaran ini mencakup penyelenggaran program pembelajaran melalui pendidikan tertulis atau korespondensi, bahan cetak (modul), radio, audio/video, TV, berbantuan komputer, dan atau multimedia melalui jaringan komputer.
Pola pembelajaran dalam PJJ menurut Atwi Suparman & Aminudin Zuhairi (2004:191) dapat berbentuk belajar secara mandiri, belajar dengan kelompok belajar belajar, dan belajar dengan tutor secara tatap muka dan berbantuan media elektronik.
Sedangkan modus penyelenggaraan PJJ dapat dibedakan dalam berbagai bentuk sebagai berikut :
1. Modus tunggal (single mode) yaitu pelayanan pendidikan kepada peserta didik dilaksanakan sepenuhnya melalui satu cara.
2. Modus ganda (dual mode) yaitu bila layanan pendidikan kepada peserta didik dilaksanakan bersama tatap muka langsung maupun tidak langsung, baik melalui satu arah maupun dua arah.
3. Modus jaringan (network mode) yaitu bila layanan pendidikan kepada peserta didik dilaksanakan melalui kolaborasi anatar lembaga pendidikan.
4. Modus beragam (multimode), pola ini sering disebut pula dengan pembelajaran berbasis aneka sumber (resource based learning). Sumber belajar ini yang harus dicari dan diusahakan sendiri oleh peserta didik dan ada yang telah tersedia secara khusus maupun secara umum.
Dan bila dilihat dari aspek cakupan, sistem PJJ dapat berupa penyelenggaraan pendidikan untuk program pendidikan berbasis mata pelajaran / mata kuliah atau program berbasis bidang studi. Selain itu dapat berupa satu kesatuan program pendidikan secara penuh menurut jenjang dan jenis dalam sistem pendidikan nasional.
3. Penyelenggaraan Pendidikan Jarak Jauh
PJJ merupakan sub sistem dari sistem pendidikan nasional, maka dapat diselenggarakan pada semua jalur, jenjang, dan jenis pendidikan. PJJ dapat digunakan untuk pendidikan formal maupun nonformal. Penyelenggraan PJJ menurut Miarso (2004:321) meliputi pendidikan dasar, pendidikan menengah, pendidikan tinggi, pendidikan luar sekolah, pendidikan kedinasan, pendidikan keagamaan dan pendidikan berkelanjutan. PJJ untuk jenjang pendidikan tinggi dapat diselenggarakan untuk berbagai program gelar maupun nongelar, jalur akademik maupun jalur profesional, mulai dari tingkat sertifikat, diploma, sarjana, magister dan doktor.
Penyelenggraan PJJ menurut Sadiman (1995:3) dilakukan karena beberapa pertimbangan sebagai berikut :
a) Dapat menjangkau sasaran didik di daerah – daerah terpencil yang sulit dijangkau secara fisik.
b) Dapat memberikan pendidikan kepada mereka yang karena hambatan fisik (cacat fisik) hambatan waktu dan kesempatan tidak dapat mengikuti pendidikan biasa.
c) Sifatnya luwes, dapat di buka dan ditutup dalam waktu yang relatif cepat tanpa membawa resiko pemborosan tenaga dan sumber – sumber lainnya.
d) Dapat mengatasi kekurangan tenaga pengajar dengan jalan memanfaatkan tenaga – tenaga yang ada secara maksimal.
e) Peserta didik masih tetap dapat melaksanakan kegiatan lain (bekerja) sementara mengikuti program PJJ.
f) Dapat menjangkau sasaran dalam jumlah yang besar dengan rasio pengelola dan pendidik yang relatif kecil.
g) Satuan biaya per peserta didik pada umumnya lebih murah apabila jumlah sasarannya makin besar.
h) Mampu menanamkan sifat – sifat yang penting yaitu : bertanggung jawab, disiplin, tangguh dan mandiri.
Selanjutnya agar sistem PJJ dapat diselenggarakan dengan baik komponen dan kegiatan berikut perlu mendapatkan perhatian secara serius, (Perry dan Rumble (1987:5-7) yaitu :
a) Bahan belajar. Bahan belajar untuk PJJ haruslah sederhana, jelas dan mudah dipelajari. Bahan – bahan belajar tersebut juga harus memenuhi kebutuhan peserta didik.
b) Produksi bahan belajar. Bahan belajar tersebut harus diproduksi sedemikian rupa sehingga tidak saja benar dari segi konsep tetapi menarik untuk dipelajari.
c) Distribusi bahan belajar. Bahan belajar harus dijamin sampai disasaran peserta didik sebelum waktu digunakan. Beberapa cara pengiriman perlu dijajagi sebelum menentukan cara yang terbaik.
d) Dukungan belajar. Pelayanan dukungan berlajar perlu dikembangkan mengingat dalam PJJ peserta didik perlu lebih banyak bantuan dalam belajar.
e) Penilaian peserta didik. Keberhasilan PJJ diukur dari seberapa baik produk dari sistem tersebut. Untuk itu penilaian yang teratur dan sistematis hendaknya dilakukan sepanjang proses pembelajaran dan diakhir satu satuan waktu pendidikan. Penilaian yang dimaksud hendaklah beracuan patokan (criterian reference evaluation) adil dan tidak kompromis.
f) Pengelolaan administrasi. Oleh karena peserta PJJ pada umumnya tersebar dan adanya keluwesan waktu maka administrasi PJJ harus dikelola secara rapih. Mekanisme pengadministrasian peserta PJJ merupakan salah satu kunci keberhasilan PJJ.
g) Mekanisme umpan balik. Mekanisme yang baik perlu dibuat agar peserta didik dapat dengan mudah menyampaikan keluhan dalam belajar atau kesulitan umum dalam belajar di PJJ. Perbaikan dan penyempurnaan hendaknya terus kita lakuakan atas dasar umpan balik tersebut.
Dengan demikian dalam penyelenggraan PJJ perlu di rancang secara khusus mulai dari isi program pendidikan, cara penyajian materi pembelajaran, proses pembelajaran, dan peserta didiknya. Artinya adanya ikatan yang longgar pada materi, tempat, jarak, waktu, usia, jender, dan persyaratan non akademik lain. Akhirnya merupakan ciri pendidikan yang demokratis.
PERANAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI UNTUK PENYELENGGARAN PENDIDIKAN JARAK JAUH
Renstra Depdiknas Tahun 2005 – 2009, menegaskan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) sebagai sarana pembelajaran jarak jauh, prioritas renstra adalah mengembangkan sistem pembelajaran jarak jauh di perguruan tinggi, pendidikan formal dan non formal untuk mendukung perluasan dan pemerataan pendidikan tinggi, pendidikan foramal dan non formal. TIK di manfaatkan secara optimal dalam fungsinya sebagai media pembelajaran jarak jauh dan juga untuk menfasilitasi manajemen pendidikan.
Perkembangan TIK, telah mendorong berkembangnya PJJ. PJJ adalah suatu model pembelajaran yang membebaskan peserta didik untuk dapat belajar tanpa terkait oleh ruang dan waktu dengan sesedikit mungkin bantuan dari orang lain. Karena keterpisahan jarak inilah maka dalam PJJ materi pembelajran dikembangkan, dikemas dan disampaikan melalui media dalam berbagai jenis dengan memanfaatkan TIK sehingga dapat digunakan peserta didik untuk belajar mandiri. Belajar mandiri tidak berarti belajar sendiri, melainkan belajar dengan prakarsa dan tanggung jawab sendiri dengan bantuan minimal dari orang lain.
Dalam sistem PJJ peserta didik dituntut untuk belajar mandiri. Dengan demikian pelaksanaan PJJ menerapkan cara belajar mandiri. Belajar mandiri dalam konteks sistem PJJ berdampak pada pemanfaatan TIK. Artinya media dapat digunakan untuk menyampaikan materi pembelajaran. Media teknologi tersebut dapat berupa media cetak, radio, televisi, komputer, masyarakat awam, orang tua, atau media lain yang dapat digunakan untuk mengemas materi pembelajaran.
Berdasarkan berbagai pertimpangan di atas TIK yang dibutuhkan dalam penyelenggaraan PJJ antara lain sebagai berikut :
1. Media Cetak
Media ini digolongka sebagai teknologi generasi pertama dalam sistem PJJ. Hampir semua institusi PJJ di dunia memanfaatkan media cetak sebagai media utama untuk menyampaikan materi pembelajaran. Kondisi ini tidak hanya karena masalah biaya pengembangan dan pengadaannya yang murah di banding media lain tetapi juga karena fleksibilitasnya. Fleksibilitasnya menyangkut tempat, waktu, wujud, jenis cetakan serta mampu untuk dipadukan dengan media lain. Pada kondisi ini, umunya media cetak dimanfaatkan sebagai media utama sedangkan media lain berfungsi sebagai media yang menyampaikan penjelasan.
2. Radio
Di negara – negara maju hampir semua orang memiliki radio. Sementara di negara berkembang termasuk Indonesia radio dikatagorikan sebgai barang yang cukup terjangkau harganya dan udah didapat. Radio dikenal sebagai media yang sangat memasyrakat. Hal ini menunjukkan bahwa radio merupaka sebuah media yang memiliki aksesibilitas tinggi. Tingkat pemilikan radio di wilayah perkotaan dengan angka penetrasi sebesar 40% (Katili-Niode, 2002)
3. Televisi
Depdiknas sesuai dengan tugas dan fungsinya merintis berdirinya stasiun televisi pendidikan. Pada tanggal 12 oktober 2004 Menteri Pendidikan Nasional meluncurkan pengembangan dan penyelenggaraan siaran televisi edukasi (TVE). TVE merupakan televisi yang mengkhususkan diri dalam penyiaran program – program pendidikan dan pembelajaran semua jenis, jenjang dan jalur pendidikan. Visi TVE adalah menjadikan stasiun televisi pendidikan yang santun dan mencerdaskan. Sedangkan misinya untuk mencerdaskan masyarakat, menyajikan ketauladanan, menyebarluaskan informasi dan kebijakan pendidikan sertamemotivasi masyarakat untuk gemar belajar. Dengan jangkauan siaran di seluruh wilayah tanah indonesia bahkan wilayah negara ASEAN dan Australia bagian utara dengan fasilitas antene parabola (TVRO) Purwanto, dkk (2005:214)
Stasiun televisi atau tv komersial bervariasi dalam daya jangkau siarannya, namun hampir setiap kota besar di Indonesia dapat menerima siaran dari tv swasta. Namun kenyataannya televisi belum besar perannya dalam PJJ di Indonesia. Siaran pendidikan melalui televisi mempunyai konsekuensi pembiayaan yang besar. Kendala lain bagi pemanfaatan siaran televisi adalah bahwa media ini adalah sekali tayang. Selain itu media siaran televisi ini merupakan media satu arah sehingga tidak ada interaktifitasnya.
4. Komputer dan Jaringan Internet
Pembelajaran berbasis komputer dapat dimasukan dalam dua kategori yaitu komputer mandiri (standalone) dan komputer dalam jaringan. Perbedaan yang utama antara keduanya terletak pada aspek interaktifitas. Dalam pembelajaran melalui komputer mandiri, interaktifitas peserta didik terbatas pada interkasi bahan belajar yang ada dalam program pembelajaran.
Sekarang ini PJJ dapat disajikan dalam dua cara yaitu synchronous mode di mana peserta didik menggunakan TIK untuk berkomunikasi pada waktu yang bersamaan dan asynchronous mode di mana peserta didik belajar atau berkomunikasi secara mandiri pada waktu yang berbeda kapan saja mereka online. Dalam kenyataannya pertemuan tatap muka atau interkasi masih diperlukan untuk menunjang belajar mandiri dan asynchronous agar belajar lebih efektif. TIK menfasilitasi interkasi tingkat tinggi antara peserta didik, tenaga pengajar, dan materi pembelajaran berbasis komputer. Komunikasi dapat dinamis dan bervariasi sesuai keinginan peserta didik dan tenaga pengajar, dan ia dapat terjadi dalam berbagai bentuk seperti e-mail, mailing list, chat, bulletin board dan konferensi komputer.
Akhirnya dalam era ke depan baik secara nasional, regional maupun global pengembangan dan pemanfaatan TIK ini berperan sebagai pemandu atau menjadi trend setter. Selanjutnya bagaimana menjadi inovasi, networking, dan teknologi menjadi suatu model bagi penyelenggaraaan dan pengembangan PJJ di masa depan.
CONTOH PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN JARAK JAUH YANG MEMANFAATKAN TIK
Sebagai contoh penyelenggaran PJJ yang memanfaatkan TIK adalah sebagai berikut :
SMP Qaryah Thayyibah di desa Kalibening, Salatiga, Jawa tengah. Selain itu SMP QT merupakan pengembangan dari konsep bersekolah di rumah (home schooling) http://www.pendidikansalatiga.net Sekolah di rumah mengandung kelemahan, di antaramya anak kurang berinteraksi dengan kawan sebayanya. Sekolah di rumah akan semakin rumit ketiak anak makin besar yang membuat orang tua tidak mampu lagi mengajarkan pelajaran sesuai usianya. Di sisi lain kelemahan ini di tangkap oleh kalangan bisnis yang kemudian menawarkan jasa les privat atau bimbingan belajar. Dalam pola belajar semacam ini, sekolah di rumah pada akhirnya hanya akan dinikmati oleh mereka yang mempunyai uang. Akhirnya kekurangan tersebut bisa ditutupi dengan alternatif SMP QT menjadi sekolah komunitas. Pada dasarnya anak – anak itu belajar bersama di sebuah rumah dengan didampingi oleh pembimbing.
