Rabu, 04 April 2012

Hayoo Kamu Memiliki kategori adopter yang mana ????????

diskusi Mata Kuliah DIP kali ini membahas tentang hubungan kategori adopter dengan innovatiness.

Sebelum membahas lebih jauh tentang kategori adopter, sebenarnya apa sih kategori adaptor itu ?? dan apa juga innovatiness ??

Saya jelaskan, jadi kategori adopter itu adalah sekelompok orang yang menerima hasil dari sebuah inovasi. sedangkan innovatiness adalah individu atau kelompok yang bisa dengan cepat menerima inovasi dengan cepat dibandingkan individu atau kelompok lain. Itu menurut saya lloh,,

Jadi, menurut saya adopter dengan innovatines sangat berhubungan karena untuk mengadopsi sebuah ide itu memerlukan seorang adopter untuk memudahkan anggota dalam menerima sebuah ide tersebut. Karena setiap individu atau kelompok berbeda daya tangkapnya yang nantinya akan masuk kedalam kelompok adopter tersebut. Adapun 5 kelompok tersebut adalah Inovator, Awal Adopter (Early Adopter), Awal Mayoritas: (Early Majority), Mayoritas Akhir.(Late Majority), Orang terlambat/Tradisional (laggards/avoiders)

Kalau para ahli berpendapat bahwa adopter itu adalah orang yang memakai atau menerima suatu inovasi (E.Rogers) dan Rogers pun menambahkan kategori adopter menjadi 5 bagian yaitu :

-. Innovators, kelompok orang yang berani untuk mencoba sebuah inovasi yang baru, mereka pun hubungan sosial lebih baik dibanding orang lain. Dan terdapat 2,5% dari jumlah orang yang ada.

-. Early Adopter (pengguna Awal), kategori ini dikenal karena memberi opini yang banyak. Jika, dibandingkan dengan kategori lain. Dan terdapat 13,5% dari jumlah orang yang ada.

-. Early Majority (Kalayak Dini), Kategori ini adalah keompok yang sebelum mengadopsi sebuah inovasi mereka berhati-hati. Dan terdapat 34% dari jumlah orang yang ada.

-. Late Majority (Kalayak Akhir), kategori ini adalah kategori yang sangat berhati-hati dalam memilih inovasi dan lebih sering mereka menunggu orang sebelum mencoba inovasi tersebut. Dan terdapat 34% dari jumlah orang yang ada.

-. Laggards (Lamban), sedangkan katagori ini adalah sebuah sistem yang bersifat sangat tradisional dan tidak mau sama sekali mencoba hal baru. Dan terdapat 16% dari jumlah orang yang ada.

Sedangkan E.Rogers berpendapat innovatines adalah tingkat yang berkenaan dengan seberapa lama seseorang/kelompok/sistem sosial lebih dulu dalam mengadopsi ide-ide baru dari konsep-konsep difusi inovasi dari yang lain.

Tadi itu pembahasan sedikit tentang apa itu innovatines dan adopter. Dan berikut merupakan hasil diskusi yang saya peroleh dari hasil jawaban teman-teman Teknologi Pendidikan dalam forum DIP facebook.










(Table Mengenai Kategori Adopter Pilihan Teman-Teman Teknologi Pendidikan)


Di atas itu merupakan Table tentang pilihan teman-teman, dapat disimpulkan bahwa ada 14 mahasiswa yang memilih innovator, 6 mahasiswa yang memilih Early Adopter, 4 mahasiswa yang memilih Early Majority, 2 mahasiswa yang memilih Late Majority, dan tidak ada mahasiswa yang memilih Laggards. Ada pula mahasiswa yang memilih lebih dari satu yaitu kategori Early Adopter & Early Majority ada 2 mahasiswa yang memilih, kategori Early Majority & Late Majority juga ada 2 mahasiswa yang memilih, dan ada juga 3 mahasiswa yang tidak memilih. (mungkin masih binggung mau di bawa kemana yaa ?? *loh)

















(Bentuk Table dan Persentase dari hasil Table sebelumnya)
















(Berikut adalah Table alasan teman-teman mengenai pemilihan kategori adopter)


Dari data berikut dapat disimpulkan bahwa kategori innovators merupakan kategori yang paling dominan di pilih oleh teman-teman Teknologi Pendidikan yaitu berjumlah 8 mahasiswa atau dalam persentasenya 25,8% dan beralasan bahwa “Seorang Teknologi Pendidikan harus dapat membuat pemecahan masalah belajar”, dan ada juga mahasiswa yang tidak beralasan yang berjumlah 6 mahasiswa atau dalam persentasenya 19,4%. Yang berikutnya dalam kategori Early Adopters yang di pilih oleh teman-teman Teknologi Pendidikan yaitu berjumlah 3 mahasiswa atau dalam persentasenya 9,7% dan beralasan bahwa “Agar dapat mempertimbangkan penting tidak sebuah inovasi”, dan ada juga yang tidak beralasan yang berjumlah 3 mahasiswa pula atau dalam persentasenya 9,7%. Yang berikut ini kategori yang tidak terdapat alasan yakni Early Majority yang dipilih oleh 4 mahasiswa dengan persentase 12,9%, lalu Late Majority yang dipilih oleh 2 mahasiswa dengan persentase 6,5%. Dan terakhir kategori laggard yang tidak dipih sama sekali oleh mahasiswa.

Kesimpulannya dari analisis yang saya lakukan, yang paling dominan dipiih oleh teman-teman ialah innovator yang kedua ialah Early Majority berikutnya Early Adopter dan lain lain. Jadi teman-teman setelah lulus nanti yang lebih banyak ingin menjadi sang innovator karena dilihan dari lulusan Tp yang akan mengenbangkan produk-produk yang inovasi dan dapat memecahkan masalah belajar.

Sabtu, 10 Maret 2012

INOVASI DAN DISKUSI FACEBOOK

  1. PENDAHULUAN

· Latar Belakang

Dewasa ini perkembangan teknologi semakin canggih, para ahli media seakan berlomba-lomba untuk merancang sebuah media yang dapat dimanfaatkan dan mudah diakses oleh orang banyak. Facebook merupakan salah satu situs jejaring sosial yang dirancang sedemikian rupa untuk menambah teman dan mempererat tali silahturahmi antar manusia. Ada sisi negatif dan positif pastinya. Sisi negatif dari situs ini banyak diberitakan di televisi akhir-akhir ini bahwa banyak orang ilang yang katanya diculik oleh orang melalui situs jejaring sosial ini dan ada pula orang yang menawarkan jual beli wanita dalam situs ini. Tapi, itu hanya sedikit orang yang memanfaatkan situs ini dengan sisi negatifnya untuk mendapatkan keuntungan semata.


Sedangkan sisi positif kita
dapat memanfaatkan fasilitas yang tersedia dalam situs ini yaitu dengan menambah teman sebanyak-banyaknya dan yang dilakukan oleh matakuliah Difusi Inovasi Pendidikan dengan membuka diskusi yang memanfaatkan situs jejaring sosial ini. Karena, sampai saat ini siapa sih yang gak punya FB. Mungkin karena itu Dosen saya mempunyai sebuah inovasi untuk melakukan Diskusi melalui situs ini. Dengan diskusi yang dilakukan ini dapat dilakukan sebuah pengamatan dari diskusi itu sendiri, dan saya akan melakukan pengamatan tersebut.

· Tujuan

Tujuan dari pengamatan ini agar dapat mengetahui hasil yang tepat dan akurat untuk belajar bersama.

· Manfaat

Manfaat hasil survei ini agar mahasiswa dapat mengetahui dan mengerti tentang cara mengamati dan menganalisis hasil dengan benar.

  1. Hasil Survey :

Yang Pertama :

Berikut merupakan hasil dari forum diskusiMata Kuliah Difusi Inoasi Pendidikan yang dilakukan di situs jejaring sosial “facebook”, sewaktu di tanya oleh Dosen ini lah jumlah yang didapatkandari jumlah 38 mahasiswa terdapat 31 Mahasiswa yang Menjawab dan ada pula mahasiswa yang tidak menjawab yaitu berjumlah 7 mahasiswa.

Berikut screen shoot :




















Hasil Kedua dari pengamatan dapat disimpulkan dari total 32 mahasiswa yang menjawab terdapat 30 mahasiswa yang menjawab “Yes” dan 2 mahasiswa yang menjawab “Yes and No”, untuk pilihan jawaban “No” mahasisiwa tidak ada yang menjawab,

berikut hasil screen shoot :




















Ket : Terdapat 3 bentuk (version) bentuk hasil yang saya lakukan.

Hasil ke tiga didapat dari pernyataan mahasiswa yang menjawab “Yes”, “No”, dan “Yes and No” terdapat alasannya dong, nah berikut merupakan alasan yang dihasilkan mahasiswa untuk menjawab pernyataan yes, no, dan yes and no.