SMP QT secara formal tercatat sebagai SMP Terbuka sehingga lulusan bisa mendapatkan ijasah formal SMP seperti siswa SMP reguler lainnya yang dikeluarkan pemerintah. SMP QT menggunakan kurikulum nasional. Maka kualitas sekolah akan diakui bila siswanya dapat mengerjakan soal – soal tes dengan nilai yang baik.
KESIMPULAN
Pendidikan merupakan kebutuhan sekaligus hak dasar bagi setiap warga negara, tanpa membedakan golongan, gender, usia, status sosial maupun tempat tinggal. Sistem PJJ merupakan alternatif yang dapat memberikan layanan kepada setiap orang untuk mendapatkan pendidikan sepanjang hayat. PJJ adalah pendidikan yang peserta didiknya terpisah dari pendidik dan pembelajrannya menggunakan berbagai sumber belajar melalui TIK dan media lain. PJJ dapat di selenggarakan pada semua jalur, jenjang dan jenis pendidikan dalam berbagai pola, modus dan cakupan yang berbeda sesuai dengan kondisi dan kebutuhan yang didukung oleh sarana dan layanan belajar serta sistem penilaian yang menjamin mutu lulusan sesuai dengan standar nasional pendidikan. Penyelenggaraan PJJ berdasarkan prinsip – prinsip keluwesan, kemandirian, keterkinian, kesesuaian, mobilitas dan efesiensi. PJJ di rancang sebagai sistem pendidikan yang bebas untuk diikuti oleh siapa saja dan di mana saja sehingga peserta didik menjadi sangat hiterogen baik dalam kondisi, karakteristiknya yang meliputi motivasi, kecerdasan, latar belakang pendidikan, kesempatan maupun waktu yang disediakan untuk belajar.
UUD 1945 mengamanatkan pentingnya pendidikan bagi seluruh warga negara seperti tertuang di dalam pasal 28B ayat 1 bahwa setiap orang berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya, berhak mendapatkan pendidikan dan mendapatkan manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya demi meningkatkan kualitas hidupnya demi kesejahteraan umat manusia dan pasal 31 ayat 1 bahwa setiap warga negara berhak mendapat pendidikan.
Pendidikan merupakan kebutuhan sekaligus hak dasar bagi setiap warga negara, tanpa membedakan golongan, gender, usia, status sosial maupun tempat tinggal. Artinya setiap orang mempunyai hak untuk memperoleh layanan pendidikan. Kalau sampai tidak mendapatkan kesempatan karena berbagai kendala, adalah kewajiban pemerintah untuk mencari sistem pendidikan yang tepat yang dapat melayani mereka. Sistem pendidikan jarak jauh merupakan alternatif yang dapat memberikan layanan kepada setiap orang untuk mendapatkan pendidikan.
Selain itu kondisi geografis Indonesia yang memiliki luas wilayah sekitar 7 juta kilometer persegi, terdiri dari 17.459 pulau besar dan kecil serta kawasan laut yang luas ( lebih luas daripada wilayah daratan ). Sedangkan kondisi demografisnya penduduk Indonesia sekarang sekitar 220 juta jiwa terdiri atas beragam suku, agama, adat istiadat dan budaya yang 70% diantaranya menempati wilayah pedesaan dengan wilayah terpadat di pulau Jawa, Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, Bali, dan semakin ke timur semakin jarang penduduknya.
Mengingat tidak semua kebutuhan akan pendidikan dapat di penuhi dengan cara – cara yang konvensional. Di sisi yang lain adanya berbagai karakteristik sasaran didik, kondisi sosial-ekonomi-budaya dan geografis tidak mungkin pula memberikan pendidikan kepada seluruh orang dengan cara lama, maka perlu dikembangkan alternatif pendidikan yang dapat memberikan layanan pendidikan tersebut melalui Pendidikan Jarak Jauh (PJJ).
Ada beberapa pertimbangan yang melatarbelakangi penyelenggaraan PJJ, yaitu kondisi geografis, pertumbuhan dan persebaran penduduk, tantangan globalisasi, peningkatan kualitas sumber daya manusia, dan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. PJJ bertujuan untuk menyediakan akses pendidikan seluas – luasnya bagi peserta didik karena kendala ekonomi, faktor geografis, dan sosila budaya. Jadi PJJ mempunyai potensi yang besar sekali untuk mendukung upaya pendidikan berkelanjutan dan pendidikan sepanjang hayat. Sifatnya yang fleksibel memungkinkan peserta didik dapat mengikuti pendidikan kapan saja dan dimana saja.
PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN JARAK JAUH
1. Pengertian Pendidikan Jarak Jauh
Sistem Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) menurut sadirman, dkk (1996:13) memiliki berbagai macam bentuk dengan berbagai macam sebutan, seperti pendidikan terbuka, pendidikan mandiri, pendidikan bermedia, pendidikan terkemas, pendidikan arah diri (self directed education), pendidikan bebas (independent study), pendidikan laju diri (self paced education), pendidikan korespodensi, dan berbagai istilah lainnya. Sekarang kita mengenal istilah pembelajaran dengan luwes (flexible learning), pembelajaran elektronik, pembelajaran digital, pembelajaran digital, pembelajaran berjaringan, pembelajaran maya dan sebagainya.
Pengertian PJJ menurut Miarso (2003:304) adalah pendidikan terbuka dengan program belajar yang terstruktur relatif ketat dan pola pembelajaran yang berlangsung tanpa tatap muka atau keterpisahan antara guru dengan peserta didik.
Menurut Seijadi (2005:1) PJJ adalah jenis pendidikan di mana peserta didik berjarak jauh dengan pendidik, sehingga pendidikan tidak dapat di lakukan dengan cara tatap muka. Maka pennyajian materi pembelajaran kepada peserta didik harus melalui media.
Menurut UU nomor 20 Tahun 2003 tentang sistem Pendidikan Nasional, Pasal 1 ayat 15 dijelaskan bahwa PJJ adalah pendidikan yang peserta didiknya terpisah dari pendidik dan pembelajarannya menggunakan berbagai sumber belajar melalui tekologi informasi dan komunikasi dan media lainnya.
Menurut Keegan (1984) dalam A.P. Hardhono (2002) karakteristik PJJ adalah sebagai berikut :
1.) Ada keterpisahan yang mendekati permanen antara tenaga pengajar dari peserta didik selama program pendidikan.
2.) Ada keterpisahan yang mendekati permanen antara perseorangan peserta didik dari peserta didik lain selama program pendidikan.
3.) Ada suatu institusi yang mengelola program pendidikan.
4.) Pemanfaatan sarana komunikasi baik mekanis maupun elektronis untuk menyampaikan bahan ajar.
5.) Penyediaan sarana komunikasi dua arah sehingga peserta didik dapat mengambil inisiatif dialog dan mengambil manfaatnya.
Adapun ciri khas utama PJJ, yaitu :
1.) Adanya jarak yang jauh antara pendidik dengan peserta didik
2.) Individualisasi dan kemandirian dalam belajar.
3.) Adanya bahan belajar yang biasanya di kembangkan sendiri oleh lembaga penyelenggara PJJ.
4.) Penggunaan berbagai media pembelajaran.
5.) Adanya bantuan belajar yang berupa tutorial dan bantuan belajar lainnya yang terbatas.
6.) Adanya proses industrialisasi dalam pengembangan, pengadaan, dan distribusi bahan belajar. Dengan demikian dalam proses pendidikannya memiliki bentuk yang mirip dengan proses industri.
2. Pola, Modus dan Cakupan Pendidikan Jarak Jauh
Sesuai dengan UU nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 31 ayat 1 PJJ dapat diselenggarakan pada semua jalur, jenjang dan jenis pendidikan. Kemudian dalam ayat 3 disebutkan PJJ dapat diselenggarakan dalam berbagai bentuk atau Pola, modus dan cakupan yang berbeda sesuai dengan kondisi dan kebutuhan yang didukung oleh saran dan layanan belajar serta sistem penilaian yang menjamin mutu lulusan sesuai dengan standar nasional pendidikan.
PJJ di selenggarakan dalam berbagai pola pembelajaran yang pada dasarnya mengandalkan tersedianya berbagai sumber belajar. Pola pembelajaran ini mencakup penyelenggaran program pembelajaran melalui pendidikan tertulis atau korespondensi, bahan cetak (modul), radio, audio/video, TV, berbantuan komputer, dan atau multimedia melalui jaringan komputer.
Pola pembelajaran dalam PJJ menurut Atwi Suparman & Aminudin Zuhairi (2004:191) dapat berbentuk belajar secara mandiri, belajar dengan kelompok belajar belajar, dan belajar dengan tutor secara tatap muka dan berbantuan media elektronik.
Sedangkan modus penyelenggaraan PJJ dapat dibedakan dalam berbagai bentuk sebagai berikut :
1. Modus tunggal (single mode) yaitu pelayanan pendidikan kepada peserta didik dilaksanakan sepenuhnya melalui satu cara.
2. Modus ganda (dual mode) yaitu bila layanan pendidikan kepada peserta didik dilaksanakan bersama tatap muka langsung maupun tidak langsung, baik melalui satu arah maupun dua arah.
3. Modus jaringan (network mode) yaitu bila layanan pendidikan kepada peserta didik dilaksanakan melalui kolaborasi anatar lembaga pendidikan.
4. Modus beragam (multimode), pola ini sering disebut pula dengan pembelajaran berbasis aneka sumber (resource based learning). Sumber belajar ini yang harus dicari dan diusahakan sendiri oleh peserta didik dan ada yang telah tersedia secara khusus maupun secara umum.
Dan bila dilihat dari aspek cakupan, sistem PJJ dapat berupa penyelenggaraan pendidikan untuk program pendidikan berbasis mata pelajaran / mata kuliah atau program berbasis bidang studi. Selain itu dapat berupa satu kesatuan program pendidikan secara penuh menurut jenjang dan jenis dalam sistem pendidikan nasional.
3. Penyelenggaraan Pendidikan Jarak Jauh
PJJ merupakan sub sistem dari sistem pendidikan nasional, maka dapat diselenggarakan pada semua jalur, jenjang, dan jenis pendidikan. PJJ dapat digunakan untuk pendidikan formal maupun nonformal. Penyelenggraan PJJ menurut Miarso (2004:321) meliputi pendidikan dasar, pendidikan menengah, pendidikan tinggi, pendidikan luar sekolah, pendidikan kedinasan, pendidikan keagamaan dan pendidikan berkelanjutan. PJJ untuk jenjang pendidikan tinggi dapat diselenggarakan untuk berbagai program gelar maupun nongelar, jalur akademik maupun jalur profesional, mulai dari tingkat sertifikat, diploma, sarjana, magister dan doktor.
Penyelenggraan PJJ menurut Sadiman (1995:3) dilakukan karena beberapa pertimbangan sebagai berikut :
a) Dapat menjangkau sasaran didik di daerah – daerah terpencil yang sulit dijangkau secara fisik.
b) Dapat memberikan pendidikan kepada mereka yang karena hambatan fisik (cacat fisik) hambatan waktu dan kesempatan tidak dapat mengikuti pendidikan biasa.
c) Sifatnya luwes, dapat di buka dan ditutup dalam waktu yang relatif cepat tanpa membawa resiko pemborosan tenaga dan sumber – sumber lainnya.
d) Dapat mengatasi kekurangan tenaga pengajar dengan jalan memanfaatkan tenaga – tenaga yang ada secara maksimal.
e) Peserta didik masih tetap dapat melaksanakan kegiatan lain (bekerja) sementara mengikuti program PJJ.
f) Dapat menjangkau sasaran dalam jumlah yang besar dengan rasio pengelola dan pendidik yang relatif kecil.
g) Satuan biaya per peserta didik pada umumnya lebih murah apabila jumlah sasarannya makin besar.
h) Mampu menanamkan sifat – sifat yang penting yaitu : bertanggung jawab, disiplin, tangguh dan mandiri.
Selanjutnya agar sistem PJJ dapat diselenggarakan dengan baik komponen dan kegiatan berikut perlu mendapatkan perhatian secara serius, (Perry dan Rumble (1987:5-7) yaitu :
a) Bahan belajar. Bahan belajar untuk PJJ haruslah sederhana, jelas dan mudah dipelajari. Bahan – bahan belajar tersebut juga harus memenuhi kebutuhan peserta didik.
b) Produksi bahan belajar. Bahan belajar tersebut harus diproduksi sedemikian rupa sehingga tidak saja benar dari segi konsep tetapi menarik untuk dipelajari.
c) Distribusi bahan belajar. Bahan belajar harus dijamin sampai disasaran peserta didik sebelum waktu digunakan. Beberapa cara pengiriman perlu dijajagi sebelum menentukan cara yang terbaik.
d) Dukungan belajar. Pelayanan dukungan berlajar perlu dikembangkan mengingat dalam PJJ peserta didik perlu lebih banyak bantuan dalam belajar.
e) Penilaian peserta didik. Keberhasilan PJJ diukur dari seberapa baik produk dari sistem tersebut. Untuk itu penilaian yang teratur dan sistematis hendaknya dilakukan sepanjang proses pembelajaran dan diakhir satu satuan waktu pendidikan. Penilaian yang dimaksud hendaklah beracuan patokan (criterian reference evaluation) adil dan tidak kompromis.
f) Pengelolaan administrasi. Oleh karena peserta PJJ pada umumnya tersebar dan adanya keluwesan waktu maka administrasi PJJ harus dikelola secara rapih. Mekanisme pengadministrasian peserta PJJ merupakan salah satu kunci keberhasilan PJJ.
g) Mekanisme umpan balik. Mekanisme yang baik perlu dibuat agar peserta didik dapat dengan mudah menyampaikan keluhan dalam belajar atau kesulitan umum dalam belajar di PJJ. Perbaikan dan penyempurnaan hendaknya terus kita lakuakan atas dasar umpan balik tersebut.
Dengan demikian dalam penyelenggraan PJJ perlu di rancang secara khusus mulai dari isi program pendidikan, cara penyajian materi pembelajaran, proses pembelajaran, dan peserta didiknya. Artinya adanya ikatan yang longgar pada materi, tempat, jarak, waktu, usia, jender, dan persyaratan non akademik lain. Akhirnya merupakan ciri pendidikan yang demokratis.
PERANAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI UNTUK PENYELENGGARAN PENDIDIKAN JARAK JAUH
Renstra Depdiknas Tahun 2005 – 2009, menegaskan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) sebagai sarana pembelajaran jarak jauh, prioritas renstra adalah mengembangkan sistem pembelajaran jarak jauh di perguruan tinggi, pendidikan formal dan non formal untuk mendukung perluasan dan pemerataan pendidikan tinggi, pendidikan foramal dan non formal. TIK di manfaatkan secara optimal dalam fungsinya sebagai media pembelajaran jarak jauh dan juga untuk menfasilitasi manajemen pendidikan.
Perkembangan TIK, telah mendorong berkembangnya PJJ. PJJ adalah suatu model pembelajaran yang membebaskan peserta didik untuk dapat belajar tanpa terkait oleh ruang dan waktu dengan sesedikit mungkin bantuan dari orang lain. Karena keterpisahan jarak inilah maka dalam PJJ materi pembelajran dikembangkan, dikemas dan disampaikan melalui media dalam berbagai jenis dengan memanfaatkan TIK sehingga dapat digunakan peserta didik untuk belajar mandiri. Belajar mandiri tidak berarti belajar sendiri, melainkan belajar dengan prakarsa dan tanggung jawab sendiri dengan bantuan minimal dari orang lain.
Dalam sistem PJJ peserta didik dituntut untuk belajar mandiri. Dengan demikian pelaksanaan PJJ menerapkan cara belajar mandiri. Belajar mandiri dalam konteks sistem PJJ berdampak pada pemanfaatan TIK. Artinya media dapat digunakan untuk menyampaikan materi pembelajaran. Media teknologi tersebut dapat berupa media cetak, radio, televisi, komputer, masyarakat awam, orang tua, atau media lain yang dapat digunakan untuk mengemas materi pembelajaran.
Berdasarkan berbagai pertimpangan di atas TIK yang dibutuhkan dalam penyelenggaraan PJJ antara lain sebagai berikut :
1. Media Cetak
Media ini digolongka sebagai teknologi generasi pertama dalam sistem PJJ. Hampir semua institusi PJJ di dunia memanfaatkan media cetak sebagai media utama untuk menyampaikan materi pembelajaran. Kondisi ini tidak hanya karena masalah biaya pengembangan dan pengadaannya yang murah di banding media lain tetapi juga karena fleksibilitasnya. Fleksibilitasnya menyangkut tempat, waktu, wujud, jenis cetakan serta mampu untuk dipadukan dengan media lain. Pada kondisi ini, umunya media cetak dimanfaatkan sebagai media utama sedangkan media lain berfungsi sebagai media yang menyampaikan penjelasan.
2. Radio
Di negara – negara maju hampir semua orang memiliki radio. Sementara di negara berkembang termasuk Indonesia radio dikatagorikan sebgai barang yang cukup terjangkau harganya dan udah didapat. Radio dikenal sebagai media yang sangat memasyrakat. Hal ini menunjukkan bahwa radio merupaka sebuah media yang memiliki aksesibilitas tinggi. Tingkat pemilikan radio di wilayah perkotaan dengan angka penetrasi sebesar 40% (Katili-Niode, 2002)
3. Televisi
Depdiknas sesuai dengan tugas dan fungsinya merintis berdirinya stasiun televisi pendidikan. Pada tanggal 12 oktober 2004 Menteri Pendidikan Nasional meluncurkan pengembangan dan penyelenggaraan siaran televisi edukasi (TVE). TVE merupakan televisi yang mengkhususkan diri dalam penyiaran program – program pendidikan dan pembelajaran semua jenis, jenjang dan jalur pendidikan. Visi TVE adalah menjadikan stasiun televisi pendidikan yang santun dan mencerdaskan. Sedangkan misinya untuk mencerdaskan masyarakat, menyajikan ketauladanan, menyebarluaskan informasi dan kebijakan pendidikan sertamemotivasi masyarakat untuk gemar belajar. Dengan jangkauan siaran di seluruh wilayah tanah indonesia bahkan wilayah negara ASEAN dan Australia bagian utara dengan fasilitas antene parabola (TVRO) Purwanto, dkk (2005:214)
Stasiun televisi atau tv komersial bervariasi dalam daya jangkau siarannya, namun hampir setiap kota besar di Indonesia dapat menerima siaran dari tv swasta. Namun kenyataannya televisi belum besar perannya dalam PJJ di Indonesia. Siaran pendidikan melalui televisi mempunyai konsekuensi pembiayaan yang besar. Kendala lain bagi pemanfaatan siaran televisi adalah bahwa media ini adalah sekali tayang. Selain itu media siaran televisi ini merupakan media satu arah sehingga tidak ada interaktifitasnya.
4. Komputer dan Jaringan Internet
Pembelajaran berbasis komputer dapat dimasukan dalam dua kategori yaitu komputer mandiri (standalone) dan komputer dalam jaringan. Perbedaan yang utama antara keduanya terletak pada aspek interaktifitas. Dalam pembelajaran melalui komputer mandiri, interaktifitas peserta didik terbatas pada interkasi bahan belajar yang ada dalam program pembelajaran.
Sekarang ini PJJ dapat disajikan dalam dua cara yaitu synchronous mode di mana peserta didik menggunakan TIK untuk berkomunikasi pada waktu yang bersamaan dan asynchronous mode di mana peserta didik belajar atau berkomunikasi secara mandiri pada waktu yang berbeda kapan saja mereka online. Dalam kenyataannya pertemuan tatap muka atau interkasi masih diperlukan untuk menunjang belajar mandiri dan asynchronous agar belajar lebih efektif. TIK menfasilitasi interkasi tingkat tinggi antara peserta didik, tenaga pengajar, dan materi pembelajaran berbasis komputer. Komunikasi dapat dinamis dan bervariasi sesuai keinginan peserta didik dan tenaga pengajar, dan ia dapat terjadi dalam berbagai bentuk seperti e-mail, mailing list, chat, bulletin board dan konferensi komputer.
Akhirnya dalam era ke depan baik secara nasional, regional maupun global pengembangan dan pemanfaatan TIK ini berperan sebagai pemandu atau menjadi trend setter. Selanjutnya bagaimana menjadi inovasi, networking, dan teknologi menjadi suatu model bagi penyelenggaraaan dan pengembangan PJJ di masa depan.
CONTOH PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN JARAK JAUH YANG MEMANFAATKAN TIK
Sebagai contoh penyelenggaran PJJ yang memanfaatkan TIK adalah sebagai berikut :
SMP Qaryah Thayyibah di desa Kalibening, Salatiga, Jawa tengah. Selain itu SMP QT merupakan pengembangan dari konsep bersekolah di rumah (home schooling) http://www.pendidikansalatiga.net Sekolah di rumah mengandung kelemahan, di antaramya anak kurang berinteraksi dengan kawan sebayanya. Sekolah di rumah akan semakin rumit ketiak anak makin besar yang membuat orang tua tidak mampu lagi mengajarkan pelajaran sesuai usianya. Di sisi lain kelemahan ini di tangkap oleh kalangan bisnis yang kemudian menawarkan jasa les privat atau bimbingan belajar. Dalam pola belajar semacam ini, sekolah di rumah pada akhirnya hanya akan dinikmati oleh mereka yang mempunyai uang. Akhirnya kekurangan tersebut bisa ditutupi dengan alternatif SMP QT menjadi sekolah komunitas. Pada dasarnya anak – anak itu belajar bersama di sebuah rumah dengan didampingi oleh pembimbing.
SMP QT secara formal tercatat sebagai SMP Terbuka sehingga lulusan bisa mendapatkan ijasah formal SMP seperti siswa SMP reguler lainnya yang dikeluarkan pemerintah. SMP QT menggunakan kurikulum nasional. Maka kualitas sekolah akan diakui bila siswanya dapat mengerjakan soal – soal tes dengan nilai yang baik.
KESIMPULAN
Pendidikan merupakan kebutuhan sekaligus hak dasar bagi setiap warga negara, tanpa membedakan golongan, gender, usia, status sosial maupun tempat tinggal. Sistem PJJ merupakan alternatif yang dapat memberikan layanan kepada setiap orang untuk mendapatkan pendidikan sepanjang hayat. PJJ adalah pendidikan yang peserta didiknya terpisah dari pendidik dan pembelajrannya menggunakan berbagai sumber belajar melalui TIK dan media lain. PJJ dapat di selenggarakan pada semua jalur, jenjang dan jenis pendidikan dalam berbagai pola, modus dan cakupan yang berbeda sesuai dengan kondisi dan kebutuhan yang didukung oleh sarana dan layanan belajar serta sistem penilaian yang menjamin mutu lulusan sesuai dengan standar nasional pendidikan. Penyelenggaraan PJJ berdasarkan prinsip – prinsip keluwesan, kemandirian, keterkinian, kesesuaian, mobilitas dan efesiensi. PJJ di rancang sebagai sistem pendidikan yang bebas untuk diikuti oleh siapa saja dan di mana saja sehingga peserta didik menjadi sangat hiterogen baik dalam kondisi, karakteristiknya yang meliputi motivasi, kecerdasan, latar belakang pendidikan, kesempatan maupun waktu yang disediakan untuk belajar.
Sabtu, 25 Desember 2010
Deskripsi Masalah Pendidikan di Indonesia
Kualitas pendidikan di Indonesia saat ini sangat memprihatinkan. Ini dibuktikan bahwa indeks pengembangan manusia Indonesia makin menurun. Kualitas pendidikan di Indonesia berada pada urutan ke-12 dari 12 negara di Asia. Indonesia memiliki daya saing yang rendah Dan masih menurut survai dari lembaga yang sama Indonesia hanya berpredikat sebagai follower bukan sebagai pemimpin teknologi dari 53 negara di dunia.
Yang kita rasakan sekarang adalah adanya ketertinggalan didalam mutu pendidikan. Baik pendidikan formal maupun informal. Pendidikan memang telah menjadi penopang dalam meningkatkan sumber daya manusia Indonesia untuk pembangunan bangsa. Oleh karena itu, kita seharusnya dapat meningkatkan sumber daya manusia Indonesia yang tidak kalah bersaing dengan sumber daya manusia di negara-negara lain. Setelah kita amati, nampak jelas bahwa masalah yang serius dalam peningkatan mutu pendidikan di Indonesia adalah rendahnya mutu pendidikan di berbagai jenjang pendidikan, baik pendidikan formal maupun informal. Dan hal itulah yang menyebabkan rendahnya mutu pendidikan yang menghambat penyediaan sumber daya menusia yang mempunyai keahlian dan keterampilan untuk memenuhi pembangunan bangsa di berbagai bidang.
Penyebab rendahnya mutu pendidikan di Indonesia antara lain adalah masalah efektifitas, efisiensi dan standardisasi pengajaran. Hal tersebut masih menjadi masalah pendidikan di Indonesia pada umumnya. Adapun permasalahan khusus dalam dunia pendidikan yaitu:
(1). Rendahnya sarana fisik,
(2). Rendahnya kualitas guru,
(3). Rendahnya kesejahteraan guru,
(4). Rendahnya prestasi siswa,
(5). Rendahnya kesempatan pemerataan pendidikan,
(6). Mahalnya biaya pendidikan.
* Rendahnya Kualitas Sarana Fisik
Untuk sarana fisik misalnya, banyak sekali sekolah dan perguruan tinggi kita yang gedungnya rusak, kepemilikan dan penggunaan media belajar rendah, buku perpustakaan tidak lengkap. Sementara laboratorium tidak standar, pemakaian teknologi informasi tidak memadai dan sebagainya. Bahkan masih banyak sekolah yang tidak memiliki gedung sendiri, tidak memiliki perpustakaan, tidak memiliki laboratorium dan sebagainya.
* Rendahnya Kualitas Guru
Keadaan guru di Indonesia juga amat memprihatinkan. Kebanyakan guru belum memiliki profesionalisme yang memadai untuk menjalankan tugasny. Bukan itu saja, sebagian guru di Indonesia bahkan dinyatakan tidak layak mengajar. Kelayakan mengajar itu jelas berhubungan dengan tingkat pendidikan guru itu sendiri. Data Balitbang Depdiknas (1998) menunjukkan dari sekitar 1,2 juta guru SD/MI hanya 13,8% yang berpendidikan diploma D2-Kependidikan ke atas. Selain itu, dari sekitar 680.000 guru SLTP/MTs baru 38,8% yang berpendidikan diploma D3-Kependidikan ke atas. Di tingkat sekolah menengah, dari 337.503 guru, baru 57,8% yang memiliki pendidikan S1 ke atas. Di tingkat pendidikan tinggi, dari 181.544 dosen, baru 18,86% yang berpendidikan S2 ke atas (3,48% berpendidikan S3). Walaupun guru dan pengajar bukan satu-satunya faktor penentu keberhasilan pendidikan tetapi, pengajaran merupakan titik sentral pendidikan dan kualifikasi, sebagai cermin kualitas, tenaga pengajar memberikan andil sangat besar pada kualitas pendidikan yang menjadi tanggung jawabnya.