Ø Mahasiswa beralasan “Baru pertama kali melakukan diskusi melalui situs jeraring sosial (FB)

Ø Mengacu pada teori Roger tentang sebuah inovasi

Ø Pemanfaatan media yang telah ada

Ø Mengubah peranan belajar, agar tidak dilakukan dikelas atau formal saja

Dari keempat alasan yang diberikan oleh mahasiswa alasan pertama lah yang di pilih paling banyak yaitu 18 mahasiswa, alasan kedua dan ketiga mahasiswa masing-masing memilih yaitu 4 mahasiswa dan yang alasan terakhir yaitu 3 mahasiswa.

Berikut screen shoot dari hasil tersebut :















Hasil pengamatan keempat berikut merupan 2 orang yang menjawab pernyataan dengan jawaban “Yes and No” dengan alasan menjawab “Yes” karena mengacu pada teori Roger tentang inovasi. Dan “No” karena pernah mengikutin diskusi ini sebelumnya. Yang lain “Yes” karena Baru pertama kali dan “No” karena ini tidak bersifat menerus atau hanya sampai matakuliah ini berakhir saja.

Berikut Screen Shoot :















C. PEMBAHASAN

Pada kesempatan kali ini saya akan membahas tentang pernyataan mahasiswa di atas yang memilih “Yes”, “No”, dan “Yes and No”. Pada pengamatan pertama dapat dilihat dari Respon Pernyataan Mahasiswa dihasilkan 2 pernyataan dari total 38 mahasiswa , yang pertama ada 31 Mahasiswa yang menjawab dan ada pula mahasiswa yang tidak menjawab yaitu berjumlah 7 mahasiswa.

Pada pengamatan kedua dapat dilihat dari jumlah total 32 mahasiswa. 30 mahasiswa menjawab “Yes” , 2 mahasiswa menjawab “Yes and No” dan tidak ada yang menjawab “No”. Pada pengamatan ketiga mahasiswa mengunakan alasannya mengapa memilih “Yes”, “No”, “Yes and No”. Terdapat 30 mahasiswa yang mengatakan “Yes” antara lain 18 mahasiswa dengan alasan baru melakukan diskusi pertama kali mengunakan Facebook, 8 mahasiswa berikutnya dengan alasan masing-masing mengacu pada teori Roger dan memanfaatkan media, 4 mahasiswa lain dengan alasan mengubah peranan belajar. Sedangkan pada mahasiswa yang memilih jawaban “Yes and No” memiliki alasan “Yes” karena mengacu pada teori bapak Roger dan baru pertama kali melakukan diskusi di facebook, dan “No” karena pernah sebelumnya mengikuti diskusi seperti ini dan diskusi ini tidak bersifat menerus.

Data tersebut sebenernya belum semua terambil karena adanya mahasiswa yang terlambat memberi komentar jadi harap maklum jika terjadi perbedaan.


D. KESIMPULAN

Berdasarkan dari pengamatan di atas jumlah mahasiswa yang menjawab yes lebih dominan dari yang lain oleh sebab itu ini bisa dikatakan sebuah inovasi karena sebagian mahasiswa menganggap ini merupakan sesuatu yang baru dan itu merupakan pengertian inovasi dari Roger. Dan dengan facebook dimanfaatkan untuk media pembelajaran seperti ini juga merupakan sebuah inovasi jadi setiap mahasiswa online facebook tidak sia sia karena sambil online sambil belajar.

SARAN

Diskusi melalui situs facebook ini menurut saya sangat menyenangkan tetapi bila tidak dijarkom atau di beritahu sebelumnya maka akan sangat memusingkan. Karena jika saat membuka fb dan banyak ketinggalan atau tidak menjawab banyak pertanyaan. Dan andai di setiap matakuliah ada sistem diskusi melalui fb ini pasti akan menyenangkan seperti ini .


E. DAFTAR PUSTAKA

Rogers, E. M. (1983). Diffusion of Innovation.

http://www.facebook.com/groups/273808582691563/

Minggu, 20 Maret 2011

makalah tentang sejarah logika

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam kehidupan sehari-hari, manusia dapat berinteraksi secara aktif dan melakukan transformasi dengan sesamanya tak lain karena ia memiliki akal untuk berfikir. Akal merupakan suatu sarana super canggih, dikaruniai Tuhan kepada manusia, tidak kepada makhluk lainnya. Dengan akal manusia dapat mengetahui sesuatu yang belum diketahuinya. Atau memahami lebih mendalam lagi sesuatu yang telah diketahuinya, baik tentang dirinya maupun hakikat alam dan rahasia yang terkandung di dalamnya. Manusia karena akalnya menjadi makhluk unik yang senantiasa terdorong untuk berfikir sepanjang hayatnya sesuai dengan kemampuan befikir yang dimilikinya.
Ketika manusia itu masih diberi kehidupan, dan hidup dalam keadaan normal, selama itu pula aktivitas berfikir tidak akan terlepas darinya. Manusia termasuk anda selalu berambisi untuk mencari kebenaran dengan jalan berpikir. Pada saat itulah ilmu logika berperan penting dalam mencari suatu kebenaran.
Menurut Mundiri dalam bukunya tersebut Logika didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari metode dan hukum-hukum yang digunakan untuk membedakan penalaran yang betul dari penalaran yang salah (diambil dari definisi Irving M. Copi). Sedangkan Poespoprojo menuliskannya sebagai ilmu dan kecakapan menalar, berpikir dengan tepat ( the science and art of correct thinking ). Olson tidak membahas mengenai logika dan ilmu menalar sama sekali.
Secara harfiah Logika berasal dari kata ‘Logos’ dalam bahasa Latin yang berarti perkataan atau sabda. Dalam bahasa Arab dikenal dengan kata ‘Mantiq’ yang artinya berucap atau berkata.
B. Rumusan Masalah
1. Pengertian Logika ?
2. Sejarah Munculnya Logika ?
3. Objek Kajian Logika ?
4. Manfaat Logika ?



BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Logika
Kata logika menurut kamus berarti cabang ilmu pengetahuan yang mengamati tentang prinsip-prinsip pemikiran deduktif dan induktif. Kata logika menurut istilahnya berarti suatu metode atau teknik yang diciptakan untuk meneliti ketepatan penalaran. Maka untuk memahami apakah logika itu haruslah mempunyai pengertian yang jelas tentang penalaran, penalaran adalah suatu bentuk pemikirann yang meliputi tiga unsur, yaitu konsep pernyataan dan penalaran.

Logika adalah bahasa Latin berasala dari kata “logos” yang berarti perkataan atau sabda. Istilah lain digunakan sebagai gantinya adalah “mantiq”, kata Arab yang diambil dari kata kerja “nathaqa” yang berarati berkata atau berucap. Dalam bahasa sehari-hari kita sering mendengar ungkapan serupa: ‘alasannya tidak logis’, ‘argumentasi logis’, ‘kabar itu tidak logis’. Yang dimaksud dengan logis adalah masuk akal, dan tidak logis adalah sebaliknya.
Dalam keterangan lain disebutkan bahwa perkataan logika adalah berasal dari kata sifat “logike” (bahasa Yunani) yang berhubungan dengan kata benda logos, yang artinya pikiran atau kata sebagai pernyataan dari pikiran itu. Hal ini menunjukkan adanya hubungan yang erat antara pikiran dan kata yang merupakan pernyataannya dalam bahasa. Jadi logika adalah ilmu yang mempelajari pikiran yang dinyatakan dalam bahasa.
B. Sejarah Logika
Orang yang pertama kali menggunakan kata logika adalah Zeno dari Citium. Kaum Sofis, Socrates, dan Plato tercatat sebagai tokoh-tokoh yang ikut merintis lahirnya logika. Logika lahir sebagai ilmu atas jasa Aristoteles, Theoprostus dan Kaum Stoa. Logika dikembangkan secara progresif oleh bangsa Arab dan kaum muslimin pada abad II Hijriyah. Logika menjadi bagian yang menarik perhatian dalam perkembangan kebudayaan Islam. Namun juga mendapat reaksi yang berbeda-beda, sebagai contoh Ibnu Salah dan Imam Nawawi menghukumi haram mempelajari logika, Al-Ghazali menganjurkan dan menganggap baik, sedangkan Jumhur Ulama membolehkan bagi orang-orang yang cukup akalnya dan kokoh imannya. Filosof Al-Kindi mempelajari dan menyelidiki logika Yunani secara khusus dan studi ini dilakukan lebih mendalam oleh Al-Farabi.
Selanjutnya logika mengalami masa dekadensi yang panjang. Logika menjadi sangat dangkal dan sederhana sekali. Pada masa itu digunakan buku-buku logika seperti Isagoge dari Porphirius, Fonts Scientie dari John Damascenus, buku-buku komentar logika dari Bothius, dan sistematika logika dari Thomas Aquinas. Semua berangkat dan mengembangkan logika Aristoteles.
Pada abad XIII sampai dengan abad XV muncul Petrus Hispanus, Roger Bacon, Raymundus Lullus, Wilhelm Ocham menyusun logika yang sangat berbeda dengan logika Aristoteles yang kemudian kita kenal sebagai logika modern. Raymundus Lullus mengembangkan metoda Ars Magna, semacam aljabar pengertian dengan maksud membuktikan kebenaran – kebenaran tertinggi. Francis Bacon mengembangkan metoda induktif dalam bukunya Novum Organum Scientiarum . W.Leibniz menyusun logika aljabar untuk menyederhanakan pekerjaan akal serta memberi kepastian. Emanuel Kant menemukan Logika Transendental yaitu logika yang menyelediki bentuk-bentuk pemikiran yang mengatasi batas pengalaman. Selain itu George Boole (yang mengembangkan aljabar Boolean), Bertrand Russel, dan G. Frege tercatat sebagai tokoh-tokoh yang berjasa dalam mengembangkan Logika Modern.
Poespoprojo tidak membahas asal-usul dan sejarah logika, begitu juga Olson. Posepoprojo membahas langsung pokok-pokok masalah dalam logika itu sendiri, sedangkan Olson tidak menyinggung sejarah logika sama sekali.
C. Sejarah munculnya ilmu logika