* Rendahnya Kesejahteraan Guru
Rendahnya kesejahteraan guru mempunyai peran dalam membuat rendahnya kualitas pendidikan Indonesia. idealnya seorang guru menerima gaji bulanan serbesar Rp 3 juta rupiah. Sekarang, pendapatan rata-rata guru PNS per bulan sebesar Rp 1,5 juta. guru bantu Rp, 460 ribu, dan guru honorer di sekolah swasta rata-rata Rp 10 ribu per jam. Dengan pendapatan seperti itu, terang saja, banyak guru terpaksa melakukan pekerjaan sampingan. Ada yang mengajar lagi di sekolah lain, memberi les pada sore hari, menjadi tukang ojek, pedagang mie rebus, pedagang buku/LKS, pedagang pulsa ponsel.
* Rendahnya Prestasi Siswa
Dengan keadaan yang demikian itu (rendahnya sarana fisik, kualitas guru, dan kesejahteraan guru) pencapaian prestasi siswa pun menjadi tidak memuaskan. Sebagai misal pencapaian prestasi fisika dan matematika siswa Indonesia di dunia internasional sangat rendah.Anak-anak Indonesia ternyata hanya mampu menguasai 30% dari materi bacaan dan ternyata mereka sulit sekali menjawab soal-soal berbentuk uraian yang memerlukan penalaran. Hal ini mungkin karena mereka sangat terbiasa menghafal dan mengerjakan soal pilihan ganda.
* Kurangnya Pemerataan Kesempatan Pendidikan
Sementara itu layanan pendidikan usia dini masih sangat terbatas. Kegagalan pembinaan dalam usia dini nantinya tentu akan menghambat pengembangan sumber daya manusia secara keseluruhan. Oleh karena itu diperlukan kebijakan dan strategi pemerataan pendidikan yang tepat untuk mengatasi masalah ketidakmerataan tersebut.
* Mahalnya Biaya Pendidikan
Pendidikan bermutu itu mahal. Kalimat ini sering muncul untuk menjustifikasi mahalnya biaya yang harus dikeluarkan masyarakat untuk mengenyam bangku pendidikan. Mahalnya biaya pendidikan dari Taman Kanak-Kanak (TK) hingga Perguruan Tinggi (PT) membuat masyarakat miskin tidak memiliki pilihan lain kecuali tidak bersekolah. Orang miskin tidak boleh sekolah. Pendidikan berkualitas memang tidak mungkin murah, atau tepatnya, tidak harus murah atau gratis. Tetapi persoalannya siapa yang seharusnya membayarnya? Pemerintahlah sebenarnya yang berkewajiban untuk menjamin setiap warganya memperoleh pendidikan dan menjamin akses masyarakat bawah untuk mendapatkan pendidikan bermutu. Akan tetapi, kenyataannya Pemerintah justru ingin berkilah dari tanggung jawab. Padahal keterbatasan dana tidak dapat dijadikan alasan bagi Pemerintah.
Yang kita rasakan sekarang adalah adanya ketertinggalan didalam mutu pendidikan. Baik pendidikan formal maupun informal. Pendidikan memang telah menjadi penopang dalam meningkatkan sumber daya manusia Indonesia untuk pembangunan bangsa. Oleh karena itu, kita seharusnya dapat meningkatkan sumber daya manusia Indonesia yang tidak kalah bersaing dengan sumber daya manusia di negara-negara lain. Setelah kita amati, nampak jelas bahwa masalah yang serius dalam peningkatan mutu pendidikan di Indonesia adalah rendahnya mutu pendidikan di berbagai jenjang pendidikan, baik pendidikan formal maupun informal. Dan hal itulah yang menyebabkan rendahnya mutu pendidikan yang menghambat penyediaan sumber daya menusia yang mempunyai keahlian dan keterampilan untuk memenuhi pembangunan bangsa di berbagai bidang.
Penyebab rendahnya mutu pendidikan di Indonesia antara lain adalah masalah efektifitas, efisiensi dan standardisasi pengajaran. Hal tersebut masih menjadi masalah pendidikan di Indonesia pada umumnya. Adapun permasalahan khusus dalam dunia pendidikan yaitu:
(1). Rendahnya sarana fisik,
(2). Rendahnya kualitas guru,
(3). Rendahnya kesejahteraan guru,
(4). Rendahnya prestasi siswa,
(5). Rendahnya kesempatan pemerataan pendidikan,
(6). Mahalnya biaya pendidikan.
* Rendahnya Kualitas Sarana Fisik
Untuk sarana fisik misalnya, banyak sekali sekolah dan perguruan tinggi kita yang gedungnya rusak, kepemilikan dan penggunaan media belajar rendah, buku perpustakaan tidak lengkap. Sementara laboratorium tidak standar, pemakaian teknologi informasi tidak memadai dan sebagainya. Bahkan masih banyak sekolah yang tidak memiliki gedung sendiri, tidak memiliki perpustakaan, tidak memiliki laboratorium dan sebagainya.
* Rendahnya Kualitas Guru
Keadaan guru di Indonesia juga amat memprihatinkan. Kebanyakan guru belum memiliki profesionalisme yang memadai untuk menjalankan tugasny. Bukan itu saja, sebagian guru di Indonesia bahkan dinyatakan tidak layak mengajar. Kelayakan mengajar itu jelas berhubungan dengan tingkat pendidikan guru itu sendiri. Data Balitbang Depdiknas (1998) menunjukkan dari sekitar 1,2 juta guru SD/MI hanya 13,8% yang berpendidikan diploma D2-Kependidikan ke atas. Selain itu, dari sekitar 680.000 guru SLTP/MTs baru 38,8% yang berpendidikan diploma D3-Kependidikan ke atas. Di tingkat sekolah menengah, dari 337.503 guru, baru 57,8% yang memiliki pendidikan S1 ke atas. Di tingkat pendidikan tinggi, dari 181.544 dosen, baru 18,86% yang berpendidikan S2 ke atas (3,48% berpendidikan S3). Walaupun guru dan pengajar bukan satu-satunya faktor penentu keberhasilan pendidikan tetapi, pengajaran merupakan titik sentral pendidikan dan kualifikasi, sebagai cermin kualitas, tenaga pengajar memberikan andil sangat besar pada kualitas pendidikan yang menjadi tanggung jawabnya.
* Rendahnya Kesejahteraan Guru
Rendahnya kesejahteraan guru mempunyai peran dalam membuat rendahnya kualitas pendidikan Indonesia. idealnya seorang guru menerima gaji bulanan serbesar Rp 3 juta rupiah. Sekarang, pendapatan rata-rata guru PNS per bulan sebesar Rp 1,5 juta. guru bantu Rp, 460 ribu, dan guru honorer di sekolah swasta rata-rata Rp 10 ribu per jam. Dengan pendapatan seperti itu, terang saja, banyak guru terpaksa melakukan pekerjaan sampingan. Ada yang mengajar lagi di sekolah lain, memberi les pada sore hari, menjadi tukang ojek, pedagang mie rebus, pedagang buku/LKS, pedagang pulsa ponsel.
* Rendahnya Prestasi Siswa
Dengan keadaan yang demikian itu (rendahnya sarana fisik, kualitas guru, dan kesejahteraan guru) pencapaian prestasi siswa pun menjadi tidak memuaskan. Sebagai misal pencapaian prestasi fisika dan matematika siswa Indonesia di dunia internasional sangat rendah.Anak-anak Indonesia ternyata hanya mampu menguasai 30% dari materi bacaan dan ternyata mereka sulit sekali menjawab soal-soal berbentuk uraian yang memerlukan penalaran. Hal ini mungkin karena mereka sangat terbiasa menghafal dan mengerjakan soal pilihan ganda.
* Kurangnya Pemerataan Kesempatan Pendidikan
Sementara itu layanan pendidikan usia dini masih sangat terbatas. Kegagalan pembinaan dalam usia dini nantinya tentu akan menghambat pengembangan sumber daya manusia secara keseluruhan. Oleh karena itu diperlukan kebijakan dan strategi pemerataan pendidikan yang tepat untuk mengatasi masalah ketidakmerataan tersebut.
* Mahalnya Biaya Pendidikan
Pendidikan bermutu itu mahal. Kalimat ini sering muncul untuk menjustifikasi mahalnya biaya yang harus dikeluarkan masyarakat untuk mengenyam bangku pendidikan. Mahalnya biaya pendidikan dari Taman Kanak-Kanak (TK) hingga Perguruan Tinggi (PT) membuat masyarakat miskin tidak memiliki pilihan lain kecuali tidak bersekolah. Orang miskin tidak boleh sekolah. Pendidikan berkualitas memang tidak mungkin murah, atau tepatnya, tidak harus murah atau gratis. Tetapi persoalannya siapa yang seharusnya membayarnya? Pemerintahlah sebenarnya yang berkewajiban untuk menjamin setiap warganya memperoleh pendidikan dan menjamin akses masyarakat bawah untuk mendapatkan pendidikan bermutu. Akan tetapi, kenyataannya Pemerintah justru ingin berkilah dari tanggung jawab. Padahal keterbatasan dana tidak dapat dijadikan alasan bagi Pemerintah.
Kurikulum Subjek Akademik
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas berkat rahmatNya ini akhirnya kita dapat menyelesaikan tugas membuat makalah mata kuliah Pengantar Kurikulum.
Makalah ini berjudul “KURIKULUM SUBJEK AKADEMIK” Ucapan terima kasih kami sampaikan kepada: Dosen Mata Kuliah Pengantar Kurikulum Pak Khaerudin. Teman-teman sekelompok dan semua pihak yang telah membantu dalam rangka menyelesaikan makalah ini
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Perkembangan konsep kurikulum selalu mengikuti perkembangan zaman dan pada setiap negara sangat terkait dengan kebijakan yang diambil oleh penguasa. Khususnya di Indonesia, kurikulum selalu mengalami perubahan. Pada saat ini telah muncul Kurikulum 2006 atau kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP). Kurikulum ini merupakan penyempurnaan dari Kurikulum 2004. Sesuai dengan tuntunan zaman sekarang ini yang mengharuskan setiap manusia siap, otomatis pendidikan mmempunyai peranan yang amat penting. Pastinya baik, bermutu tidaknya sebuah institusi pendidikan sangat bergantung pada system kurikulumnya.
1.2 Rumusan Masalah
Dalam kesempatan kali ini kami akan mencoba memaparkan beberapa poin tersebut dibawah ini :
1. Apakah kecenderungan yang tambah itu ?
2. Bagaimanakah cirri kurikulum subjek akademik ?
3. Seperti apa publikasi kurikulum subjek akademik ?
1.3 Tujuan
Adapun tujuan kami mengangkat judul ini adalah :
1. Memberi wahana dan pandangan baru
2. Memanfaatkan pengetahuan kita yang sudah mulai kritis akan kurikulum
3. Menyiapkan diri setiap generasi agar siap menghadapi persaingan ilmu pengetahuan
4. Memperjelas keberadaan kurikulum
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Model Subjek Akademik
Model konsep kurikulum ini adalah model yang tertua, sejak sekolah yang pertama berdiri, kurikulumnya mirip dengan tipe ini. Sampai sekarang, walaupun telah berkembang tipe-tipe lain, umumnya sekolah tidak dapat melepaskan tipe ini. Kurikulum subjek akademis bersumber dari pendidikan klasik (perenialisme dan esensialisme) yang berorientasi pada masa lalu. Semua ilmu pengetahuan dan nilai-nilai telah ditemukan oleh para pemikir masa lalu. Fungsi pendidikan memelihara dan mewariskan hasil-hasil budaya masa lalu tersebut. Kurikulum ini lebih mengutamakan isi pendidikan.
Isi pendidikan diambil dari setiap disiplin ilmu. Sesuai dengan bidang disiplinnya para ahli, masing-masing telah mengembangkan ilmu secara sistematis, logis, dan solid. Karena kurikulum sangat mengutamkan pengetahuan maka pendidikannya lebih bersifat intelektual. Nama-nama mata pelajaran yang menjadi isi kurikulum hampir sama dengan disiplin ilmu, seperti bahasa dan sastra, geografi, matematika, ilmu kealaman, sejarah, dan sebagainya. Kurikulum subjek akademis tidak berarti hanya menekankan pada materi yang disampaikan, dalam perkembangnnya secara berangsur memperhatikan proses belajar yang dilakukan siswa. Proses belajar yang dipilih sangat bergantung pada segi apa yang dipentingkan dalam materi pelajaran tersebut.
Kurikulum adalah perangkat mata pelajaran yang diberikan oleh suatu lembaga penyelenggara pendidikan yang berisi rancangan pelajaran yang akan diberikan kepada peserta pelajaran dalam satu periode jenjang pendidikan. Penyusunan perangkat mata pelajaran ini disesuaikan dengan keadaan dan kemampuan setiap jenjang pendidikan dalam penyelenggaraan pendidikan tersebut.
Lama waktu dalam satu kurikulum biasanya disesuaikan dengan maksud dan tujuan dari sistem pendidikan yang dilaksanakan. Kurikulum ini dimaksudkan untuk dapat mengarahkan pendidikan menuju arah dan tujuan yang dimaksudkan dalam kegiatan pembelajaran secara menyeluruh.
Dalam buku yang berjudul “The Process of Education” Jerome Bruner mengusulkan bahwa rancangan kurikulum didasarkan pada struktuk disiplin akademik, Ia mengusulkan bahwa kurikulum mata pelajaran seharusnya ditentukan oleh pengertian yang paling mendasar yang dapat dicapai dari prinsip yang mendasari yang memberikan struktur pada suatu disiplin. Sebuah contoh dari kurikulum yang didasarkan atas struktur pengetahuan adalah Man : A course of Study (MACOS)
MACOS adalah kurikulum yang dirancang oleh siswa-siswa sekolah dasar dan terdiri dari buku, film, poster, catatan permainan dan bahan ruang kelas yang lain. Kurikulum ini menyatakan tentang manusia
Tiga pertanyaan penting pokok menjelaskan arti permasalahan intelektual dan menunjukan anggapan MACOS : apakah arti manusia dalam hubunganya dengan kemanusiaan ? Bagaimana mereka memperoleh cara itu bagaimana mereka dapat dibuat lebih manusiawi? Pengembangan pengembangan pelajaran menghandaki anak agar kakuatan pokok yang telah membentuk dan melanjutkan untuk membentuk kemanusiaan : Bahasa, pemakaian alat, organisasi social, mythology dan ketidak dewasaan yang berkepanjangan.