Nama logika pertama kali muncul pada Filsuf Cicero (abad ke-1 sebelum Masehi) tetapi dalam arti “seni berdebat”. Alexander Aphrodisias (sekitar permulaan abad ke-3 sesudah Masehi) adalah orang pertama yang mempergunakan kata ‘logika’ dalam arti ilmu yang menyelidiki lurus tidaknya pemikiran kita.

Yunani adalah negeri asal ilmu mantiq atau logika karena banyak penduduknya yang mendapat karunia otak cerdas. Negeri Yunani, terutama Athena diakui menjadi sumber berbagai ilmu. Socrates, Plato, Aristoteles dan banyak yang lainnya adalah tokoh-tokoh ilmiah kelas super dunia yang tidak ada ilmuwan nasional dan internasional tidak mengenalnya sampai sekarang dan akan datang. Tetapi, khusus untuk logika atau ilmu mantiq Aristoteleslah yang menjadi guru utamanya.

Akan tetapi, meski Aristoteles terkenal sebagai “Bapak Logika”, itu tidak berarti bahwa sebelum dia tidak ada logika. Segala orang ilmiah dan ahli filosofi sebelum Aristoteles menggunakan logika sebaik-baiknya. Dalam literatur lain, disebutkan bahwa Aristoteleslah orang yang pertama kali meletakkan ilmu logika, yang sebelumnya memang tidak pernah ada ilmu tentang logika tersebut. Maka tak heran jika ia dijuluki sebagai “Muallim Awwal” (Guru pertama). Bahkan Filosof Besar Immanuel Kant mengatakan 21 abad kemudian, bahwa sejak Aristoteles logika tidak maju selangkah pun dan tidak pula dapat mundur.

Sepintas, ada beragam pendapat tentang siapa peletak pertama ilmu logika ini. Akan tetapi jika ditelisik lebih mendalam, maka akan tampak suatu benang merah bahwa sebelum Aristoteles memang ada logika, akan tetapi ilmu logika sebagai ilmu yang sistematis dan tersusun resmi baru muncul sejak Aristoteles, dan memang dialah yang pertama akali membentangkan cara berfikir yang teratur dalam suatu sistem.
Kecerdasan penduduk Yunani itulah barangkali yang telah menyebabkan antara lain, lahirnya kelompok Safshathah. Kelompk ini dengan ketangkasan debat yang mereka miliki menghujat dan malah merusak sistem sosial, agama dan moral dengan cara mengungkap pernyataan-pernyataan yang kelihatannya sebagai benar, tetapi membuat penyesatan-penyesatan pemikiran nilai dan moral.

Di antara pernyataan-pernyataan mereka adalah:
Kebaikan adalah apa yang Anda pandang baik
Keburukan adalah apa yang anda pandang buruk
Apa yang diyakini benar oleh seseorang, itulah yang benar buat dia
Apa yang diyakini salah oleh seseorang, itulah yang salah buat dia

Aristoteles (384 –322 SM.) berusaha mengalahkan mereka secara ilmiah dengan pernyataan-pernyataan logis yang brilian. Pernyataan itu ia peroleh melalui diskusi dengan murid-muridnya. Karya Aristoteles itu sangat dikagumi pada masanya dan masa sesudahnya sehingga logika dipelajari di setiap perguruan. Plato (427-347 SM.), Murid Socrates hanya menambahnya sedikit. Immanuel Kant (1724-1804 M) pemikir terbesar bangsa Jerman menyatakan bahwa logika yang diciptakan Aristoteles itu tidak bisa ditambah lagi walau sedikit karena sudah cukup sempurna.

Logika formal merupakan hasil ciptaan Aristoteles yang dirintis oleh retorika kaum Shofis dan dialektika yang umum digunakan untuk menimbang-nimbang pada masa hidup Plato. Inti pokok logika Aristoteles ialah ajarannya mengenai penalaran dan pembuktian. Baginya, penalaran pertama-tama merupakan silogisme yang di dalamnya berdasar dua buah tanggapan orang menyimpulkan tanggapan ketiga. Untuk dapat secara lurus melakukan penyimpulan ini perlu diketahui mengenai hakikat tanggapan, ada tanggapan singular dan tanggapan particular.

Akan tetapi Konsili Nicae (325 M), menyatakan menutup pusat-pusat pelajaran filsafat Grik di Athena, Antiokia dan Roma. Pelajar logika juga dilarang kecuali bab-bab tertentu saja yang dipandang tidak merusak akidah kristiani. Hal ini merupakan pukulan mematikan bagi filsafat Yunani dan sekaligus logika. Sejak masa itu sampai hampir seribu tahun lamanya alam pemikiran di Barat menjadi padam, sehingga dikenal dengan zaman Drak Ages (zaman gelap).

Pada abad ke-7 Masehi berkembanglah agama islam di jazirah Arab dan pada abad ke-8, agama ini telah dipeluk secara meluas ke Barat sampai perbatasan Perancis sampai Thian Shan. Dizaman kekuasaan khalifah Abbasiyyah sedemikian banyaknya karya-karya ilmiah Yunani dan lainnya diterjemahkan ke dalam bahasa, sehingga ada suatu masa dalam sejarah islam yang dijuluki dengan Abad Terjemahan. Logika karya Aristoteles juga diterjemahkan dan diberi nama Ilmu Mantiq.

Di antara ulama dan cendikiawan muslim yang terkenal mendalami, menerjemah dan mengarang di bidang ilmu Mantiq adalah Abdullah bin Muqaffa’, ya’kub Ishaq Al-Kindi, Abu Nasr Al-farabi, Ibnu Sina, Abu Hamid Al-Gahzali, Ibnu Rusyd, Al-Qurthubi dan banyak lagi yang lain. Al-Farabi, pada zaman kebangkitan Eropa dari abad gelapnya malah dijuluki dengan Guru Kedua Logika.

Kemudian menyusullah zaman kemunduran dibidang mantiq atau logika karena dianggap terlalu memuja akal. Di antara ulama-ulama besar islam seperti Muhyiddin An-Nawawi, Ibnu Shalah, Taqiyuddin ibnu Taimiyah, Syadzuddin at-Taftsajani malah mengharamkan mempelajari ilmu mantiq. Namun komunitas ulama dan cendikiawan Muslim membolehkan bahkan menganjurkan untuk mempelajarinya sebagai penyempurna dalam menginterpretasikan hadits dan al-Qur’an.
D. Objek Kajian Logika

karena yang berfikir itu manusia maka harus dikatakan bahwa lapangan penyelidikan logika ialah manusia itu sendiri. Tetapi manusia ini disoroti dari sudut tertentu, yakni budinya. Begitu pula berfikir adalah obyek material logika. Berfikir di sini adalah kegiatan pikiran, akal budi manusia. Dengan berfikir manusia mengolah, mengerjakan pengetahuan yang telah diperolehnya. Dengan mengolah dan mengerjakannya ini terjadi dengan mempertimbangkan, menguraikan, membandingkan serta menghubungkan pengertian yang satu dengan pengertian yang lainnya.

Jika dilihat dari obyeknya, dikenal sebagai logika formal (Manthiq As-Shuari) dan logika material (al-Manthiq al-maddi). Pemikiran yang benar dapat dibedakan menjadi dua bentuk yang berbeda secara radikal, yakni cara berfikir dari umum ke khusus dan cara berfikir dari khusus ke umum. Cara pertama disebut berfikir deduktif dipergunakan dalam logika formal yang mempelajari dasar-dasar persesuaian (tidak adanya pertentangan) dalam pemikiran dengan mempergunakan hukum-hukum, rumus-rumus, patokan-patokan berfikir benar. Cara berfikir induktif dipergunakan dalam logika material, yakni menilai hasil pekerjaan logika formal dan menguji benar tidaknya dengan kenyataan empiris. Logika formal disebut juga logika minor. Logika material disebut logika mayor.


E. PEMBAGIAN LOGIKA

Sistematisasi logika dapat diklsaifikasikan menjadi beberapa bagian, tergantung dari mana kita meninjaunya.

Pertama, dari segi obyeknya. Pada bagian ini logika dapat dibedakan menjadi dua, (1) logika formal atau mantiq as-shuwari, (2) logika material atau mantiq al-maddi. Hal ini sudah dijelaskan pada sub “Obyek Logika”.

Kedua, dari segi kualitasnya. Disini Mantiq/logika dapat dibedakan menjadi Naturalis (Mantiq al-Fithri), yaitu kecakapan berlogika berdasarkan kemampuan manusia. Akal manusia yang normal dapat berjalan dan bekerja secara spontan sesuai hokum-hukum logika dasar. Bagaimanapun rendahnya intelegensi seseorang ia dapat membedakan bahwa sesuatu itu adalah berbeda dengan sesuatu yang lain, dan bahwa dua kenyataan yang bertentangan adalah tidak sama.

Tetapi dalam mengahadapi permasalahan yang rumit dan dalam berfikir, manusia banyak dipengaruhi oleh kecendrungan pribadi disamping bahwa pengetahuan manusia sangat terbatas mengakibatkan tidak mungkin terhindar dari kesalahan. Nah, untuk mengatsai kenyataan yang tidak bisa ditanggulangi oleh Mnatiq al-Fitri, manusia menyusun hokum-hukum patokan-patokan , rumus-rumus berfikir lurus. Logika inilah yang disebut dengan Logika Artifisialis atau Logika Ilmiah (Mantiq As-Suri) yang bertugas membantu Mantiq Al-Fitri. Mantiq ini memperhalus, mempertajam, serta menunjukkan jalan pemikiran agar akal dapat bekerja lebih teliti,, efisien, mudah dan aman.
Ketiga, dari segi metodenya, mantiq/logika dapat dibedakan atas Logika Tradisional (Mantiq al-Qadim) dan Logika Modern (Mantiq al-Hadits). Logika tradisional adalah logika Aristoteles, dan logika para Logikus yang lebih kemudian, tetapi masih mengikuti system Logika Aristoteles. Sedangkan Logika Modern tumbuh dan berkembang mulai pada abad XIII. Mulai abad ini ditemukan sistem baru, metode baru yang berlainan dengan sisitem Logika Aristoeteles. Saatnya dimulai sejak Raymundus Lullus menemukan metode baru logika yang disebut Ars magna.

Adapun Logika menurut The Liang Gie (1980) terbagi menjadi lima bagian:
1.Logika makna luas dan logika makna sempit
Dalam arti sempit istilah tersebut dipakai searti dengan deduktif atau logika formal. Sedangkan dalam arti yang lebih luas pemakaiannya mencakup kesimpulan-kesimpulan dari berbagai bukti dan tentang bagaimana sistem penjelasan di susun dalam ilmu alam serta meliputi pula pembahasan mengenai logika itu sendiri.

2.Logika Deduktif dan Induktif
Logika deduktif adalah suatu ragam logika yang mempelajari asas-asas pelajaran yang bersifat deduktif, yakni suatu penalaran yang menurunkan suatu kesimpulan sebagai kemestian dari pangkal pikirnya sehingga bersifat betul menurut bentuknya saja. Logika induktif merupakan suatu ragam logika yang mempelajari asas-asas penalaran yang betul dari sejumlah hal khusus sampai pada suatu kesimpulan umum yang bersifat boleh jadi.

3.Logika Formal dan Material
Logika formal adalah mempelajari asas aturan atau hukum-hukum berfikir yang harus ditaati agar orang dapat berfikir dengan benar mencapai kebenaran. Logika material mempelajari langsung pekerjaan akal serta menilai hasil-hasil logika formal dan mengujinya dengan kenyataan praktis sesungguhnya. Logika material mempelajari sumber-sumber dan asalnya pengetahuan, proses terjadinya pengetahuan dan akhirnya merumuskan metode ilmu pengetahuan itu. Dan sekarang, logika formal adalah ilmu yang mengandung kumpulan kaidah cara berfikir untuk mencapai kebenaran.

4.Logika Murni dan Terapan
Logika murni adalah merupakan suatu pengetahuan mengenai asas dan aturan logika yang berlaku umum pada semua segi dan bagian dari pernyataan-pernyataan dengan tanpa mempersoalkan arti khusus dalam suatu cabang ilmu dari sitilah yang dipakai dalam pernyataan dimaksud. Logika terapan adalah pengetahuan logika yang diterapkan dalam setiap cabang ilmu bidang-bidang filsafat dan juga dalam pembicaraan yang menggunakan bahasa sehari-hari.

5.Logika Falsafati dan Matematik
Logika falsafati dapat digolongkan sebagai suatu ragam atau bagian logika yang masih berhubungan sangat erat dengan pembahasan dalam bidang filsafat, seperti logika kewajiban dengan etika atau logika arti dengan metafisika. Adapun logika matematik serta bentuk lambang yang khusus dan cermat untuk menghindarkan makna ganda atau kekaburan yang terdapat dalam bahasa biasa.

F. Manfaat Logika (ilmu mantiq)

Di antara manfaat ilmu mantiq atau logika ialah:
 membuat daya fikir akal tidak saja menjadi lebih tajam tetapi juga lebih menjadi berkembang melalui latihan-latihan berfikir dan menganalisis serta mengungkap permasalahan secara ilmiah.

 membuat seseorang menjadi mampu meletakkan sesuatu pada tempatnya dan mengerjakan sesuatu pada waktunya.

 membuat seseorang mampu membedakan--- ini merupakan manfaat yang paling asasi ilmu mantiq atau logika ---antara pikir yang benar dan oleh karenanya akan menghasilkan kesimpulan yang benar dan urut pikir yang salah yang dengan sendirinya akan menampilkan kesimpulan yang salah.