Model itelektual digunakan agar menyebabkan gagasan dapat dimengerti anak sesuai peraturan. Anak diberikan contoh lapangan dan didorong memberikan gagasan mereka tentang binatang dan ornag dengan cara yang dilakukan oeh ahli-ahli etnologi dan ahli antropologi. Tujuan dari MACOS adalah itelektual : memberikan anak rasa hormat dan kepercayaan akan kekuatan pikiran mereka sendiri dan memperlengkapi mereka dengan serangkaian model yang dapat dikerjakan yang membuatnya lebih mudah menganalisis hakikat lingkungan social. Adapun model dari penilaianya meliputi : model ilmiah tentang observasi, spekulasi, pembuatan dan ujian hipotesisi, mengerti tentnag disiplin ilmu pengetahuan social dan kegembiraan penemuan.
2.2 Ciri-ciri Kurikulum Subyek Akademik
Kurikulum subjek akademis mempunyai beberapa ciri berkenaan dengan tujuan, metode, organisasi isi, dan evaluasi. Tujuan kurikulum subjek akademis adalah pemberian pengetahuan yang solid serta melatih para siswa menggunakan ide-ide dan proses ”penelitian”. Metode yang paling banyak digunakan dalam kurikulm subjek akademis adalah metode ekspositori dan inkuiri. Ide-ide diberikan guru kemudian dielaborasi (dilaksanakan)siswa sampai mereka kuasai. Melalui proses tersebut para siswa akan menemukan, bahwa kemampuan berfikir dan mengamatin digunakan dalam ilmuj kealaman, logika digunakan dalam matematika, bentuk dan perasaan dalam seni dan koherensi dalam sejarah.
1. Maksud dan Fungsi
Maksud kurikulum adalah melatih siswa dalam menggunakan gagasan yang paling bermanfaat dan proses menyelidiki masalah riset khusus. Siswa diharapkan memperoleh konsep dan methode untuk melanjutkan pertumbuhan dalam masyarakat lebih luas.
2. Metode-Metode Kurikulum Subjek Akademik
Adalah dengan cara :
Pameran (eksposisi), penyelidikan merupakan dua titik teknik yang secara umum digunakan dalam kurikulum akademik.
Masalah atau gagasan dirumuskan dan diupayakan sehingga dapar dipahami mereka memeriksa pernyataan untuk menerangkan arti, landasan logika, dan dukungan factual mereka. Buku yang telah sangat terpengaruh kehidupan besar tidak diabaikan.
3. Organisasi
Ada beberapa pola organisasi isi (materi pelajaran) kurikulum subjek akademis. Pola-pola organisasi yang terpenting di antaranya:
• correlated curriculum adalah pola organisasi materi tau konsep yang dipelajari dalam suatu pelajaran dikorelasikan dengan pelajaran lainnya.
• Unified atau Concentrated curriculum adalah pola organisasi bahan pelajaran tersusun dalam tema-tema pelajran tertentu, yang mencakup materi dari berbagai pelajaran disiplin ilmu.
• Integrated curriculum. Kalau dalam unified masih tampak warna disiplin ilmunya, maka dalam pola yang integrated warna disiplin ilmu tersebut sudah tidak kelihatan lagi. Bahan ajar diintegrasikan dalam suatu persoalan, kegiatan atau segi kehidupan tertentu.
• Problem Solving Curriculum adalah pola organisasi isi yang berisi topik pemecahan masalah sosial yang dihadapi dalam kehidupan dengan menggunakan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh dari berbagai mata pelajarn atau disiplin ilmu
2.3 Penyesuaian Pelajaran dengan Perkembangan
Para pengembang kurikulum subjek akademis, lebih mengutamakan penyususnan bahan secara logis dan sistematis daripada menyalaraskan urutan bahan dengan kemampuan berpikir anak. Untuk mengatasi kelemahan-kelemahan di atas dalam perkembangan selanjutnya dilakukan beberapa penyempurnaan. Pertama, untuk mengimbangi penekannya pada proses berfikir, mereka mulai mendorong penggunaan intuisi dan tebakan-tebakan. Kedua, adanya upaya-upaya untuk menyesuaikan pelajaran dengan perbedaan individu dan kebutuhan setempat. Ketiga, pemanfaatan fasilitas dan sumber yang ada pada masyarakat.
2.4 Pemilihan Disiplin Ilmu
Masalah besar yang dihadapi oleh para pengembang kurikulum subjek akademis adalah bagaimana memilih materi pelajaran dari sekian banyak disiplin ilmu yang ada. Apabila ingin memiliki penguasaan yang cukup mendalam maka jumlah disiplin ilmunya harus sedikit. Apabila hanya mempelajari sedikit disiplin ilmu maka penguasaan para siswa akan sanagt terbatas, sukar menerapkannya dalam kehidupan masyarakat secara luas. Apabila disiplin ilmunya cukup banyak, maka tahap penguasaannya akan mendangkal. Anak-anak akan tahu banyak tetapi pengetahuannya hanya sedikit-sedikit (tidak mendalam).
Ada beberapa saran untuk mengatasi masalah tersebut, yaitu:
• Mengusahakan adanya penguasaan yang menyeluruh (comprehensiveness) dengan menekankan pada bagaimana cara menguji kebenaran atau mendapatkan pengetahuan.
• Mengutamakan kebutuhan masyarakat (social utility), memilih dan menentukan aspek-aspek dari disiplin ilmu yang sangat diperlukan dalam kehidupan masyarakat.
• Menekankan pengetahuan dasar, yaitu pengetahuan-pengetahuan yang menjadi dasar (prerequisite) bagi penguasaan disiplin-disiplin ilmu yang lainnya.
2.5 Bagaimana Harus Membuat Bahan Pelajaran yang Menarik Untuk Menumbuhkan Pemikiran
Kurikulum akademik telah ditutut untuk menempatkan logika dan keteraturan yang mendorong pemikiran akademik atas logika psikologik pelajar. Para akademis juga dikatakan tidak bersalah atad dua kesalahan kurikulum yaitu kesalahan isi dan kesalahan mengenaik keseluruhan (universalism).
Kesalahan bahan memiliki sesuatu yang menarik seluruh gagasan tidaklah diciptakan sama dan beberapa konsep maupun generalisasi, beberapa gagasan dan hasil penyelidikan yang lalu lebih berguna dan mendalam dari pada hal lain.
Gagasan yang menjadi alat dan karya seni yang menjadi indah, apabila gagasan itu didekati melalui cara yang sesuai dalam penyelidikan dan persepsi kesalah keseluruhan tergantung pada kepercayaan bahwa beberapa daerah bahan mempunyai nilai universal, tanpa memperhatikan ciri siswa tertentu.
Robet Maynar Hutchins, seorang pendidik Amerika yang terkenal ia mengatakan bahwa “pendidikan berarti pengajaran”. Pengajaran berarti ilmu pengetahuan sebagai kebenaran. Kebenaran adalah sama dimana-mana. Oleh karena itu pendidikan harus sama dimana-mana.
Kurikulum dalam bahan akademik yang lebih baru menggalakkan instuisi terkaan yang tajam – sebagai alat untuk mengenali pikiran analisis dari disiplin ilmu.Program akademik yang tumbuh dalam negeri berkembang. Bahkan, program itu mungkin bertahan hidup lebih baik dari pada pemindahan secara nasional.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Ahli akademik telah berupaya mengembangkan kurikulum yang membekali para pelajar memasuki dunia pengetahuan dengan konsep dasar dan metode untuk mengamati, mencatat hubungan, menganaslisis data dan menarik kesimpulan. Tetapi dalam pendekatan ini ditemukan beberapa kelemahan yakni :
1. Kegagalan untuk memberikan perhatian cukup terhadap tujuan integrative
2. Kecenderungan untuk memaksakan pandangan orang dewasa tentang bahan pelajaran.
DAFTAR PUSTAKA
1. Neil. John D. MC “Kurikulum Sebuah Pengantar Komprehensif” Jakarta ; Wira Sari 1988
2. http://id.wikipedia.org/wiki/kurikulum
Puji dan syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas berkat rahmatNya ini akhirnya kita dapat menyelesaikan tugas membuat makalah mata kuliah Pengantar Kurikulum.
Makalah ini berjudul “KURIKULUM SUBJEK AKADEMIK” Ucapan terima kasih kami sampaikan kepada: Dosen Mata Kuliah Pengantar Kurikulum Pak Khaerudin. Teman-teman sekelompok dan semua pihak yang telah membantu dalam rangka menyelesaikan makalah ini
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Perkembangan konsep kurikulum selalu mengikuti perkembangan zaman dan pada setiap negara sangat terkait dengan kebijakan yang diambil oleh penguasa. Khususnya di Indonesia, kurikulum selalu mengalami perubahan. Pada saat ini telah muncul Kurikulum 2006 atau kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP). Kurikulum ini merupakan penyempurnaan dari Kurikulum 2004. Sesuai dengan tuntunan zaman sekarang ini yang mengharuskan setiap manusia siap, otomatis pendidikan mmempunyai peranan yang amat penting. Pastinya baik, bermutu tidaknya sebuah institusi pendidikan sangat bergantung pada system kurikulumnya.
1.2 Rumusan Masalah
Dalam kesempatan kali ini kami akan mencoba memaparkan beberapa poin tersebut dibawah ini :
1. Apakah kecenderungan yang tambah itu ?
2. Bagaimanakah cirri kurikulum subjek akademik ?
3. Seperti apa publikasi kurikulum subjek akademik ?
1.3 Tujuan
Adapun tujuan kami mengangkat judul ini adalah :
1. Memberi wahana dan pandangan baru
2. Memanfaatkan pengetahuan kita yang sudah mulai kritis akan kurikulum
3. Menyiapkan diri setiap generasi agar siap menghadapi persaingan ilmu pengetahuan
4. Memperjelas keberadaan kurikulum
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Model Subjek Akademik
Model konsep kurikulum ini adalah model yang tertua, sejak sekolah yang pertama berdiri, kurikulumnya mirip dengan tipe ini. Sampai sekarang, walaupun telah berkembang tipe-tipe lain, umumnya sekolah tidak dapat melepaskan tipe ini. Kurikulum subjek akademis bersumber dari pendidikan klasik (perenialisme dan esensialisme) yang berorientasi pada masa lalu. Semua ilmu pengetahuan dan nilai-nilai telah ditemukan oleh para pemikir masa lalu. Fungsi pendidikan memelihara dan mewariskan hasil-hasil budaya masa lalu tersebut. Kurikulum ini lebih mengutamakan isi pendidikan.
Isi pendidikan diambil dari setiap disiplin ilmu. Sesuai dengan bidang disiplinnya para ahli, masing-masing telah mengembangkan ilmu secara sistematis, logis, dan solid. Karena kurikulum sangat mengutamkan pengetahuan maka pendidikannya lebih bersifat intelektual. Nama-nama mata pelajaran yang menjadi isi kurikulum hampir sama dengan disiplin ilmu, seperti bahasa dan sastra, geografi, matematika, ilmu kealaman, sejarah, dan sebagainya. Kurikulum subjek akademis tidak berarti hanya menekankan pada materi yang disampaikan, dalam perkembangnnya secara berangsur memperhatikan proses belajar yang dilakukan siswa. Proses belajar yang dipilih sangat bergantung pada segi apa yang dipentingkan dalam materi pelajaran tersebut.
Kurikulum adalah perangkat mata pelajaran yang diberikan oleh suatu lembaga penyelenggara pendidikan yang berisi rancangan pelajaran yang akan diberikan kepada peserta pelajaran dalam satu periode jenjang pendidikan. Penyusunan perangkat mata pelajaran ini disesuaikan dengan keadaan dan kemampuan setiap jenjang pendidikan dalam penyelenggaraan pendidikan tersebut.
Lama waktu dalam satu kurikulum biasanya disesuaikan dengan maksud dan tujuan dari sistem pendidikan yang dilaksanakan. Kurikulum ini dimaksudkan untuk dapat mengarahkan pendidikan menuju arah dan tujuan yang dimaksudkan dalam kegiatan pembelajaran secara menyeluruh.
Dalam buku yang berjudul “The Process of Education” Jerome Bruner mengusulkan bahwa rancangan kurikulum didasarkan pada struktuk disiplin akademik, Ia mengusulkan bahwa kurikulum mata pelajaran seharusnya ditentukan oleh pengertian yang paling mendasar yang dapat dicapai dari prinsip yang mendasari yang memberikan struktur pada suatu disiplin. Sebuah contoh dari kurikulum yang didasarkan atas struktur pengetahuan adalah Man : A course of Study (MACOS)
MACOS adalah kurikulum yang dirancang oleh siswa-siswa sekolah dasar dan terdiri dari buku, film, poster, catatan permainan dan bahan ruang kelas yang lain. Kurikulum ini menyatakan tentang manusia
Tiga pertanyaan penting pokok menjelaskan arti permasalahan intelektual dan menunjukan anggapan MACOS : apakah arti manusia dalam hubunganya dengan kemanusiaan ? Bagaimana mereka memperoleh cara itu bagaimana mereka dapat dibuat lebih manusiawi? Pengembangan pengembangan pelajaran menghandaki anak agar kakuatan pokok yang telah membentuk dan melanjutkan untuk membentuk kemanusiaan : Bahasa, pemakaian alat, organisasi social, mythology dan ketidak dewasaan yang berkepanjangan.