• Arti Ilmu
Mundiri menjelaskan bahwa Ilmu harus dibedakan dari pengetahuan. Pengetahuan adalah segala sesuatu yang datang sebagai hasil dari aktivitas mengetahui yaitu tersingkapnya suatu kenyataan ke dalam jiwa sehingga tidak ada keraguan terhadapnya, sedangkan ilmu menghendaki lebih jauh dari itu.
Poespoprojo merumuskan dengan sederhana bahwa ilmu adalah kumpulan pengetahuan mengenai suatu bidang tertentu yang merupakan satu kesatuan yang tersusun secara sistematis, serta memberikan penjelasan yang dipertanggung jawabkan dengan menunjukkan sebab-sebabnya. Olson tidak menerangkan apapun tentang definisi ilmu. Mundiri dan Poespoprojo membahas masalah logika sebagai ilmu.
• Pikiran
Mundiri menjelaskan bahwa pikiran merupakan perkataan dan logika merupakan patokan, hukum atau rumus berpikir. Logika bertujuan untuk menilai dan menyaring pemikiran dengan cara serius dan terpelajar serta mendapatkan kebenaran terlepas dari segala kepentingan dan keinginan seseorang.
Poespoprojo menjelaskan bahwa pengetahuan merupakan hasil dari aktivitas berpikir yang menyelidiki pengetahuan yang berasal dari pengalaman-pengalaman konkret, pengalaman sesitivo-rasional, fakta, objek-objek, kejadian-kejadian atau peristiwa yang dilihat atau dialami. Logika bertujuan untuk menganalisis jalan pikiran dari suatu penalaran/pemikiran/penyimpulan tentang suatu hal.
Olson tidak menerangkan definisi pemikiran dalam konteks logika namun menjelaskan pikiran dalam konteks kreativitas. Pembahasannya ditekankan pada bahasan mengenai pemecahan masalah dengan menempuh ‘jalan’ yang tidak biasa.
G. Kesalahan Berfikir dan Kreativitas
Mundiri menyatakan dalam bukunya bahwa terdapat beberapa kesalahan berpikir antara lain :
1. Kesalahan Formal karena :
1. menggunakan empat term dalam silogisme
2. kedua term penengah tidak mencakup proses yang tidak benar
3. menyimpulkan dari dua premis negatif
4. mengakui akibat kemudian membenarkan pula sebabnya
5. menolak sebab dan menyimpulkan bahwa akibat tidak terlaksana
6. bentuk disyungtif yang mengingkari alternatif pertama kemudian mengakui alternatif lain
7. tidak runtutnya peryataan satu dengan yang diakui sebelumnya
2. Kesalahan Informal yang disebabkan oleh :
1. Membuat generalisasi yang terburu-buru
2. memaksakan praduga
3. mengundang permasalahan
4. menggunakan argumen yang berputar
5. berganti dasar
6. mendasarkan pada otoritas
7. mendasarkan diri pada kekuasaan
8. menyerang pribadi
9. kurang tahu permasalahan
10. pertanyaan yang rumit
11. alasan yang terlalu sederhana
12. menetapkan sifat yang bukan suatu keharusan
13. argumen yang tidak relevan
14. salah mengambil analogi
15. mengundang belas kasihan
3. Kesalahan karena penggunaan bahasa yang disebabkan oleh
1. komposisi
2. kekeliruan dalam pembagian
3. kekeliruan karena tekanan
4. kekeliruan karena amfiboli (kalimat yang dapat ditafsirkan berbeda-beda)
5. kekeliruan karena menggunakan kata dalam beberapa arti
Permasalahan tersebut merupakan hal-hal yang biasa terjadi pada setiap orang sehingga orang tersebut dapat mengambil pemecahan masalah yang keliru dan jauh dari logika. Dengan demikian kesalahan-kesalahan berpikir tersebut merupakan kesalahan sistematika berpikir.
Hal yang senada diungkapkan oleh Poespoprojo bahwa kesalahan logis, yang dalam bahasa Inggris disebut dengan fallacy, bukanlah kesalahan dalam fakta. Kesalahan-kesalahan tersebut dapat disebutkan antara lain :
1. Generalisasi yang tergesa-gesa
Kesalahan logis ini sekedar akibat dari induksi yang salah karena berdasar pada sampling hal-hal khusus yang tidak cukup atau karena tidak memakai batasan.
2. Non Sequitur (belum tentu)
Kesalahan ini merupakan kesalahan yang terjadi karena premis yang salah dipakai. Non Sequitur merupakan loncatan sembarangan dari suatu premis ke kesimpulan yang tidak ada kaitannya dengan premis tadi. Hubungan premis dan kesimpulan hanya semu, hubungan yang sesungguhnya tidak ada.
3. Analogi Palsu
Analogi palsu adalah suatu bentuk perbandingan yang mencoba membuat suatu idea atau gagasan terlihat benar dengan cara membandingkannya dengan idea atau gagasan lain yang sesungguhnya tidak mempunyai hubungan dengan idea atau gagasan yang pertama tadi.
4. Penalaran Melingkar
Penalaran melingkar adalah kesalahan logis dari karena si penalar meletakkan kesimpulannya ke dalam premisnya, dan kemudian memakai premis itu untuk membuktikan kesimpulannya. Jadi kesimpulan dan premisnya sama.
5. Deduksi Cacat
Penggunaan premis yang cacat sangat sering terjadi hingga seyogyanya di dalam penalaran atau diskusi yang serius kita berhenti sejenak dan mempertanyakan premis-premis yang kita pakai.
6. Pikiran Simplistis
Pikiran simplistis adalah kesalahan logis yang teradi karena si penalar terlalu menyederhanakan masalah. Masalah yang begitu berseluk-beluk merupakan disederhanakan menjadi dua kutub yang berlawanan, atau dirumuskan hanya ke dalam dua segi yaitu hitam-putih, atau dirumuskan sebgaia hanya menjadi dua pilihan ini atau itu.
7. Argumen ad Hominem
Kesalahan logis ini terjadi karena kita tidak memperhatikan masalah yang sesungguhnya dan menyerang orangnya, pribadinya.
8. Argumen ad Populum
Sasaran kesalahan logis ini adalah kelompok bukan masalahnya, mirip dengan kesalahan logis Argumen ad Hominem.
9. Kewibawaan Palsu
Kewibawaan terkadang dibutuhkan untuk memberi bobot pada penalaran kita. Kesalahan logis dari kewibawaan palsu adalah karena dipakainya kewibawaan bukan yang sesungguhnya.
10. Sesudahnya maka karenanya
Kesalahan logis ini terjadi karena salah interpretasi terhadap hubungan sebabakibat.
11. Tidak relevan
Kesalahan logis ini terjadi karena godaan pada seseorang untuk tetap memegang teguh pada pokok masalah sehingga menyeleweng dari pokok masalahnya.
Olson berpendapat lain mengenai kesalahan-kesalahan logis yang sering dijumpai. Orang yang sedang mencari solusi atas suatu permasalahan sering tidak mencapai hasil yang memuaskan. Hal ini disebutnya dengan krisis kreativitas sehingga Ia menyebutkan hal-hal yang sering terjadi pada setiap orang sehingga menghambat potensinya untuk menjadi kreatif. Dengan kata lain Ia menyebutkan bahwa ada jalan pikiran lain yang bisa ditempuh oleh seseorang tanpa mengingkari logika berpikir.
Hal-hal yang menghambat kreativitas seseorang :
1. Kebiasaan
Cara-cara memandang objek berdasarkan kebiasaan dapat menemui berbagai hambatan yang disebut ‘functional fixation’. Hal ini berhubungan dengan fakta bahwa kita mempunyai beberapa kebiasaan mental dan untuk beberapa alasan tetap mempertahankannya.
2. Waktu
Kesibukan merupakan alasan untuk menjadi tidak kreatif. Tetapi sebenarnya banyak orang yang tidak mau menginvestasikan waktunya itu untuk menajamkan kreativitas mereka atau memanfaatkannya.
3. Dibanjiri masalah
Sebagian dari kita merasa bahwa kita berhadapan dengan begitu banyak masalah yang penting sehingga kita tidak mempunyai cukup waktu dan tenaga untuk mengatasi beberapa masalah secara kreatif.
4. Tidak ada masalah
Kita sering merasakan tidak ada masalah dan kesempatan, karena para ahli telah menemukan semua jawaban atau telah mengatakan bahwa hal tersebut tidak dapat dilaksanakan.
5. Takut Gagal
Kita dapat menghindari kegagalan dan kreativitas dengan berbagai cara : dengan menyesuaikan diri, tidak pernah mencoba sesuatu yang berbeda, meyakinkan diri bahwa kita hanya menggunakan gagasan yang telah terbukti berhasil dan berjalan pada lorong-lorong yang telah sirintis. Dengan demikian kita menghindari kegagalan-kegagalan kecil. Namun kita telah gagal sebagai manusia. Kita menjadi tumbuh secara tidak kreatif melebihi kebiasaan-kebiasaan lama dan naluri.
6. Kebutuhan akan sebuah jawaban sekarang
Manusia tidak mau mengalami kesulitan karena tidak memiliki suatu jawaban langsung. Ketika suatu masalah dikemukakan, secara langsung kita memberikan sebuah pemecahan. Hanya jika pemecahan pertama tidak berhasil maka kita mencoba cara yang lain.
7. Kesulitan kegiatan mental yang diarahkan
Seringkali secara mental kita menyelipkan perasaan khawatir atau kekacau-balauan berpikir di dalam jangkauan kita. Dari keadaan serupa itu kadang-kadang timbul suatu pemikiran yang bernilai. Akan tetapi, karena dari mula kita memang tidak mencari suatu pemecahan atau jawaban bagi suatu masalah, maka tidak ada gagasan atau wawasan bagi suatu masalah, maka tidak ada gagasan atau wawasan yang muncul dari dalam pikiran kita. Kita seringkali dibingungkan oleh masalah seberapa jauh kita telah memikirkan atau mencemaskan suatu permasalahan serta bagaimana mengarahkan dan menghasilkannya.
8. Takut bersenang-senang
Kita dapat menjadi lebih kreatif dengan bersenang-senang. Akan tetapi banyak orang yang merasa bersalah bila mereka bersenang-senang. Manusia sering tidak sadar bahwa rileks, bergembira, dan bersantai-santai merupakan aspek-aspek yang penting dari proses pemecahan masalah secara kreatif.
9. Kritik orang lain
Secara tak sengaja kreativitas sering terhambat oleh kritik-kritik orang lain. Bila suatu gagasan baru diperkenalkan, gagasan tersebut sering dipatahkan dan diobrak-abrik. Seseorang dengan gagasannya ditertawakan dengan ungkapan-ungkapan sebagai berikut.
H. Menguji Gagasan Atau Penalaran
Mundiri mengajukan cara untuk menguji suatu gagasan atau pemikiran atau hipotesis dalam ukuran-ukuran :
1. Relevansi, pemikiran yang diajukan harus berusaha menerangkan fakta-fakta yang dihadapi. Oleh karena itu hipotesis harus relevan dengan fakta yang hendak dijelaskan.
2. Mampu untuk diuji, ini adalah ciri utama yang membedakan antara hipotesis ilmiah dan hipotesis non-ilmiah. Hipotesis harus memiliki kemampuan untuk diuji dengan fakta-fakta inderawi atau perhitungan logis.
3. Bersesuaian dengan hipotesa yang telah diterima sebagai pengetahuan yang benar.
4. Mempunyai daya ramal. Hipotesis yang baik tidak saja mendeskripsikan fakta fakta, tetapi interpretasi yang dibuatnya mampu menjelaskan fakta-fakta sejenis yang tidak diketahui atau belum diselidiki.
5. Sederhana.
Poespoprojo berpendapat bahwa tujuan pemikiran manusia adalah mencapai pengetahuan yang benar dan sedapat mungkin pasti. Tapi dalam kenyataannya hasil pemikiran maupun alasan-alasan yang diajukan belum tentu selalu benar.
Jadi ukuran dalam menentukan apakah suatu pemikiran atau penalaran adalah benar atau salah bukanlah rasa senang atau tidak senang, enak atau tidak enak, melainkan cocok atau tidak dengan fakta atau tidak.
Empat Pertanyaan
1. Apa yang hendak ditegaskan atau apa pokok pernyataan yang diajukan.
2. Bagaimana hal itu : Atas dasar orang sampai pada kesimpulan atau pertanyaan itu ?
3. Bagaimana jalan pikiran yang mengaitkan alasan-alasan yang diajukan dan kesimpulan yang ditarik? Bagaimana langkah-langkahnya ? Apakah kesimpulan itu sah ?
4. Apakah kesimpulan atau penjelasan itu benar ? Apakah pasti ? Atau hanya mungkin tidak benar ?
Skema
Untuk membantu untuk menguji atau menganalisis suatu pemikiran, maka berguna sekali menyusun jalan pikirannya dalam bentuk sebuah skema, sehingga tampak jelas mana yang merupakan kesimpulan, mana yang asalan, serta bagaimana orang tertentu menarik kesimpulan tertentu dari alasan-alasan.

Tiga Syarat Pokok
1. Pemikiran harus berpangkal dari kenyataan atau titik pangkalnya harus benar
2. Alasan-alasan yang diajukan harus tepat dan kuat
3. Jalan pikiran harus logis atau lurus/sah.
Olson mempunyai caranya sendiri dalam menentukan gagasan yang terbaik.
Antara lain dengan :
1. Memadukan pikiran sadar dan bawah sadar, kita perlu tidak hanya menarik kesimpulan berdasarkan pikiransadar kita yang terbatas, tetapi juga berdasarkan pikiran bawah sadar kita yang luas.
2. Keunikan individu, untuk menjadi lebih kreatif kita harus mengakui keunikan kita dan memanfaatkannya dengan memilih gagasan-gagasan yang kita anggap bernilai bagi kita berdasarkan tujuan, kebutuhan, dan pengalaman yang unik.
3. Perasaan dan intuisi yang mendalam, intuisi kita sering tidak jelas dan tidak rasional malahan lebih merupakan pemikiran mental bawah sadar. Mungkin kondisi paling intern dari orang yang kreatif adalah sumber intern penilaian dan seleksi mereka.
4. Kriteria, kita gunakan untuk menentukan gagasan mana yang terbaik dan merupakan standar sadar yang kita gunakan untuk mengukur nilai gagasan-gagasan kita. Kriteria ini memperkenalkan suatu unsur yang sadar, sistematis, berhati-hati, yang memabntu mengorganisasi dan memfokuskan kemempuan penyeleksian sadar serta bawah sadar kita.
5. Memilih gagasan, untuk memilih gagasan yang terbaik kita menggunakan kriteria yang telah kita bina untuk membantu mengevaluasi gagasan pemecahan masalah kita. Kemudian kita menyingkrkan gagasan yang bukan bukan atau menggelikan dan gagasan sejenisnya.
BAB III
PENUTUP
Mundiri dan Poespoprojo menjelaskan tentang pikiran dan jalan pikiran dengan alur logika dan sistematika yang merupakan alur pikiran algoritmik sementara Olson menekankan pada pemecahan masalah lewat gagasan-gagasan yang diperoleh dengan jalan yang unik. Namun tetap berlandaskan pada sistematika dan logika. Hanya saja Olson menggunakan aspek-aspek di luar pembahasan logika dan ilmu menalar yang hampir bisa disebut dengan logika transendental.

Senin, 03 Januari 2011

Contoh RPP

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(RPP)

Nama Sekolah : SMK
Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia
Kelas / Semester : XI / 1
Alokasi Waktu : 6 x 40 menit

Standar Kompetensi : Berkomunikasi dengan Bahasa Indonesia setara tingkat Madia.
Kompetensi Dasar : Membaca untuk memahami makna kata, bentuk kata, ungkapan, dan kalimat dalam konteks bekerja
Indikator :
1. Mengelompokkan kata, bentuk kata, ungkapan, dan kalimat berdasar-kan kelas kata dan makna kata
2. Mendaftar kata-kata yang berpotensi memiliki sinonim dan antonim dalam teks bacaan
3. Mengidentifikasi kata (termasuk bentuk kata baru), frasa, kalimat yang dipersoalkan kebenaran/ketepatannya (diterima/ditolak) berdasarkan paradigma/analogi.
4. Mengidentifikasi kata (termasuk bentuk kata baru), frasa, kalimat yang dipersoalkan kebenaran/ketepatannya (diterima/ditolak) ber-dasarkan kaidah atau kelaziman



I. Tujuan Pembelajaran :

Setelah mengikuti proses pembelajaran siswa dapat:
1) mengelompokkan kata, bentuk kata, ungkapan, dan kalimat berdasarkan kelas kata dan makna kata
2) mendaftar kata-kata yang berpotensi memiliki sinonim dan antonim dalam teks bacaan
3) mengidentifikasi kata (termasuk bentuk kata baru), frasa, kalimat yang dipersoalkan kebenaran/ketepatannya (diterima/ditolak) berdasarkan paradigma/analogi.
4) mengidentifikasi kata (termasuk bentuk kata baru), frasa, kalimat yang dipersoalkan kebenaran/ketepatannya (diterima/ditolak) berdasarkan kaidah atau kelaziman
5) mengartikan makna kata sesuai dengan teks.


II. Meteri Pembelajaran:

1) infomasi mengenai hubungan antara makna kata, bentuk kata, dan pemakaian kata dalam konteks kerja
2) Peran dan maanfaat kamus dalam belajar bahasa dan dalam kehidupan berbahasa dan bernegara.
3) Proses pembentukan kata baru
4) Relasi makna (sinonim, dan antonim), ungkapan idiomatic dan bentuk kata



III. Metode Pembelajaran:

Metode Reseptif dan Produktif
Metode Komunikatif

IV. Langkah-langkah Pembelajaran:

A. Kegiatan Awal :
1) Salam, presensi
2) Siswa mendengarkan penjelasan guru mengulang pelajaran lalu dengan aktif menjawab pertanyaan yang disampaikan guru.
B. Kegiatan Inti :
1) Siswa disajikan aneka bentuk wacana untuk dipahami dan menindaklanjuti wacana tersebut.
2) Siswa mengidentifikasi kata, bentuk kata, ungkapan, dan kalimat berdasarkan kelas kata dan makna kata.
3) Siswa mendaftar kata-kata yang berpotensi memiliki sinonim dan antonim dalam teks bacaan
4) Siswa dapat mengartikan makna kata sesuai dengan teks.
5) Tanya jawab tentang kesulitan siswa
6) Siswa mengerjakan evaluasi.
C. Kegiatan Akhir :
1) Guru dan siswa menyimpulkan materi yang telah dipelajari.
2) Penegasan guru tentang pentingnya memahami kategori dan makna kata/ frasa/ungkapan dalam menghasilkan kalimat-kalimat yang berterima.




V. Alat / Bahan / Sumber Belajar:

- Alat : Chart, bagan
- Bahan : Contoh-contoh wacana
- Sumber Belajar : Modul Bahasa Indonesia Tk Madia, EYD, Tim Depdiknas,
Kamus Idiom, KBBI

VI. Penilaian:

Memberikan penguasaan materi yang diberikan dalam bentuk latihan individu dan resume pengamatan kelompok dengan proposi penilaian adalah :
• Latihan : 30 %
• Kerjasama : 25 %
• Keaktifan : 35 %
• Kehadiran : 10 %







Nama : Bryan Permana
No Reg : 1215106063

Resume Disnal

 Pengertian Disain Pembelajaran
Raiser : bagi Raiser , disain pembelajaran berbentuk rangkaian prosedur sebagai suatu sistem untuk pengembangan progran pendidikan dan pelatihan dengan konsisten dan teruji. Disain pembelajaran juga sebagai proses yang rumit tetapi, kreatif dan berulang-ulang.

Dick,carey & carey 2005: Bahwa Penggunaan konsep pendekatan sistem sebagai landasan pemikiran suatu disain pembelajaran. Umumnya pendekatan sistem terdiri dari Analisis, Disain pengembangan,Implementasi, dan Evaluasi. Teori Belajar, Teori Evaluasi, dan Teori Pembelajaran merupakan teori yang melandasi disain pembelajaran.