Model itelektual digunakan agar menyebabkan gagasan dapat dimengerti anak sesuai peraturan. Anak diberikan contoh lapangan dan didorong memberikan gagasan mereka tentang binatang dan ornag dengan cara yang dilakukan oeh ahli-ahli etnologi dan ahli antropologi. Tujuan dari MACOS adalah itelektual : memberikan anak rasa hormat dan kepercayaan akan kekuatan pikiran mereka sendiri dan memperlengkapi mereka dengan serangkaian model yang dapat dikerjakan yang membuatnya lebih mudah menganalisis hakikat lingkungan social. Adapun model dari penilaianya meliputi : model ilmiah tentang observasi, spekulasi, pembuatan dan ujian hipotesisi, mengerti tentnag disiplin ilmu pengetahuan social dan kegembiraan penemuan.
2.2 Ciri-ciri Kurikulum Subyek Akademik
Kurikulum subjek akademis mempunyai beberapa ciri berkenaan dengan tujuan, metode, organisasi isi, dan evaluasi. Tujuan kurikulum subjek akademis adalah pemberian pengetahuan yang solid serta melatih para siswa menggunakan ide-ide dan proses ”penelitian”. Metode yang paling banyak digunakan dalam kurikulm subjek akademis adalah metode ekspositori dan inkuiri. Ide-ide diberikan guru kemudian dielaborasi (dilaksanakan)siswa sampai mereka kuasai. Melalui proses tersebut para siswa akan menemukan, bahwa kemampuan berfikir dan mengamatin digunakan dalam ilmuj kealaman, logika digunakan dalam matematika, bentuk dan perasaan dalam seni dan koherensi dalam sejarah.
1. Maksud dan Fungsi
Maksud kurikulum adalah melatih siswa dalam menggunakan gagasan yang paling bermanfaat dan proses menyelidiki masalah riset khusus. Siswa diharapkan memperoleh konsep dan methode untuk melanjutkan pertumbuhan dalam masyarakat lebih luas.
2. Metode-Metode Kurikulum Subjek Akademik
Adalah dengan cara :
Pameran (eksposisi), penyelidikan merupakan dua titik teknik yang secara umum digunakan dalam kurikulum akademik.
Masalah atau gagasan dirumuskan dan diupayakan sehingga dapar dipahami mereka memeriksa pernyataan untuk menerangkan arti, landasan logika, dan dukungan factual mereka. Buku yang telah sangat terpengaruh kehidupan besar tidak diabaikan.
3. Organisasi
Ada beberapa pola organisasi isi (materi pelajaran) kurikulum subjek akademis. Pola-pola organisasi yang terpenting di antaranya:
• correlated curriculum adalah pola organisasi materi tau konsep yang dipelajari dalam suatu pelajaran dikorelasikan dengan pelajaran lainnya.
• Unified atau Concentrated curriculum adalah pola organisasi bahan pelajaran tersusun dalam tema-tema pelajran tertentu, yang mencakup materi dari berbagai pelajaran disiplin ilmu.
• Integrated curriculum. Kalau dalam unified masih tampak warna disiplin ilmunya, maka dalam pola yang integrated warna disiplin ilmu tersebut sudah tidak kelihatan lagi. Bahan ajar diintegrasikan dalam suatu persoalan, kegiatan atau segi kehidupan tertentu.
• Problem Solving Curriculum adalah pola organisasi isi yang berisi topik pemecahan masalah sosial yang dihadapi dalam kehidupan dengan menggunakan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh dari berbagai mata pelajarn atau disiplin ilmu
2.3 Penyesuaian Pelajaran dengan Perkembangan
Para pengembang kurikulum subjek akademis, lebih mengutamakan penyususnan bahan secara logis dan sistematis daripada menyalaraskan urutan bahan dengan kemampuan berpikir anak. Untuk mengatasi kelemahan-kelemahan di atas dalam perkembangan selanjutnya dilakukan beberapa penyempurnaan. Pertama, untuk mengimbangi penekannya pada proses berfikir, mereka mulai mendorong penggunaan intuisi dan tebakan-tebakan. Kedua, adanya upaya-upaya untuk menyesuaikan pelajaran dengan perbedaan individu dan kebutuhan setempat. Ketiga, pemanfaatan fasilitas dan sumber yang ada pada masyarakat.
2.4 Pemilihan Disiplin Ilmu
Masalah besar yang dihadapi oleh para pengembang kurikulum subjek akademis adalah bagaimana memilih materi pelajaran dari sekian banyak disiplin ilmu yang ada. Apabila ingin memiliki penguasaan yang cukup mendalam maka jumlah disiplin ilmunya harus sedikit. Apabila hanya mempelajari sedikit disiplin ilmu maka penguasaan para siswa akan sanagt terbatas, sukar menerapkannya dalam kehidupan masyarakat secara luas. Apabila disiplin ilmunya cukup banyak, maka tahap penguasaannya akan mendangkal. Anak-anak akan tahu banyak tetapi pengetahuannya hanya sedikit-sedikit (tidak mendalam).
Ada beberapa saran untuk mengatasi masalah tersebut, yaitu:
• Mengusahakan adanya penguasaan yang menyeluruh (comprehensiveness) dengan menekankan pada bagaimana cara menguji kebenaran atau mendapatkan pengetahuan.
• Mengutamakan kebutuhan masyarakat (social utility), memilih dan menentukan aspek-aspek dari disiplin ilmu yang sangat diperlukan dalam kehidupan masyarakat.
• Menekankan pengetahuan dasar, yaitu pengetahuan-pengetahuan yang menjadi dasar (prerequisite) bagi penguasaan disiplin-disiplin ilmu yang lainnya.
2.5 Bagaimana Harus Membuat Bahan Pelajaran yang Menarik Untuk Menumbuhkan Pemikiran
Kurikulum akademik telah ditutut untuk menempatkan logika dan keteraturan yang mendorong pemikiran akademik atas logika psikologik pelajar. Para akademis juga dikatakan tidak bersalah atad dua kesalahan kurikulum yaitu kesalahan isi dan kesalahan mengenaik keseluruhan (universalism).
Kesalahan bahan memiliki sesuatu yang menarik seluruh gagasan tidaklah diciptakan sama dan beberapa konsep maupun generalisasi, beberapa gagasan dan hasil penyelidikan yang lalu lebih berguna dan mendalam dari pada hal lain.
Gagasan yang menjadi alat dan karya seni yang menjadi indah, apabila gagasan itu didekati melalui cara yang sesuai dalam penyelidikan dan persepsi kesalah keseluruhan tergantung pada kepercayaan bahwa beberapa daerah bahan mempunyai nilai universal, tanpa memperhatikan ciri siswa tertentu.
Robet Maynar Hutchins, seorang pendidik Amerika yang terkenal ia mengatakan bahwa “pendidikan berarti pengajaran”. Pengajaran berarti ilmu pengetahuan sebagai kebenaran. Kebenaran adalah sama dimana-mana. Oleh karena itu pendidikan harus sama dimana-mana.
Kurikulum dalam bahan akademik yang lebih baru menggalakkan instuisi terkaan yang tajam – sebagai alat untuk mengenali pikiran analisis dari disiplin ilmu.Program akademik yang tumbuh dalam negeri berkembang. Bahkan, program itu mungkin bertahan hidup lebih baik dari pada pemindahan secara nasional.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Ahli akademik telah berupaya mengembangkan kurikulum yang membekali para pelajar memasuki dunia pengetahuan dengan konsep dasar dan metode untuk mengamati, mencatat hubungan, menganaslisis data dan menarik kesimpulan. Tetapi dalam pendekatan ini ditemukan beberapa kelemahan yakni :
1. Kegagalan untuk memberikan perhatian cukup terhadap tujuan integrative
2. Kecenderungan untuk memaksakan pandangan orang dewasa tentang bahan pelajaran.
DAFTAR PUSTAKA
1. Neil. John D. MC “Kurikulum Sebuah Pengantar Komprehensif” Jakarta ; Wira Sari 1988
2. http://id.wikipedia.org/wiki/kurikulum
PROFESI TEKNOLOGI PENDIDIKAN
BAB I
PENDAHULUAN
Berdasarkan definisi, sejarah, dan kawasan Teknologi Pendidikan, maka dapat dilihat bahwa Teknologi Pendidikan merupakan suatu teori, bidang, dan profesi. Sebagai teori Teknologi Pendidikan adalah teori mengenai bagaimana masalah-masalah yang muncul dalam kegiatan belajar manusia diidentifikasi dan dipecahkan. Sebagai teori Teknologi Pendidikan telah memenuhi tolak ukur suatu teori. Tolak ukur tersebut adalah (1) adanya gejala atau fenomena yang tidak sepenuhnya dapat dipahami dengan menggunakan teori-teori yang ada, yaitu adanya masalah belajar yang harus dipecahkan, (2) adanya penjelasan bagaimana masalah-masalah belajar dapat diidentifikasi dan dipecahkan, (3) adanya orientasi atau arah pandangan yang jelas, yaitu adanya keterpaduan teori dan praktik untuk memecahkan masalah belajar, (4) adanya sistematisasi kawasan Teknologi Pendidikan, (5) adanya identifikasi kesenjangan (domain Teknologi pendidikan membuka peluang munculnya berbagai kesenjangan untuk diteliti), (6) melahirkan strategi penelitian, (7) adanya prediksi, yaitu munculnya berbagai alternatif pemecahan masalah belajar, dan (8) mengandung serangkaian prinsip (berbagai unsur Teknologi Pendidikan).
Sebagai bidang Teknologi Pendidikan merupakan penerapan teori dan praktik secara terpadu mencakup kelima domain atau kawasan Teknologi Pendidikan, yaitu desain, pengembangan, pemanfaatan, pengelolaan, dan evaluasi. Bidang kegiatan tersebut semuanya tertuju untuk memecahkan masalah belajar manusia. Sebagai profesi Teknologi Pendidikan terbentuk dari usaha yang direncanakan secara sistematis (terorganisir) guna melaksanakan teori, teknik intelektual dan penerapan praktis Teknologi Pendidikan. Mengingat begitu kompleksnya cakupan Teknologi Pendidikan, maka dalam makalah ini diungkap sebagian kecil hal-hal yang berkenaan dengan Teknologi Pendidikan. Hal-hal tersebut adalah (1) definisi Teknologi Pendidikan, (2) pengertian dan karakteristik profesi, (3) pengertian profesi Teknologi Pendidikan, (4) fungsi profesi Teknologi Pendidikan, (5) tugas pokok Profesi Teknologi Pendidikan, (6) pendidikan keahlian Teknologi Pendidikan, (7) organisasi profesi Teknologi Pendidikan dan (8) kode etik profesi Teknologi Pendidikan.
BAB II
PEMBAHASAN
A. DEFINISI TEKNOLOGI PENDIDIKAN
Dalam sejarah Teknologi Pendidikan, digunakan dua istilah, yaitu Teknologi Pendidikan dan Teknologi Pembelajaran. Dilihat dari ruang lingkup pendidikan dan pembelajaran, maka pendidikan memiliki ruang lingkup yang lebih luas bila dibandingkan dengan pembelajaran. Pembelajaran merupakan salah satu bagian dari pendidikan. Pendidikan itu meliputi pembelajaran, pelatihan, pembimbingan, dan sebagainya. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa Teknologi Pembelajaran merupakan bagian dari Teknologi Pendidikan.
Menurut Ely (dalam buku ‘Menyemai Benih Teknologi Pendidikan) definisi Teknologi Pendidikan merupakan ramuan sejumlah disiplin dasar dan bidang terapannya seperti disiplin komunikasi, psikologi, evaluasi dan manajemen, serta disiplin terapannya, misalnya psikologi persepsi, psikologi kognisi, media, sistem dan penilaian kebutuhan menjadi suatu prinsip, prosedur, serta keterampilan yang digunakan untuk memecahkan masalah belajar yang tidak terpecahkan dengan pendekatan yang telah ada sebelumnya.
Definisi serupa diungkapkan Ardhana (1992, 1993) yang menyatakan bahwa Teknologi Pendidikan merupakan penggabungan antara teknologi pembelajaran, teknologi belajar, teknologi perkembangan, teknologi pengelolaan dan teknologi-teknologi lain untuk keperluan pemecahan masalah-masalah pendidikan. Teknologi Pembelajaran dikatakan sebagai penerapan secara sistemik dan sistematis strategi dan teknik-teknik yang dirumuskan dari berbagai teori untuk keperluan pemecahan masalah-masalah pembelajaran.
Menurut definisi AECT (Association for Educational Communication and Technology) 1977, Teknologi Instruksional adalah proses yang komplek dan terpadu yang melibatkan orang, prosedur, ide, peralatan, dan organisasi, untuk menganalisis masalah, mencari cara pemecahan, melaksanakan, mengevaluasi dan mengelola pemecahan-pemecahan masalah dalam situasi dimana kegiatan belajar itu mempunyai tujuan dan terkontrol. Ada dua kegiatan utama dalam kawasan Teknologi Pembelajaran, yaitu pengelolaan instruksional dan pengembangan instruksional yang dapat berupa riset teori, disain, produksi, evaluasi, seleksi, pemanfaatan dan penyebarluasan.