 Aliran Dalam Instructional
• Behaviorism – Konkrit: Tokoh, BF Skinner, Piaget. Ciri-ciri: perumusan belajar yang diwakili oleh “Sample”, perilaku tertentu, bersifat konkrit.
• Cognitivism – pola pemikiran terstruktur: Tokoh, Gagne, Reigulth. Teori belajar yang menekankan pola pikir terstruktur, beralur. Ada delapan tahap belajar. Contoh: angka 4 sering digambarkan sebagai kursi terbalik. Hal ini ditunjukan untuk mempermudah abstraksi.
• Constructivism – kemandirian pola (otak): kemampuan untuk berfikir, membangun konsep secara mandiri. Contoh: menemukan potensi diri dan mengembangkannya sendiri. Konstructivisme kembali muncul diera akhir 80-an.
• Sosial – Learning: belajar yang mengacu pada peningkatan potensi peserta didik berdasarkan adaptasi dengan lingkungan. Tokoh, Albert Bandura, Slavin. Contoh: Belajar bekerjasama dan mengatur dinamika dalam tim. Model: belajar kooperatif, leadership, Outbound program.
• Pembelajaran: faktor eksternal untuk mengembangkan proses belajar. Terkait dengan lingkungan fisik yang mengakomodasi proses belajar. Narasumber SDM yang berperan sebagai rujukan agar seseorang dapat belajar.


 TEORI-TEORI PADA DISAIN PEMBELAJARAN
Teori yang paling menonjol pada disain pembelajaran :
Teori Belajar mengkaji kejadian belajar dalam diri seseorang.Bersifat Deskriptif lebih banyak membicarakan The Learner. Teori pembelajaran faktor eksternal yang memfasilitasi proses belajar. Bersifat Preskriptif. Lebih banyak membicarakan The Learning.

 MODEL-MODEL DISAIN PEMBELAJARAN
beberapa diantaranya adalah : model dick and carey, model kemp,model assure, model addie,model hanfin and peck.
Ada satu model desain pembelajaran yang lebih sifatnya lebihgenerik yaitu model ADDIE (Analysis-Design-Develop-Implement-Evaluate). ADDIE muncul pada tahun 1990-an yang dikembangkan oleh Reiser dan Mollenda.Salah satu fungsinya ADIDE yaitu menjadi pedoman dalam membangun perangkat dan infrastrukturprogram pelatihan yang efektif, dinamis danmendukung kinerja pelatihan itu sendiri.
Model ini menggunakan 5 tahap pengembangan yakni :
1. Analysis (analisa)
2. Design (disain / perancangan)
3. Development (pengembangan)
4. Implementation (implementasi/eksekusi)
5. Evaluation (evaluasi/ umpan balik)
6. Ragam Pengetahuan

 PARADIGMA PENDIDIKAN: Paradigma mengajar, paradigma belajar, paradigma pembelajaran, paradigma isi.


Nama : Bryan Permana
No Reg : 1215106063

Minggu, 26 Desember 2010

PELATIHAN PENGEMBANGAN DAN PEMANFAATAN KONTEN JARDIKNAS Tingkat Nasional Tahun 2010

Modul 5 akan mengajak peserta pelatihan untuk memahami Strategi Pembelajaran Berbasis TIK. Setelah mengikuti pelatihan dengan menggunakan modul 5, diharapkan peserta pelatihan akan memahami tentang perbandingan model pembelajaran konvensional dan pembelajaran berbasis TIK, model pembelajaran berbasis TIK, langkah-langkah pengembangan pembelajaran berbasis TIK, serta kondisi prasarat untuk mengambangkan pembelajaran berbasis TIK.

Modul ini dirancang untuk disajikan dalam waktu 2 x 45 menit. Pada saat pelatihan, diupayakan semua peserta terlibat dalam membahas dan mendalami modul ini. Diskusi yang diselenggarakan bisa melalui eksplorasi pengalaman peserta, memberikan masukan, dan/atau menyajikan pengetahuan/teori/paktek dari berbagai sumber yang telah dimiliki peserta. Tutor lebih banyak bertindak sebagai fasilitator. Hargai setiap pendapat yang disampaikan peserta. Setiap sub topik yang dibahas, disimpulkan sehingga menjadi kesepakatan bersama.

KEGIATAN BELAJAR 1

PEMBELAJARAN YANG IDEAL
Berikut ini adalah beberapa kasus yang diangkat dari temuan di lapangan dalam proses pembelajaran di dalam kelas .

Kasus 1:
Seorang guru merenung. Dia merasa bahwa sudah segala daya, upaya, dan tenaga dikerahkan, tetapi siswanya masih belum nampak terlibat dalam proses pembelajaran yang sedang berlangsung. Guru sudah berapi-api mengajar, suara sudah sekeras mungkin dikeluarkan, tulisan di papan tulis pun selain sudah jelas juga besar. Dia merasa bahwa perjuangan tersebut sia-sia, karena beberapa siswa matanya lebih banyak melihat ke luar jendela kelas, siswa lain sibuk mengobrol dengan teman sebangkunya, yang lainnya nampak berulang-ulang melihat jam seperti ingin mempercepat berjalannya waktu. Secara umum, pembelajaran yang diselenggarakan guru tidak menarik bagi siswa.

Kasus 2:
Seorang siswa menyanggah teori yang baru saja disampaikan gurunya dalam pembelajaran dalam kelas. Guru dan siswa saling beradu argumentasi, kedua-duanya saling mempertahankan pemahaman yang mereka miliki. Masing-masing tidak dapat menjelaskan kebenaran dalam kekiniannya. Sampai dengan berakhirnya pembelajaran, tidak ada kesepakatan yang dapat diambil.

Kasus 3:
Sesaat akan dimulainya pembelajaran, siswa menampilkan mimik ketidaksabaran untuk segera mengikuti proses pembelajaran. Siswa menampilkan kesan seolah-olah menanti sebuah pertunjukkan spektakuler dari seseorang yang diidolakan. Kelas terasa hangat. Begitu pembelajaran dimulai, Guru tampil dengan senyum yang segar, mulai membuka pertunjukkan. Pada bagian pembukaan pembelajaran, Guru menyajikan stimulus yang dikemas sedimikian rupa sehingga memunculkan rangsangan response luar biasa pada diri siswa. Siswa aktif dan kreatif dalam mencari pengetahuan yang hanya diarahkan guru. Siswa seolah-olah yang memegang kendali pembelajaran. Siswa merasa bahwa dia sangat butuh dan ingin menuntaskan kepenasaran dari stimulus yang diberikan guru. Akibatnya, guru tidak perlu bersusah payah menghabiskan tenaga. Guru hanya mengarahkan, melayani pertanyaan, serta menjadi pemberi kemudahan bagi siswa (fasilitator). Pada saat terdengar bel tanda berakhirnya pembelajaran, terdengar suara siswa yang menyayangkan waktu terlalu cepat berlalu. Terasa aroma pembelajaran yang bermakna, dialogis, dinamis, serta bermuara pada pembelajaran yang menyenangkan.
Diskusikan antar peserta :
1. Apa pandangan peserta terhadap setiap kasus tersebut?
2. Manakah diantara kasus tersebut yang pernah dialami?
3. Kasus manakah yang paling ideal terjadi dalam pembelajaran?
4. Bagaimanakah upaya agar pembelajaran ideal tersebut dapat terjadi?

Diharapkan peserta tidak setuju dengan kasus 1 dan kasus 2, dengan pembelajaran yang satu arah, guru mendominasi pembelajaran, guru sebagai pusat pembelajaran, guru sebagai satu-satunya sumber ilmu, tidak ada media pedukung (hanya teori), siswa pasif, siswa bosan, pembelajaran tidak menyenangkan, pembelajaran tidak bermakna, hasil pembelajaran tidak membanggakan.

Diharapkan peserta setuju dan mengidam-idamkan kasus 3. Pembelajaran yang ideal. Guru tidak lagi mendominasi pembelajaran, siswa sebagai subjek pembelajaran, guru kreatif dan inovatif dalam merencanakan pembelajaran, pembeajaran berorientasi kepada kehidupan nyata tidak hanya kepada buku.

Jika dilihat dari perkembangan media yang digunakan dalam pembelajaran di dalam kelas, dapat diurutkan bahwa pembelajaran formal dimulai dari masa blackboard, whiteboard, keyboard, dan akhir-akhir ini telah banyak yang mengembangkan virtualboard. Hal ini dapat dilihat dalam cuplikan film (salah satu) yang dapat diunduh dari YouTube dengan judul MIT Sketching.

Dalam film tersebut Nampak seorang guru dapat mengajar dengan dinamika dan media yang mengarah kepada realistis. Guru menggambarkan objek dipapan tulis (whiteboard) tetapi objek yang digambarkan guru dapat dikendalikan (dihidupkan). Akibatnya, siswa tidak hanya mendapatkan cerita belaka tetapi dapat melihat secara nyata.

Cerita tentang perubahan media pembelajaran dari blackboard hingga virtualboard, dapat dipertegas dengan menampilkan video dari sebuah produsen handphone yang bercerita tentang dunia komunikasi digital yang semakin canggih. Seorang Ibu Guru menjelaskan materi di Jepang dengan menggunakan virtualboard, seorang siswi berkomunikasi dengan Ibunya menggunakan fasilitas ViCon dengan HandPhone.

Agar peserta lebih menyadari bahwa jika belum mulai menggunakan media sebagai alat bantu pembelajaran (sementara di dunia luar telah terjadi perkembangan digital yang semakin canggih), dapat pula disajikan film dari Microsoft tentang Surfacing Computer. Sebuah media computer yang tidak lagi menggunakan keyboard dan layar monitor, melainkan sebuah meja menjadi screentouch sekaligus monitor.

Pembelajaran tidak hanya diselenggarakan di dalam ruang kelas dan pada jam belajar formal. Tidak sedikit pula guru yang telah menyelenggarakan pembelajaran yang tidak hanya dibatasi ruang dan waktu (Modul 1). Sebelum atau setelah pembelajaran di dalam kelas diselenggarakan, guru telah/akan menugaskan kepada siswa untuk mencari berbagai sumber ilmu dengan berbagai cara/media sesuai dengan perkembangan teknologi digital.

Diskusikan antar peserta :
1. Seberapa pentingkah media pembelajaran dibutuhkan dalam menunjang pembelajaran?
2. Media seperti apakah yang paling ideal digunakan dalam pembelajaran?
3. Media apa yang dibutuhkan agar pembelajaran yang dilakukan siswa dapat berlangsung tanpa dibatasi ruang dan waktu?
4. Sesering apakah peserta menggunakan media pembelajaran berbasis TIK?
5. Pernahkan peserta menyelenggarakan pembelajaran tanpa dibatasi ruang dan waktu? Seperti apa yang sudah dilakukan peserta dalam menyelenggarakan pembelajaran yang tidak hanya diselenggarakan di dalam kelas saja?

Paltimer (1991) membandingkan pembelajaran kalkulus yang menggunakan computer dengan pembelajaran konvensional menujukkan bahwa hasil pembelajaran berbasis komputer lebih baik daripada pembelajaran konvensional. Tetapi, tidak setiap pembelajaran harus diselenggarakan melalui pembelajaran berbasis TIK. Beberapa kegiatan pembelajaran masih harus diselenggarakan dengan pembelajaran konvensional.

Diskusikan perbandingan kekuatan (strength) antara pembelajaran konvensional dengan pembelajaran berbasis TIK:

Pembelajaran konvensional Pembelajaran berbasis TIK
- Murah - Bisa menvisualisasikan peristiwa yang
berbahaya, sulit di praktekkan
- Mudah dilaksanakan - Fleksibel (tdk terbatas ruang dan waktu)
- Interaksi antara guru dan siswa lebih cepat

Diskusikan perbandingan kelemahan (weaknesses) antara pembelajaran konvensional dengan pembelajaran berbasis TIK:

Pembelajaran konvensional Pembelajaran berbasis TIK
Kurang bisa mengakomodasi kecepatan belajar siswa Mahal dalam penyiapan infra struktur
Koneksititas jaringan

Peserta menuliskan di kertas karton yang sudah ditempel dan memuat table tersebut. Peserta berdiskusi, mana yang disetujui sebagai hal benar tentang kekuatan dan kelemahan perbedaan antara pembelajaran konvensional dengan pembelajaran berbasis TIK. Jika ada isian yang sama pengertiannya, dirangkumkan menjadi satu pernyataan.


Model Pembelajaran Berbasis TIK:
Teori belajar behaviorisme berpandangan bahwa proses pembelajaran terjadi sebagai hasil pengajaran yang disampaikan guru melalui atau dengan bantuan media (alat). Sedangkan teori belajar konstruktivisme berpandangan bahwa media digunakan sebagai sesuatu yang memberikan kemungkinan siswa secara aktif mengkonstruksi pengetahuan. Kozma (1991) menyatakan bahwa media dapat dibedakan dari teknologi (mekanik, elektronik, bentk fisik), sistem simbolik (karakter alpha-numerik, objek, gambar, suara) serta sarana yang digunakan (radio, video, komputer, buku).

Peserta dibagi kertas yang berisi pertanyaan-perntanyaan di bawah ini. Peserta memberikan respon pada kertas yang dibagikan. Setelah selesai, peserta dapat membacakan respon masing-masing. Setelah selesai, seluruh peserta diajak untuk menarik kesimpulan atas pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Diskusikan antar peserta:
1. Apa pengertian BELAJAR yang Anda ketahui?
2. Teori belajar apa yang pernah Anda ketahui dan pahami?
3. Sebutkan gaya belajar yang Anda ketahui.
4. Adakah hububungan antara kebutuhan media pembelajaran dengan proses pembelajaran dalam meningkatkan mutu hasil belajar?
5. Jika Anda mempunyai kemampuan dalam mengembangkan media pembelajaran berbasis komputer, aspek apa saja yang harus menjadi bahan pertimbangan (persyaratan) dalam pengembangan media pembelajaran yang baik?
6. Jelaskan model pembelajaran berbasis TIK yang Anda ketahui?
7. Pada saat Anda akan mengembangkan media pembelajaran, bagaimanakah urutan proses yang Anda tempuh dalam mengembangkan media pembelajaran hingga siap digunakan?

Kondisi Prasyarat
Banyak siswa merasa mudah memproses informasi yang berbentuk visual, sementara siswa lainnya merasa mudah bila ada suara, tetapi ada pula sebagian siswa yang merasa mudah apabila sumber informasi disajikan dalam bentuk teks (Anderson, 1981).

Pada dasarnya, pembelajaran diselenggarakan dengan harapan agar siswa mampu menangkap/menerima, memproses, menyimpan, serta mengeluarkan informasi yang telah diolahnya. Gardner (1983) mengemukakan bahwa kemampuan memproses informasi itu dalam bentuk tujuh kecerdasan, yaitu (1) logis-matematis, (2) spasial, (3) linguistik, (4) kinestetik-keperagaan, (5) musik, (6) interpersonal, dan (7) intrapersonal. Media yang dapat mengakomodir persyaratan-persyaratan tersebut adalah komputer. Komputer mampu menyajikan informasi yang dapat berbentuk video, audio, teks, grafik dan animasi (simulasi).

Disisi lain, guru memerlukan kemampuan khusus dalam menyelenggarakan pembelajaran berbasis TIK. Selain kemampuan, perlu pula disiapkan perangkat pendukung kegiatan pembelajaran berbasis TIK.

Diskusikan antar peserta :
Dipandang dari berbagai sisi, prasyarat apa saja yang diperlukan untuk penyelenggaraan pembelajaran berbasis TIK?

Diharapkan akan diperoleh kesepakatan tentang :
1. SDM (guru)
2. Perangkat (hardware/software/Silabus/RPP)
3. Kebijakan yang mendukung terselenggaranya kegiatan pembelajaran berbasis TIK

KEGIATAN BELAJAR 2

1. Eksplorasi pengalaman peserta yang telah menyelenggarakan pembelajaran berbasis TIK
2. Diskusi identifikasi berbagai strategi pembelajaran berbasis TIK
3. Pemodelan strategi pembelajaran berbasis TIK
4. Merancang strategi pembelajaran berbasis TIK

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penyusunan strategi Pembelajaran berbasis TIK
1. SDM
2. Infrastruktur
3. Kebijakan

Strategi pembelajaran meliputi :
• Tahap Persiapan ( Analisis kurikulum, Analisis kebutuhan, Desain )
• Tahap Pembelajaran ( Klasikal, Kelompok. Individual)
• Tahap Evaluasi

Diharapkan tersusun beberapa strategi pembelajaran berbasis TIK yang disesuaikan dengan kondisi sekolah


PENUTUP
Komputer sebagai sarana interaktif dapat digunakan sebagai alternative bentuk pembelajaran terprogram (Programmed Instruction) yang dilandasi hukum akibat (Law of Effect). Dalam hukum akibat, asumsi yang diyakini adalah tingkah laku yang didasari rasa senang akan merangsang untuk dilakukan serta dikerjakan secara berulang-ulang (S-R).

Sangat banyak pakar pendidikan yang melakukan penelitian dan berkesimpulan ke arah positifnya pemanfaatan komputer sebagai media bantu pembelajaran. Arnold (1992) menyatakan para guru masih dihadapkan pada suatu ironi bahwa meskipun komputer merupakan media sangat potensial pada proses pembelajaran, akan tetapi masih sedikit yang mau dan mampu menggunakannya. Ketidakmauan dan/atau ketidakmapuan tersebut disebabkan berbagai factor, baik internal (diri guru sendiri) maupun factor eksternal (fasilitas dan kebijakan).

Poin penting yang diharapkan muncul dalam kesimpulan yang ditarik oleh para peserta dan fasilitator adalah :
1. Pembelajaran berbasis TIK sudah saatnya mulai dikembangkan dan digunakan dalam proses pembelajaran.
2. Model pembelajaran yang mendukung kepada pelaksanaan pembelajaran berbasis TIK.
3. Langkah-langkah yang harus ditempuh dalam persiapan, pelaksanaan sampai dengan evaluasi pembelajaran berbasis TIK.
4. Kondisi prasayarat yang harus tersedia agar proses pembelajaran berbasis TIK dapat berjalan.