B. PENGERTIAN DAN KARAKTERISTIK PROFESI
Ibrahim (2002) merangkum beberapa pendapat tentang arti profesi menjadi sebuah rumusan pengertian profesi. Hasil rangkuman beliau adalah ”profesi dapat diartikan sebagai suatu lapangan pekerjaan yang dalam melaksanakan tugasnya memerlukan teknik dan prosedur ilmiah, memiliki dedikasi serta cara menyikapi lapangan pekerjaan yang berorientasi pada pelayanan ahli yang dilandasi filosofi yang mantap”. Hakikat profesi adalah hal yang mendalam, mendasar dan merupakan esensi dari profesi. Jika hal-hal yang mendasar dan esensi dihilangkan, maka hilang juga arti profesi. Berdasarkan pemikiran itu, maka hakikat profesi adalah tanggapan (respon) yang bijaksana, serta pelayanan/pengabdian yang dilandasi oleh keahlian, teknik dan prosedur yang mantap, serta sikap kepribadian tertentu. Seorang pekerja profesional akan selalu mengadakan pelayanan/pengabdian yang dilandasi kemampuan profesional, serta falsafah yang mantap (diwujudkan dalam perilaku sesuai etika).
C. PENGERTIAN PROFESI TEKNOLOGI PENDIDIKAN
Tenaga profesi teknologi pendidikan sebagai tenaga ahli dan atau mahir dalam membelajarkan peserta didik dengan memadukan secara sistemik komponen sarana belajar meliputi orang, isi ajaran, media atau bahan ajaran, peralatan, teknik, dan lingkungan. Definisi teknologi pendidikan di atas jika dihubungkan dengan definisi yang dikemukakan oleh AECT tahun 1994. Dalam AECT tahun 1994 telah dirumuskan definisi teknologi pendidikan seperti telah disebutkan dalam Latar Belakang di atas bahwa: “Teknologi pembelajaran adalah teori dan praktek dalam desain, pengembangan, pemanfaatan, pengelolaan serta penilaian proses dan sumber untuk belajar”. Dari kedua definisi itu maka pengertian profesi teknologi pendidikan adalah tenaga ahli yang melakukan teori dan praktek dalam mendesain, mengembangkan, memanfaatkan serta menilai proses dan sumber untuk membelajarkan peserta didik.
D. FUNGSI PROFESI TEKNOLOGI PENDIDIKAN
Fungsi profesi teknologi pendidikan memfasilitasi kegiatan belajar manusia melalui pendekatan-pendekatan atau cara-cara tertentu. Dengan demikian profesi teknologi pendidikan dapat menjadikan orang bertambah dalam kegiatan belajar sekaligus menjadikan orang bertambah cerdas baik dari jumlah orang yang cerdas maupun mutu dari kecerdasan itu sendiri. Dengan kecerdasan ini berarti akan meningkatkan nilai tambah seseorang sebagai sumber daya manusia, mengatasi masalah belajar baik individu ataupun kelompok, dan juga akan meningkatkan kinerja
E. TUGAS POKOK PROFESI TEKNOLOGI PENDIDIKAN
Tugas pokok profesi teknologi pendidikan seperti berikut ini.
1. Perancang (desainer): tugas ini meliputi mendesain sistem pembelajaran, desain pesan, stratedi pembelajaran, dan karakteristik pebelajar.
2. Pengembang (developer): tugas ini meliputi produksi dan penyampaian teknologi cetak, teknologi audio visual, teknologi berbasis komputer dan teknologi terpadu.
3. Pemanfaat/Pengguna (User): tugas ini meliputi pemanfaatan media, difusi inovasi, implementasi dan pelembagaan, dan kebijakan/regulasi. Pemanfaatan media merupakan penggunaan yang sistematis dari sumber untuk belajar.
4. Pengelola (Manager): tugas ini meliputi pengelola proyek, pengelola sumber, pengelola sistem penyampaian, dan pengelola informasi.
5. Penilai (Evaluator): tugas ini meliputi menganalisis masalah, mengukur yang beracuan patokan, menilai secara formatif dan sumatif.
6. Peneliti (Researcher), tugas ini meliputi kegiatan penelitian yang berkaitan dengan teknologi pendidikan. Kegiatan penelitian ini mencakup penelitian dalam kawasan desain, pengembangan, pemanfaatan, pengelolaan, dan penilaian.
F. PENDIDIKAN KEAHLIAN TEKNOLOGI PENDIDIKAN
Pendidikan dan latihan keahlian teknologi pendidikan telah dimulai sejak akhir 1950-an dengan mengirim tenaga keluar negeri. Pendidikan dan keahlian semakin mendapat perhatian sejak awal Orde Baru dengan bantuan dari UNDP/UNESCO dan pemerintah Amerika Serikat.
Tenaga ahli yang telah dididik diluar negeri tersebut kemudian diberi tanggung jawab untuk menyelenggarakan pendidikan keahlian didalam negeri. Program akademik jenjang S1 (sarjana) dengan keahlian teknologi pendidikan dibuka di IKIP Jakarta pada tahun 1976. dua tahun kemudian dibuka pendidikan keahlian pada jenjang S2 (Magister)dan S3 (doktor) Teknologi Pendidikan. Pada Tahun 1979 pendidikan keahlian teknologi pendidikan pada jenjang S1 diselenggarakan ditujuh IKIP (Padang, Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, dan UjungPandang). Pada jenjang pasca sarjana selain di IKIP Jakarta juga di IKIP Malang. Pendidikan ini secara umum ditujukan untuk menghasilkan tenaga profesi teknologi pendidikan yang bergerak dan berkarya dalam seluruh bidang pendidikan, dan mengusahakan terciptanya keseimbangan dan keselarasan hubungan dengan profesi lain, untuk terwujudkannya gagasan dasar perkembangan tiap individu pribadi manusia Indonesia Seutuhnya.
Pendidikan keahlian Teknologi Pendidikan pada jenjang sarjana S1 ditujukan untuk penguasaan kemampuan :
1. Memahami landasan teori/riset an aplikasi teknologi pendidikan.
2. Merancang pola instruksional
3. Memproduksi media pendidikan
4. Mengevaluasi program dan produk instruksional
5. Mengelola Media dan sarana belajar
6. Memanfaatkan sarana,media,dan teknik instruksional
7. Menyebarkan informasi dan produk teknologi pendidikan
8. Mengoperasikan sendiri dan melatih orang lain dalam mengoperasikan peralatan audiovisual.
Pada Jenjang S2 kompetensi lulusan adalah sebagai berikut :
1. Menerapkan pendekatan sistem dalam rangka pengembangan pembelajaran, baik pada tingkat mikro/kelas maupun dalam konteks pendidikan maupun latihan.
2. Merencanakan kurikulum, pemilihan strategi pembelajaran, serta penilaian pelaksanaannya.
3. Merancang, memproduksi, dan menilai bahan bahan pembelajaran.
4. Mengelola Lembaga sumber belajar.
5. Melatih dan mendidik orang lain dalam berbagai aspek teknologi pendidikan.
6. Menyebarkan konsep dan aplikasi teknologi pendidikan.
Sedangkan pada jenjang S3 adalah sebagai berikut :
1. Mampu mengkaji dan menganalisis teori/konsep dan temuan penelitian dibidang instruksional dan meramunya menjadi sutau teori/konsep pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik budaya Indonesia.
2. Mampu mengidentifikasikan dan mengkaji kebijakan pendidikan dan masalah pelaksanaannya, dan menselaraskannya dengan perkembangan IPTEK dan SOSEKBUD.
3. Mampu melaksanakan sendiri dan memimpin kegiatan penelitian dan pengembangan, baik untuk menguji teori instruksional, maupun menghasilkan inovasi dalam proses dan sistem pendidikan
G. ORGANISASI PROFESI TEKNOLOGI PENDIDIKAN
Di Indonesia, tenaga profesi itu terhimpun dalam wadah Ikatan Profesi Teknologi Pendidikan Indonesia ( IPTPI ) yayng didirikan pada tanggal 27 September 1987. Dasar pertimbangan pendirian organisasai profesi adalah karena makin kompleksnya usaha pendidikan ( termasuk penyuluhan dan pembinaan ) sumber daya manusia, sehingga dirasa perlu adanya forum profesi untuk saling bertukar pengalaman, peningkatan kemampuan dan untuk menjaga keselarasan antara perkembangan IPTEK dengan kondisi lingkungan dan kebutuhan belajar.
Visi
Dengan semangat kemitraan menjadi suatu lembaga yang tanggap dan tangguh dalam memberdayakan pemelajar ( learner ), melalui kegiatan merancang, mengembangkan, melaksanakan, menilai dan mengelola proses serta sumber belajar
Misi
IPTPI mempunyai misi memimpin, memberikan keteladan dan kepemimpinan dalam pengembangkan dan peningkatan profesionalitas para anggotanya, agar mereka mampu untuk memberdayakan peserta didik/warga belajar, sesuai dengan perkembangan ilmu dan teknologi belajar, sesuai dengan perkembangan ilmu dan teknologi serta kondisi dan lingkungan, sehingga peserta didik/warga belajar tersebut mampu menguasai kompetensi yang diperlukan, serta meningkatkan kinerja dan produktivitasnya.
Tujuan
Menghimpun sumber daya untuk menyumbangkn tenaga dan pikiran bagi pengembangan teknologi pendidikan sebagai suatu teori, bidang dan profesi di tanah air, bagi pembedayaan peserta didik / warga belajar serta kemanfaatannya bagi kemajuan bangsa Indonesia.
H. KODE ETIK PROFESI TEKNOLOGI PENDIDIKAN
Ciri utama dalam profesi Teknologi Pendidikan adalah adanya kode etik, pendidikan dan latihan yang memadai, serta pengabdian yang terus menerus. Tujuan kode etik ini secara umum adalah :
1. Melindungi dan memperjuangkan kepentingan peserta didik
2. Melindungi kepentingan masyarakat, bangsa dan Negara
3. Melindungi dan membina diri serta sejawat profesi dan
4. Mengembangkan kawasan dan bidang kajian teknologi pendidikan.
BAB III
KESIMPULAN
Profesi Teknologi merupakan profesi yang memihak, yaitu memihak pada kepentingan si belajar, agar mereka memperoleh kemudahan untuk belajar. Penerapan teknologi pendidikan pasti mempengaruhi komponen-komponen lain dalam sistem pendidikan. Pengaruh ini pada gilirannya akan membawa akibat terhadap kelembagaan, dan tanggung jawab pendidikan. Seterusnya akan mempengaruhi ekonomi dan masyarakat secara keseluruhan.
Dengan tersedianya tenaga terdidik dan terlatih dalam bidang Teknologi Pendidikan dan adanya organisasi profesi, maka secara konseptual akan terjamin usaha penerapan teknologi pendidikan dalam lembaga - lembaga yang menyelenggarakan kegiatan belajar dan pembelajaran.
Pembangunan sistem pendidikan di Indonesia hanya mungkin dapat terlaksana sesuai dengan harapan jika dipahami arti penting Teknologi pendidikan, sehingga peran dan potensinya dapat diwujudkan secara optimal.
sumber :
http://bernaldytep.wordpress.com/
http://www.lafreesoft.co.cc/
http://harmadi-derasid.blogspot.com/
PENDAHULUAN
Berdasarkan definisi, sejarah, dan kawasan Teknologi Pendidikan, maka dapat dilihat bahwa Teknologi Pendidikan merupakan suatu teori, bidang, dan profesi. Sebagai teori Teknologi Pendidikan adalah teori mengenai bagaimana masalah-masalah yang muncul dalam kegiatan belajar manusia diidentifikasi dan dipecahkan. Sebagai teori Teknologi Pendidikan telah memenuhi tolak ukur suatu teori. Tolak ukur tersebut adalah (1) adanya gejala atau fenomena yang tidak sepenuhnya dapat dipahami dengan menggunakan teori-teori yang ada, yaitu adanya masalah belajar yang harus dipecahkan, (2) adanya penjelasan bagaimana masalah-masalah belajar dapat diidentifikasi dan dipecahkan, (3) adanya orientasi atau arah pandangan yang jelas, yaitu adanya keterpaduan teori dan praktik untuk memecahkan masalah belajar, (4) adanya sistematisasi kawasan Teknologi Pendidikan, (5) adanya identifikasi kesenjangan (domain Teknologi pendidikan membuka peluang munculnya berbagai kesenjangan untuk diteliti), (6) melahirkan strategi penelitian, (7) adanya prediksi, yaitu munculnya berbagai alternatif pemecahan masalah belajar, dan (8) mengandung serangkaian prinsip (berbagai unsur Teknologi Pendidikan).
Sebagai bidang Teknologi Pendidikan merupakan penerapan teori dan praktik secara terpadu mencakup kelima domain atau kawasan Teknologi Pendidikan, yaitu desain, pengembangan, pemanfaatan, pengelolaan, dan evaluasi. Bidang kegiatan tersebut semuanya tertuju untuk memecahkan masalah belajar manusia. Sebagai profesi Teknologi Pendidikan terbentuk dari usaha yang direncanakan secara sistematis (terorganisir) guna melaksanakan teori, teknik intelektual dan penerapan praktis Teknologi Pendidikan. Mengingat begitu kompleksnya cakupan Teknologi Pendidikan, maka dalam makalah ini diungkap sebagian kecil hal-hal yang berkenaan dengan Teknologi Pendidikan. Hal-hal tersebut adalah (1) definisi Teknologi Pendidikan, (2) pengertian dan karakteristik profesi, (3) pengertian profesi Teknologi Pendidikan, (4) fungsi profesi Teknologi Pendidikan, (5) tugas pokok Profesi Teknologi Pendidikan, (6) pendidikan keahlian Teknologi Pendidikan, (7) organisasi profesi Teknologi Pendidikan dan (8) kode etik profesi Teknologi Pendidikan.
BAB II
PEMBAHASAN
A. DEFINISI TEKNOLOGI PENDIDIKAN
Dalam sejarah Teknologi Pendidikan, digunakan dua istilah, yaitu Teknologi Pendidikan dan Teknologi Pembelajaran. Dilihat dari ruang lingkup pendidikan dan pembelajaran, maka pendidikan memiliki ruang lingkup yang lebih luas bila dibandingkan dengan pembelajaran. Pembelajaran merupakan salah satu bagian dari pendidikan. Pendidikan itu meliputi pembelajaran, pelatihan, pembimbingan, dan sebagainya. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa Teknologi Pembelajaran merupakan bagian dari Teknologi Pendidikan.
Menurut Ely (dalam buku ‘Menyemai Benih Teknologi Pendidikan) definisi Teknologi Pendidikan merupakan ramuan sejumlah disiplin dasar dan bidang terapannya seperti disiplin komunikasi, psikologi, evaluasi dan manajemen, serta disiplin terapannya, misalnya psikologi persepsi, psikologi kognisi, media, sistem dan penilaian kebutuhan menjadi suatu prinsip, prosedur, serta keterampilan yang digunakan untuk memecahkan masalah belajar yang tidak terpecahkan dengan pendekatan yang telah ada sebelumnya.
Definisi serupa diungkapkan Ardhana (1992, 1993) yang menyatakan bahwa Teknologi Pendidikan merupakan penggabungan antara teknologi pembelajaran, teknologi belajar, teknologi perkembangan, teknologi pengelolaan dan teknologi-teknologi lain untuk keperluan pemecahan masalah-masalah pendidikan. Teknologi Pembelajaran dikatakan sebagai penerapan secara sistemik dan sistematis strategi dan teknik-teknik yang dirumuskan dari berbagai teori untuk keperluan pemecahan masalah-masalah pembelajaran.
Menurut definisi AECT (Association for Educational Communication and Technology) 1977, Teknologi Instruksional adalah proses yang komplek dan terpadu yang melibatkan orang, prosedur, ide, peralatan, dan organisasi, untuk menganalisis masalah, mencari cara pemecahan, melaksanakan, mengevaluasi dan mengelola pemecahan-pemecahan masalah dalam situasi dimana kegiatan belajar itu mempunyai tujuan dan terkontrol. Ada dua kegiatan utama dalam kawasan Teknologi Pembelajaran, yaitu pengelolaan instruksional dan pengembangan instruksional yang dapat berupa riset teori, disain, produksi, evaluasi, seleksi, pemanfaatan dan penyebarluasan.
B. PENGERTIAN DAN KARAKTERISTIK PROFESI
Ibrahim (2002) merangkum beberapa pendapat tentang arti profesi menjadi sebuah rumusan pengertian profesi. Hasil rangkuman beliau adalah ”profesi dapat diartikan sebagai suatu lapangan pekerjaan yang dalam melaksanakan tugasnya memerlukan teknik dan prosedur ilmiah, memiliki dedikasi serta cara menyikapi lapangan pekerjaan yang berorientasi pada pelayanan ahli yang dilandasi filosofi yang mantap”. Hakikat profesi adalah hal yang mendalam, mendasar dan merupakan esensi dari profesi. Jika hal-hal yang mendasar dan esensi dihilangkan, maka hilang juga arti profesi. Berdasarkan pemikiran itu, maka hakikat profesi adalah tanggapan (respon) yang bijaksana, serta pelayanan/pengabdian yang dilandasi oleh keahlian, teknik dan prosedur yang mantap, serta sikap kepribadian tertentu. Seorang pekerja profesional akan selalu mengadakan pelayanan/pengabdian yang dilandasi kemampuan profesional, serta falsafah yang mantap (diwujudkan dalam perilaku sesuai etika).
C. PENGERTIAN PROFESI TEKNOLOGI PENDIDIKAN
Tenaga profesi teknologi pendidikan sebagai tenaga ahli dan atau mahir dalam membelajarkan peserta didik dengan memadukan secara sistemik komponen sarana belajar meliputi orang, isi ajaran, media atau bahan ajaran, peralatan, teknik, dan lingkungan. Definisi teknologi pendidikan di atas jika dihubungkan dengan definisi yang dikemukakan oleh AECT tahun 1994. Dalam AECT tahun 1994 telah dirumuskan definisi teknologi pendidikan seperti telah disebutkan dalam Latar Belakang di atas bahwa: “Teknologi pembelajaran adalah teori dan praktek dalam desain, pengembangan, pemanfaatan, pengelolaan serta penilaian proses dan sumber untuk belajar”. Dari kedua definisi itu maka pengertian profesi teknologi pendidikan adalah tenaga ahli yang melakukan teori dan praktek dalam mendesain, mengembangkan, memanfaatkan serta menilai proses dan sumber untuk membelajarkan peserta didik.
D. FUNGSI PROFESI TEKNOLOGI PENDIDIKAN
Fungsi profesi teknologi pendidikan memfasilitasi kegiatan belajar manusia melalui pendekatan-pendekatan atau cara-cara tertentu. Dengan demikian profesi teknologi pendidikan dapat menjadikan orang bertambah dalam kegiatan belajar sekaligus menjadikan orang bertambah cerdas baik dari jumlah orang yang cerdas maupun mutu dari kecerdasan itu sendiri. Dengan kecerdasan ini berarti akan meningkatkan nilai tambah seseorang sebagai sumber daya manusia, mengatasi masalah belajar baik individu ataupun kelompok, dan juga akan meningkatkan kinerja
E. TUGAS POKOK PROFESI TEKNOLOGI PENDIDIKAN
Tugas pokok profesi teknologi pendidikan seperti berikut ini.
1. Perancang (desainer): tugas ini meliputi mendesain sistem pembelajaran, desain pesan, stratedi pembelajaran, dan karakteristik pebelajar.
2. Pengembang (developer): tugas ini meliputi produksi dan penyampaian teknologi cetak, teknologi audio visual, teknologi berbasis komputer dan teknologi terpadu.
3. Pemanfaat/Pengguna (User): tugas ini meliputi pemanfaatan media, difusi inovasi, implementasi dan pelembagaan, dan kebijakan/regulasi. Pemanfaatan media merupakan penggunaan yang sistematis dari sumber untuk belajar.
4. Pengelola (Manager): tugas ini meliputi pengelola proyek, pengelola sumber, pengelola sistem penyampaian, dan pengelola informasi.
5. Penilai (Evaluator): tugas ini meliputi menganalisis masalah, mengukur yang beracuan patokan, menilai secara formatif dan sumatif.
6. Peneliti (Researcher), tugas ini meliputi kegiatan penelitian yang berkaitan dengan teknologi pendidikan. Kegiatan penelitian ini mencakup penelitian dalam kawasan desain, pengembangan, pemanfaatan, pengelolaan, dan penilaian.
F. PENDIDIKAN KEAHLIAN TEKNOLOGI PENDIDIKAN
Pendidikan dan latihan keahlian teknologi pendidikan telah dimulai sejak akhir 1950-an dengan mengirim tenaga keluar negeri. Pendidikan dan keahlian semakin mendapat perhatian sejak awal Orde Baru dengan bantuan dari UNDP/UNESCO dan pemerintah Amerika Serikat.
Tenaga ahli yang telah dididik diluar negeri tersebut kemudian diberi tanggung jawab untuk menyelenggarakan pendidikan keahlian didalam negeri. Program akademik jenjang S1 (sarjana) dengan keahlian teknologi pendidikan dibuka di IKIP Jakarta pada tahun 1976. dua tahun kemudian dibuka pendidikan keahlian pada jenjang S2 (Magister)dan S3 (doktor) Teknologi Pendidikan. Pada Tahun 1979 pendidikan keahlian teknologi pendidikan pada jenjang S1 diselenggarakan ditujuh IKIP (Padang, Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, dan UjungPandang). Pada jenjang pasca sarjana selain di IKIP Jakarta juga di IKIP Malang. Pendidikan ini secara umum ditujukan untuk menghasilkan tenaga profesi teknologi pendidikan yang bergerak dan berkarya dalam seluruh bidang pendidikan, dan mengusahakan terciptanya keseimbangan dan keselarasan hubungan dengan profesi lain, untuk terwujudkannya gagasan dasar perkembangan tiap individu pribadi manusia Indonesia Seutuhnya.
Pendidikan keahlian Teknologi Pendidikan pada jenjang sarjana S1 ditujukan untuk penguasaan kemampuan :
1. Memahami landasan teori/riset an aplikasi teknologi pendidikan.
2. Merancang pola instruksional
3. Memproduksi media pendidikan
4. Mengevaluasi program dan produk instruksional
5. Mengelola Media dan sarana belajar
6. Memanfaatkan sarana,media,dan teknik instruksional
7. Menyebarkan informasi dan produk teknologi pendidikan
8. Mengoperasikan sendiri dan melatih orang lain dalam mengoperasikan peralatan audiovisual.
Pada Jenjang S2 kompetensi lulusan adalah sebagai berikut :
1. Menerapkan pendekatan sistem dalam rangka pengembangan pembelajaran, baik pada tingkat mikro/kelas maupun dalam konteks pendidikan maupun latihan.
2. Merencanakan kurikulum, pemilihan strategi pembelajaran, serta penilaian pelaksanaannya.
3. Merancang, memproduksi, dan menilai bahan bahan pembelajaran.
4. Mengelola Lembaga sumber belajar.
5. Melatih dan mendidik orang lain dalam berbagai aspek teknologi pendidikan.
6. Menyebarkan konsep dan aplikasi teknologi pendidikan.
Sedangkan pada jenjang S3 adalah sebagai berikut :
1. Mampu mengkaji dan menganalisis teori/konsep dan temuan penelitian dibidang instruksional dan meramunya menjadi sutau teori/konsep pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik budaya Indonesia.
2. Mampu mengidentifikasikan dan mengkaji kebijakan pendidikan dan masalah pelaksanaannya, dan menselaraskannya dengan perkembangan IPTEK dan SOSEKBUD.
3. Mampu melaksanakan sendiri dan memimpin kegiatan penelitian dan pengembangan, baik untuk menguji teori instruksional, maupun menghasilkan inovasi dalam proses dan sistem pendidikan
G. ORGANISASI PROFESI TEKNOLOGI PENDIDIKAN
Di Indonesia, tenaga profesi itu terhimpun dalam wadah Ikatan Profesi Teknologi Pendidikan Indonesia ( IPTPI ) yayng didirikan pada tanggal 27 September 1987. Dasar pertimbangan pendirian organisasai profesi adalah karena makin kompleksnya usaha pendidikan ( termasuk penyuluhan dan pembinaan ) sumber daya manusia, sehingga dirasa perlu adanya forum profesi untuk saling bertukar pengalaman, peningkatan kemampuan dan untuk menjaga keselarasan antara perkembangan IPTEK dengan kondisi lingkungan dan kebutuhan belajar.
Visi
Dengan semangat kemitraan menjadi suatu lembaga yang tanggap dan tangguh dalam memberdayakan pemelajar ( learner ), melalui kegiatan merancang, mengembangkan, melaksanakan, menilai dan mengelola proses serta sumber belajar
Misi
IPTPI mempunyai misi memimpin, memberikan keteladan dan kepemimpinan dalam pengembangkan dan peningkatan profesionalitas para anggotanya, agar mereka mampu untuk memberdayakan peserta didik/warga belajar, sesuai dengan perkembangan ilmu dan teknologi belajar, sesuai dengan perkembangan ilmu dan teknologi serta kondisi dan lingkungan, sehingga peserta didik/warga belajar tersebut mampu menguasai kompetensi yang diperlukan, serta meningkatkan kinerja dan produktivitasnya.
Tujuan
Menghimpun sumber daya untuk menyumbangkn tenaga dan pikiran bagi pengembangan teknologi pendidikan sebagai suatu teori, bidang dan profesi di tanah air, bagi pembedayaan peserta didik / warga belajar serta kemanfaatannya bagi kemajuan bangsa Indonesia.
H. KODE ETIK PROFESI TEKNOLOGI PENDIDIKAN
Ciri utama dalam profesi Teknologi Pendidikan adalah adanya kode etik, pendidikan dan latihan yang memadai, serta pengabdian yang terus menerus. Tujuan kode etik ini secara umum adalah :
1. Melindungi dan memperjuangkan kepentingan peserta didik
2. Melindungi kepentingan masyarakat, bangsa dan Negara
3. Melindungi dan membina diri serta sejawat profesi dan
4. Mengembangkan kawasan dan bidang kajian teknologi pendidikan.
BAB III
KESIMPULAN
Profesi Teknologi merupakan profesi yang memihak, yaitu memihak pada kepentingan si belajar, agar mereka memperoleh kemudahan untuk belajar. Penerapan teknologi pendidikan pasti mempengaruhi komponen-komponen lain dalam sistem pendidikan. Pengaruh ini pada gilirannya akan membawa akibat terhadap kelembagaan, dan tanggung jawab pendidikan. Seterusnya akan mempengaruhi ekonomi dan masyarakat secara keseluruhan.
Dengan tersedianya tenaga terdidik dan terlatih dalam bidang Teknologi Pendidikan dan adanya organisasi profesi, maka secara konseptual akan terjamin usaha penerapan teknologi pendidikan dalam lembaga - lembaga yang menyelenggarakan kegiatan belajar dan pembelajaran.
Pembangunan sistem pendidikan di Indonesia hanya mungkin dapat terlaksana sesuai dengan harapan jika dipahami arti penting Teknologi pendidikan, sehingga peran dan potensinya dapat diwujudkan secara optimal.
sumber :
http://bernaldytep.wordpress.com/
http://www.lafreesoft.co.cc/
http://harmadi-derasid.blogspot.com/
Langganan:
Postingan (Atom)